Jumat, 28 Desember 2012

Bunga Citra Lestari - Cinta Sejati ( Ost. Habibie & Ainun )





Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku

Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah

Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu

Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan

Pasti tahu cinta kita sejati
Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati...

Minggu, 23 Desember 2012

Lukisan Cinta Oik -Cerpen-




‘Oek, oek,oek’ akhirnya bayi itu telah terlahir ke dunia.
“Selamat ya, pak. Bayi anda laki-laki.” Ujar seorang suster.
“Makasih Tuhan, Ih unyu banget deh anak papa. Boleh saya menggendongnya sus?” Pinta Alvin, Ayah dari bayi itu.
“Baiklah, pak.”
Senyuman lega dari semua orang yang berada di kamar itu tak berlangsung lama sampai Sivia kembali mengaduh kesakitan.
“Auh... Dokter perut saya kenapa lagi? Sakit banget ini,”
“Sus, ayo sus. Mungkin saya anaknya kembar.” Mereka bertindak dengan cepat, karena melihat keadaan Sivia yang semakin lemah.
Alvin memberikan bayinya kepada suster yang satunya lagi, ia kembali mendekat ke arah Sivia untuk membantu memberikan semangat.
“Sayang, bertahan ya. Ayolah demi anak-anak kita.” Alvin memegang sebelah tangan Sivia dan menciumnya. “Dok, lakukan yang terbaik dok untuk istri dan anak saya.”
“Pak Alvin sebaiknya berdo’a kepada Tuhan, agar proses ini lancar.” Ujar Suster.
‘Oek, Oek, Oek”  suara tangisan bayi kembali terdengar, menandakan anak keduanya telah lahir.
“Gimana Dok?” tanya Alvin.
“Dia sangat cantik Pak Alvin seperti ibunya. Senyumnya, dia perempuan.”
“Coba saya ingin menggendongnya.” Ujar Alvin dengan senang.
Dokter mengalihkan bayi itu ke tangan Alvin.
“Iya bener. Siv, dia seperti kamu lho Siv.” Sivia hanya tersenyum lemah. Namun ekspresi  muka Alvin berubah saat dirasakannya ada sesuatu yang aneh. “Lho, dok. Kenapa bayi ini tidak bergerak seperti yang laki-laki tadi?” Tanya Alvin mulai sedikit was-was.
“Maaf, anak bapak cacat. Dan ini tidak bisa di obati. Karena anak bapak cacat bawaan.”
‘Jeder’
“Gak mungkin Dokter, gak mungkin anak saya cacat. Dia bukan anak saya.” Alvin mengacak-acak rambutnya.
“Al...” Panggil Sivia lemah sambil tersenyum.
“Sivia, dia bukan anak kita kan?”
Sivia hanya menggeleng dan tersenyum. Lalu matanya tertutup, untuk selamanya. Bunyi monitor yang menunjukkan garis lurus.
Dokter dan suster segera bertindak secepat mungkin. “Dokter Sivia kenapa? Dok, dia kenapa dok?” Alvin terus berteriak panik.
Dokter dan suster telah melakukan yang terbaik, melakukan semaksimal mungkin. “Kami sudah melakukan semaksimal mungkin. Maaf, Pak. Istri anda telah tiada.”
“Sivia.........!!!!! Sayang, kamu nggak boleh pergi. Sivia sayang, kamu hanya tidur kan? Iya, kamu cuman tidur. Hahaha” Setelah terdiam,Alvin beralih kepada kedua bayinya, dan ia memandang Putrinya dengan mata menyala-nyala penuh amarah. Alvin menghampirinya, “Ini semua pasti gara-gara kamu! anak cacat! Kamu harus bertanggung jawab, Sivia istriku mati gara-gara kamu!!”
Sebagai seorang pengusaha ternama, Alvin pastinya malu mempunyai anak cacat. Jadi apapun bakalan ia perbuat demi menjaga kehormatannya.

10 Tahun kemudian

“hiks, hiks... ampun Pa, ampun. Oik nggak bersalah Pa, enggak. Ampun Pa,” Mohon seorang anak perempun.
Alvin menyeretnya masuk ke dalam kamar mandi. “Kenapa sih, kamu selalu aja bikin masalah!! Mama kamu mati, itu semua gara-gara kamu! iya kan? Lalu sekarang kamu mau merusak pesta Ulang Tahun kakakmu, Cakka? Iya, Jawab!!!” Alvin terus mengguyur Oik dengan air, ia menjambak rambut Oik, “Denger ya, ini akibat kamu keluar dari kamar!” Alvin menoyornya.
“Pa, tapi Oik pingin ikut pesatanya kak Cakka. Ini juga hari Ulang Tahun Oik, pa” Oik terus menangis. Gaun pestanya sudah basah kuyup,
“Mbok!!!!”
“Iya Tuan,”
“Kamu pembantu apaan sih? Disuruh jaga anak kecil aja gak becus! Sekarang biarkan dia di situ! Jangan kasih makan, salahnya sendiri!” Setelah itu Alvin meninggalkan tempat itu.
“Non Oik, “ Simbok masuk ke kamar mandi dan langsung menghambur ke dalam pelukan Oik. “Non, non kenapa bisa begini?” tanya Simbok.
“mbok, kenapa papa benci banget sama Oik? Papa nggak sayang sama Oik. Apa Oik bukan anak papa?” Tanya Oik di sela-sela tangisnya.
“Sttt.. non nggak boleh ngomong seperti itu. Tuan Alvin itu, papa non Oik sama den Cakka.”
“Mbok maafin Oik ya, karna udah bandel. Nggak mau dengerin nasihat mbok buat nggak turun.”
“Itu bukan salah non Oik kok, lagian non itu juga berhak berada di bawah, dan ikut pesta bareng den Cakka dan teman-temannya.” Simbok mengusap-usap rambut Oik.
“Tapi temen-temen kak Cakka pada ngejek Oik,”
“Ya sudahlah. Non jangan nangis terus, senyum. Happy Birthday non Oik.” Ujar simbok.
“Makasih ya mbok, J
“Ayo, non kita balik aja ke kamar. Bibi bantu berdiri.”
Simbok membantu berdiri Oik, setelah bisa berdiri tegap, barulah ia memberikan kruk itu pada Oik.

-Keesokan Harinya-
“Kak Cakka, kakak mau kemana?” tanya Oik di pagi hari itu.
“Kakak mau ke luar negeri,” Ujar Cakka sambil tersenyum.
“Oik ikut ya kak?” minta Oik.
“Iya, Oik ikut kok.” Cakka mengacak rambut adeknya.
“Oik mau minta kado apa dari kaka?” tanya Cakka.
“Oik pingin kotak musik, kak” J
“Ya sudah, nanti kakak beliin.”
Waktu Cakka dan Oik sedang asyik-asyiknya bermain di ruang tamu, tiba-tiba saja Alvin datang.
“Cakka ayo kita pergi sekarang!”
“Iya, Pa.”
“Pa, Oik ikut kan?” tanya Oik berharap.
“Kamu? kamu di sinilah!” Uajr Alvin kasar.
“Tapi, pa? Bukannya kita mau tinggal di luar negeri lama? Masak kita ninggalin Oik sih?” tanya Cakka.
“Cakka, kamu kan mau sekolah di sana. Kalau ada dia, pasti semuanya berantakan.” Alvin berubah menjadi lembut saat berbicara dengan Cakka.
“Pa, Oik ikut. Oik nggak mau di sini sendirian, Oik mau ikut Kak Cakka.”
“Ya sudah sekarang kamu ke atas dulu!”
Mata Oik berubah menjadi berbinar-binar.
“Beneran pa?” Alvin hanya mengangguk, Dengan rian Oik pun naik ke atas dibantu dengan kruk yang hanya sebelah itu.
“Pak Min, sudah siap semuanya? Kita berangkat sekarang, Oh ya, ini ada uang. Tolong kamu beri rumah, aku titip Oik di situ. Jangan pernah pernah pake rumah ini! Pokoknya jangan sampai ada yang mengetahui rumah itu. hanya kamu saja!”
Alvin menuju ke mobilnya diikuti Cakka dibelakangnya. “Lho, Pa. Kita Oiknya dulu dong. Tadi katanya Oik juga ikut?” tanya Cakka memberhentikan langkahnya.
“Kelamaan. Kita sudah ditunggu pesawat Cakka. Kamu nggak mau kan? Ntar papa beliin semuanya deh.”
Saat mendengar deru mobil, Oik tertegun. Oik langsung turun ke bawah. Mencoba secepat mungkin berjalan,
“Kak Cakka!!! Papa!” namun saat sudah berada di depan Alvin dan Cakka sudah berada di dalam mobil, “Pa, kak Cakka!” Oik terus berlari dengan airmatanya yang berlinang, namun ia di tahan Pak min. Sampai mobil itu melesat.
“Pak min, kenapa mereka ninggalin Oik?”
“Non, ikut bapak ya. Kita beli mainan yang banyak.”
“Nggak Pak, Oik maunya sama Kak Cakka.”
“Ayo! Cepetan!” Pak min berubah menjadi kasar.
“Min, mau dibawa ke mana non Oik.?” Tanya Simbok.
“Diem aja loe!”

***
10 tahun kemudian

Di sebuah sanggar lukis, di situ banyak sekali Lukisan-lukisan yang cantik dan indah. Sepertinya sang pelukis penuh dengan cintanya saat melukis, sehingga mampu melahirkan karya seindah ini. Tak lupa di bawahnya tertulis nama –Oi’ CS-
Di sudut lain sanggar itu, seorang gadis tengah duduk di tempat seperti padepokan, ia tengah melukis. Tiba-tiba saja dari belakang ada yang menutupi matanya.
“Hayo tebak, coba!”
“Ini siapa? Obiet?” saat tangannya menyentuh tangan orang yang menutupinya, “Acha?”
“Ya, ketahuan deh.” Gadis itu melepaskan tangannya. “Kamu tahu nggak, Ik? Aku punya kejutan lho buat kamu, dan sanggar ini.” Acha tersenyum misterius.
“Kejutan apa, Cha?” tanya Oik mengernyitkan dahinya.
“Mau tahu? Apa ya?”
“Iya, ih Acha nyebelin banget deh. ayo cepetan!”
“Iya, iya. Sanggar kita direkomendasikan untuk mengikuti pameran! Yeeyyyyy!!!” Dengan hebohnya Acha menjelaskannya.
Oik masih saja mematung tak habis pikir, “Masak?’
“Iya beneran. Dan semua lukisannya adalah lukisan kamu, Oik CS.”
“Yeyy... akhirnya Cha, sumpah aku nggak percaya.” Acha dan Oik pelukan.
Tiba-tiba saja seseorang datang. “Woy, pada ngomongin apa kalian?” Orang itu langsung mengambil alih duduk di dekat Oik.”
“Eh, Obiet, ngagetin aja. Itu sih Oik mau ikut pameran.” Acha melirik Oik dengan senyum menggoda, sedangkan Oik yang dilirik begitu hanya tersenyum malu-malu.
“Wah, selamat Ik. Kalau begitu J
“Oh ya, ini kan sudah sore. Pulang sekarang aja yuk.” Ajak Oik.
Acha dan Obiet hanya mengangguk, dan mereka semua merapikan tempat itu.

Mereka bertiga berbeda jurusan pulang. Setelah salam perpisahan, kini giliran Oik sendiri berjalan, dan ia menengak-nengok untuk melihat jalan. Dengan kedua tangan kirinya membawa map dan tas, sedangkan tangan kanannya memegang kruknya.
Saat Oik akan menyeberang tiba-tiba saja ada sebuah truk yang melaju dengan cepat dari arah kanan.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaa............!!!!”
‘Bruuukk’

Suara sirene ambulance memenuhi koridor rumah sakit. Dengan gerakan Cepat sang suster membawa korban kecelakaan ke dalam memasuki UGD.
“Dok, tolong selamatkan anak itu dok. Berapapun biayanya dok,” Ujar sang sopir.
“Iya, Pak. Bapak berdo’a saja. Permisi”
Karena di kepala Oik mengalami pendarahan, akhirnya Dokter menyarankan untuk melakukan operasi besar di otaknya.
Dokter dan suster masih saja bekerja keras untuk melalukan operasi itu.
Oik selamat dan  kini masih berada di ruang ICU karna dia belum juga sadar.
“Gimana Pak, keadaan teman saya?” tanya seorang gadis.
“Teman kamu masih di ruang ICU.” Acha segera kemari setelah tadi ia dihubungi oleh pihak rumah sakit yang menemukan no. Acha di HP Oik.

Karena keajaiban Tuhan, Oik kini sudah bekerja seperti biasanya. Tapi keadaannya masih harus dipanatau. Kadang Acha atau Obiet mengantarnya chek up, kadang juga ia sendiri.
Saat Oik pulang ke rumah, seperti biasanya. Bau alkohol menyambutnya. “eh, loe udah pulang. Gue minta uangnya lagi.”
“Lho, bukannya bulan kemarin Papa udah ngirim uang?” tanya Oik memprotes.
“Loe begok atau apa sih? Ya jelas kuranglah, uang kemarin itu habis juga gara-gara loe bocah sialan.!” Ujar Pak Min dengan keadaan mabuknya. Namun Oik tak menghiraukannya, ia segera pergi dari tempat itu dan menuju ke kamarnya.
“Shit..” maki Pak Min.
Begitulah keseharian yang dilakukan Pak Min, uang kiriman dari Alvin disalah gunakannya hanya untuk berjudi dan minum-minuman. Untungnya Oik masih punya sanggarnya, dan beberapa perabotan rumah tangga sudah terjual untuk melunasi hutang-hutang hasil berjudi itu.
***
Rumah yang berdiri kokoh dan mega di hadapannya itu kini terlihat sepi. Seorang Pria keluar dari mobil sportnya dengan menenteng tas di punggung dan koper.
‘ting,tong,ting,tong’
Tak lama kemudian pintu itu terbuka, muncul wanita paruh baya dari dalam. Sesaat wanita itu tertegun.
“Mbok,”
“Den Cakka.... ini beneran den Cakka?” tanya wanita yang dipanggil simbok itu tak percaya.
“Iya, mbok. Ini Cakka. J” Wanita tadi langsung menghambur ke pelukan Cakka.
“Aden kapan pulang? Kok nggak kasih kabar sama mbok? Mbok kangen tahu sama aden.” Simbok menangis bahagia. 
“Cakka juga kangen sama simbok, sama Oik juga.” Ujar Cakka, “Lho, Oik mana mbok? Ada di dalam ya?” pertanyaan Cakka membuat simbok diam,
“Maaf, den. Simbok nggak bisa tahan non Oik di sini, Pak Min, membawanya entah kemana.” Ujar simbok lesu.
“Sejak kapan mbok?” tanya Cakka lagi, kini senyumnya sudah menghilang. Hanya kekhawatiran seorang kakak yang kini menghiasi wajahnya.
“Sejak setelah kepergian Tuan dan Aden pergi waktu sepuluh tahun yang lalu.”
“Simbok tahu nggak? Alamat rumah Pak min?”
“Pak Min, sudah tak tinggal lagi di rumahnya yang dulu. Dan sampe sekarang simbok nggak ketemu mereka lagi.


Oik masih menata lukisan-lukisan itu di dinding saat seseorang bertanya, “Mbak, apakah lukisan ini di jual?” tanya orang itu. lebih tepatnya Pria itu.
“Iya, mas. Bentar,” karna letak pakunya terlalu tinggi, maka Oik harus berjinjit dengan sebelah kakinya, itu sudah kebiasaan Oik namun kali ini keseimbangannya sedikit kurang yang membuat ia jatuh. “Aaa...”
‘Hap’
Oik jatuh dalam pelukan Pria itu. Saat Oik membuka matanya, matanya bertatapan langsung dengan mata dihadapannya. Dan kini hati Oik merasakan desiran, ia tersadar.
“Eh, maaf. J” Oik menjauh dan mengambil kruknya.
“Iya, nggak apa-apa. Lain kali hati-hati ya.” Pria itu berumur sekitar 20an sama seperti Oik, dengan potongan rambutnya yang menambah ketampanannnya. “Oh, ya. Lukisan ini dijual nggak?” tanyanya.
“Sebenarnya sih...”
“Dijual kok, iya nggak Ik?” tiba-tiba Acha muncul sambil membawa beberapa lukisan lagi. “Udah jangan malu-malu, itu pelanggan pertama kita Lho.” Bisik Acha sambil terkikik. Kemudian ia tersenyum kepada pelanggannya. “Ya udah kalian ngomongin dulu deh, gue mau naruh ini.” Setelah pamit, Acha pun pergi.
Setelah bernego, akhirnya lukisan itu kini menjadi milik Cakka. Cakka tersenyum dengan puas ketika memajang lukisan itu di dinding rumah yang telah ditinggalnya lama.
“Beres. Eh, tunggu. Kok seperti ada yang kurang ya?” Cakka mencoba mengingat-ingat kembali.”Ah, iya. Gue belum kenalan sama tuh cewek. Tadi temennya manggil Ik, ik siapa ya? Apa Oik? Oik juga suka melukis. Ah udahlah, besok mending ke sana lagi.”
“Ekhm...” Deheman itu mengagetkan Cakka dari gumamannya.
“Eh, Papa. J gimana Pa, sama perusahannya?” tanya Cakka dengan senyuman mengembang.
“Baik, lancar-lancar saja. Kamu sudah siap Kka? Buat gabung di perusahaan.”
“aku usahain. J” Cakka,
“Hahahaa...” Mereka tertawa bersama. “Udah sana tidur. Udah malam.”
“Siap Boss” Cakka hormat, seperti saat upacara.
***
Oik kini sudah tidak melakukan chek up lagi ke Rumah Sakit, karena ia tak mampu untuk membiayainya.
Akhir-akhir ini Oik mimisan kalau ia mengalami kecapean. Seperti saat ini, Oik mengusap hidungnya menggunakan tissue,
“Oik, kamu kenapa?” Tanya Acha khawatir saat melihat Oik mimisan.
Oik mendongak dan tersenyum, “Enggak apa-apa Cha, mungkin aku kecapean aja.”
Acha mengambil alih kuas Oik, “Biar kamu lanjutin besok aja ya. Mending kamu pulang aja gih, terus istirahat.” Acha mengemasi perlengkapan lukis Oik. Oik hanya mengangguk.
“Mau aku yang nganter, apa Obiet?” tanya Acha.
“Aku bisa pulang sendiri kok, Cha. Kamu sama Obiet jaga di sini aja,”  Oik meraih tas dan tongkatnya, “Aku pulang duluan ya, Cha.”
“Iya, hati-hati ya Ik!”
 Tak lama setelah Oik pergi, Cakka datang. Acha menoleh dan tersenyum.
“Eh, mas yang kemarin ya?” tanya Acha.
“Iya. Eh....”
“Mau cari Oik ya? Oiknya baru aja pulang tuh,”
‘Tapi dia Oik bukan yah?’ Cakka mengernyit. “Oh, ya sudah. Kalau gitu besok aku ke sini lagi aja,”
***
Akhirnya Cakka ketemu juga dengan Oik. Cakka menunggu sampai Oik selesai bekerja, kadang ia membantu di sanggar itu.
“Kamu sejak kapan suka sama melukis?” tanya Cakka waktu mereka duduk-duduk di taman dekat sanggar.
“Aku juga nggak tahu, dari kecil aku sudah suka melukis. Entah mengapa, aku selalu ingin melakukannya.”
“Aku jadi ingat saudara kembarku. Tapi aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Apa kamu Oik...” Ucapan Cakka menggantung.
“Kak Cakka?”
“Oik?” mereka berdua saling menatap dengan kerinduan di dua bola matanya.
Cakka memeluk Oik sangat erat, seolah-olah ia tak ingin melepaskannya. Mereka berdua larut dalam kerinduan itu.
“Gimana kabarnya papa, kak?” tanya Oik.
“Kenapa kamu masih mengingatnya, Ik?” tanya Cakka heran.
“Ya, bagaimana pun juga dia kan papa aku.”
‘Kakak bangga Ik, sama kamu. walaupun papa sudah berbuat buruk sama kamu, tapi kamu masih mau menganggap papa sebagai orangtua kamu.’
***
“Pa, aku sudah bertemu sama Oik. Dia tumbuh jadi gadis cantik Pa, dia melukis di sanggarnya. Apa papa nggak mau ngajak Oik tinggal di sini lagi sama kita?” Cakka berkata penuh binar.
“Kamu jangan merusak suasana papa deh, Kka” Alvin melengos.
“Tapi pa,..”
“Kamu mending siap-siap gih sana! Papa mau ngenalin kamu sama teman lama Papa.”
Dengan ogah-ogahan Cakka menuruti perintah Papanya.

“Wah, anakmu sekarang sudah besar ya Vin.”
“Iya, dia cakep lagi. Kamu kasih makan apa dia? kok bisa kayak gini. hahaha...”
“Iya dong, siapa dulu papanya. Alvin Sindunata.” Alvin menyombongkan dirinya.
“Namamu siapa nak?”
“Cakka tante,”
Sepanjang malam ini, Cakka tak bisa berkonsentrasi dengan acara makan malam itu. Pikiran Cakka hanya tertuju kepada Oik, sudah makankah dia? Rahang Cakka mengeras, saat tadi ia bertemu dengan Pak Min, di rumah itu disulap menjadi tempat perjudian.

***
Pagi hari saat Oik akan berangkat, tiba-tiba saja langkahnya di stop Pak Min.
“Eh, cewek sialan. Kenapa loe nggak bilang-bilang kalau Bapak loe itu sudah pulang! Kalau gitu kan, loe bisa minta uang ke dia. dengan alasan, loe lagi butuh buat biaya loe!” Pak Min memaki Oik.
Oik hanya menunduk. “Oik nggak mau ngerepotin Papa sama Kak Cakka, Pak.”
“Loe bener-bener anak sialan ya! Pantes bapak loe nggak mau ngakuin loe! dasar cacat, sukanya nyusahin orang saja.”
‘Plaakkk.’ Satu tamparan mengenai pipi mulus Oik,
Oik memegangi pipinya, di mulutnya sudah keluar darah. Tiba-tiba saja ia merasakan kesakitan di bagian kepalanya. Namun Pak Min tidak berhenti untuk menganiaya Oik.
Seketika Oik kehilangan kesadaran dan dirinya ambruk.
‘Hap’
Tepat saat itu seseorang menangkapnya. “Eh, loe apain adek gue!”
“Den Cakka, eh non Oik  tadi bandel,”
“Alah, nggak usah ngibul deh loe. Awas aja loe kalau sampai terjadi apa-apa sama dia. tunggu balesan gue!”
Cakka langsung membopong Oik menuju ke mobilnya. Dia melesat menuju ke RS.

Cakka duduk di hadapan Dokter, dokter itu bernama Rio.
“Gimana keadaan adek saya, Dok?” tanya Cakka.
“Kami belum bisa mendiagnosa apapun. Mungkin itu akibat dari Operasi Otak yang pernah di jalani Oik.”
“Apa, Dok? Operasi Otak?”
“Iya, Oik dulu pernah mengalami kecelakaan, korban tabrakan. Tapi setelah itu, dia hanya chek up beberapa kali saja. Orangtuanya yang menandatangani pemeriksaan itu, karena ia tak punya biaya.”
“Maksud anda itu Pak Min? Dia bukan orangtua kami, dia sopir.”
“Dan sepertinya Oik harus menginap di sini untuk melakukan beberapa tahap tes.”
“tolong lakukan yang terbaik dok untuk adek saya! Berapapun biayanya” Mohon Cakka.
“Baiklah Cakka. Kami akan usahakan.”
“Makasih dokter,”
Cakka keluar dari ruang dokter.

Sesampainya di rumah itu, Cakka langsung menggebrak pintu, sampai pintu itu jebol. Dengan emosi yang meluap-luap.
“Amin!!! Keluar loe sini!” Teriak Cakka. “Amin.....!!!!”
Amin yang sedang bermain judi dan di sampingnya ada seorang wanita langsung berdiri. “Aden? Ada apa ya?” tanyanya sok polos.
“Alah, nggak usah sok polos segala deh loe.” Cakka mencengkram kerah baju Amin, “Kenapa loe nggak bilang ke Papa kalau Oik kecelakaan! Dan pernah melakukan operasi besar pada otaknya. Jawab!! Kemanain uang yang tiap bulan Papa kirim, loe embat buat kayak ginian hah?!!” Cakka menonjok muka Pak Amin.
“Pergi loe semua!!! Inget ya, ini bukan rumah perjudian!!” Cakka mengusir semua orang yang ada di situ. Dan menendang kursi dengan keras, matanya penuh dengan kemarahan.
Semua orang lari terbirit-birit dan ketakutan. Cakka melayangkan tinjunya ke Amin berkali-kali, sampai Polisi datang dan menangkap Amin.
Setelah semua urusan beres, Cakka kembali ke rumah sakit untuk menemani Oik.

“Dek, bangun dong. Jangan tinggalin kakak... Katanya mau kado Ulang Tahun dari kakak?” Sebutir air mulai turun dari matanya. “Maafin kakak sama Papa ya,”
Tiba-tiba saja tangan Oik bergerak, matanya mengerjap.
“Oik, kamu sadar?” tanya Cakka sedikit senang.
“A..aku dimana kak?” Oik memandang kesekelilingnya.
“Kamu ada di rumah sakit. Udah kamu istirahat dulu, biar kakak panggilin dokter.”
Cakka berlari keluar, tak lama kemudian Dokter Rio dan suster datang untuk mengecek keadaan Oik.
“Kamu sudah baikan Oik?” tanya dokter.
“Udah dok, kira-kira kapan aku pulang ya?” tanya Oik.
“Kamu harus menginap dulu untuk melakukan ronsen. Jaga kesehatan kamu ya, jangan terlalu capek.”
Oik hanya mengangguk tersenyum lemah.
***
Setelah selesai melakukan berbagai tahap pemeriksaan, Oik sudah di bolehkan pulang. Tapi Oik kini pulang ke rumahnya yang dulu, betapa rindunya Oik.
“Kak, makasih ya.” Ujar Oik.
“Kamu nggak usah sungkan gitu.” Saat ini mereka duduk di teras depan rumah. “Oh, ya. Tunggu sebentar, aku punya sesuatu.” Cakka masuk ke dalam rumah, dan kembali dengan membawa sekotak benda dengan kertas kado menyelimutinya.
“Ini buat kamu.” Cakka mengangsurkan kotak itu,
“Ini apa?”
“Udah buka aja!”
“Ya udah deh aku buka.” Oik membuka kertas kado, dan membuka kotaan itu. Sebuah benda berbentuk hati berwarna merah kini sudah berada di tangannya. “Wah... bagus banget, kakak masih ingat sama ini?” tanya Oik tak percaya.
“Iya dong. Itu kan permintaan dari adekku tercinta :D” Cakka tersenyum. Dia senang melihat Oik bahagia.
Oik membuka kotak musik itu. terdengar sebuah nada yang biasa dipakai untuk tarian balet mengalun, dan seorang balerina menari-nari di atas kotak tersebut.
“Makasih ya buat kadonya. Aduh, Oik jadi bingung nih mau kasih kado apa?”
“Nggak usah juga nggak apa-apa. Oh, ya Ik. Aku punya teman di USA, mereka kakak beradik kembar. Namanya Ray sama Ozy. Gokil banget deh mereka berdua. Ray itu adiknya. Kata mereka, anak kembar itu yang jadi kakak sebenarnya yang keluar terakhir bukan yang pertama, karena dia tidak mau membiarkan adiknya terluka, merasakan sesak lebih lama di dalam kandungan, maka dia akan mengorbankan agar adiknya lahir duluan. Seperti kamu Oik, kamu dari dulu selalu melindungi aku, selalu menjagaku dari marahan Papa karena aku bandel, jadi yang lebih pantas jadi kakak itu kamu.” Cakka mengacak rambut Oik.
Oik meneteskan airmatanya saat mendengar cerita Cakka. Lalu Cakka memeluknya. “Kak Cakka juga, selalu ngebela Oik.” J
***
“ada Tumor yang tumbuh di kepala Oik.”
“Apa ini gara-gara operasi itu dok?” tanya Cakka was-was.
“Bisa jadi begitu. Tumor yang diderita Oik tumbuh dengan pesat, dan kita harus melakukan operasi secepat mungkin. Agar tumornya tidak menyebar.”
“Lakukanlah dok,”
“Tapi sayang, karna tumor Oik sudah menyebar keseluruh otaknya. Kalaupun operasi harapan hidupnya sangat tipis. Kami sudah tidak melakukan apa-apa. Hanya obat-obatan yang bisa menghambat pertumbuhannya, tapi bukan menghilangkannya.” Dokter menghela napas. “Seharusnya waktu Oik pertama mimisan, ia segera di bawa ke sini.”
Dokter Rio menepuk pundak Cakka. “Berdoalah, agar Tuhan memberikan keajaiban kembali pada dirinya.”

Namun keadaan Oik bukannya membaik kini malah memburuk. Oik sudah tahu tentang penyakitnya itu, dan Oik akan menyelesaikan projeknya secepat mungkin.
Oik terus menggerak-nggerakkan kuasnya di atas kanvas dengan hati-hati dan sangat mendetail. Ia tidak mau terjadi kesalahan sedikit pun dengan lukisannya kali ini. Mungkin lukisan ini akan menjadi lukisan terakhirnya.
“Oik... Ik,”
Seseorang memanggilnya. Dan Oik harus segera menutupi lukisannya.
“Kamu di sini? Aku cariin kemana-mana juga. ayo kita makan malam.” Ajak Cakka. Sesaat Cakka melirik ke arah lukisan yang tertutup kain. Ia memikirkannya.
“Ayo”
Oik berpapasan dengan Papanya. “Pa, ayo makan.” Ajak Cakka. Oik hanya mencoba untuk tersenyum kepada Papanya.
“Kalian dulu saja.” Ujar Papanya. Namun Alvin hanya diam saat melihat ke arah Oik.
Alvin semakin menyibukkan diri dengan pekerjaannya, sejak Oik tinggal di situ. Ia rindu dengan Sivia.

Malam ini Oik lembur lagi, sampai ia kembali mimisan. Saat Oik menunduk ingin mengambil warna merah, darah dari hidungnya mengalir dan jatuh menetes ke wadah cat. Oik tak sadar kalau yang digunakannya untuk mengecet itu darahnya bukan cat merah.
Oik terus memaksakan dirinya untuk terus melukis, ia sangat berharap lukisan itu akan segera terselesaikan sebelum waktunya tiba. Yang hanya menghitung hari lagi. Fikirnya.
Oik kesal sendiri saat ia tak pernah bisa untuk melukis seseorang yang sangat ia cintai dan kagumi, namun ia tak pernah bisa menggambarnya. Ia sangat berhati-hati untuk menggambar orang itu, pokoknya harus perfect.
Oik menutupi kembali lukisan belum jadinya dengan kain. Dan keluar dari ruangan itu untuk menuju ke kamarnya. Namun lagi-lagi ia bertemu dengan Papanya. Kali ini tak ada Cakka di sampingnya.
Oik menunduk, tak berani menatap sosok itu.
“Belum tidur?” sapanya. Walaupun singkat dan masih terdengar dingin, namun Oik sangat senang. Oik langsung mendongak dengan hati-hati.
“Belum,... Pa. Pa.. Papa belum tidur?” tanya Oik sedikit terbata karena gugup.  
“Nanti. Kamu tidur sana, sudah malam.”
“Iya, Pa.”
Sepanjang malam itu Oik terus tersenyum, karena ia bahagia. Papanya menyapa dirinya, hal yang sangat mustahil.
***
Sudah satu bulan dan lukisan itu akhirnya sudah jadi dengan sangat puas Oik memandangnya. Oik menutupinya, saat mau melangkah, pandangan Oik kabur.... keringat sangat deras mengucur di dahinya. Rasa sakit itu kini hadir kembali, dan ia mimisan. Oik mengusap hidungnya yang berdarah.
Sesaat semuanya berubah menjadi gelap.

Suara ambulance lagi-lagi memenuhi koridor rumah sakit, beberapa suster dan dokter bergerak cepat.
Cakka terus memegangi tangan Oik. “Oik, jangan tinggalin kakak. Bangun, Ik!”
Cakka ditahan oleh suster. “Maaf, mas. Tolong tunggu di luar.”
“Tapi, sus. Saya kakaknya.” Cakka memberontak.
“Iya. Tapi sebaiknya anda tunggu di luar. Kami akan melakukan yang terbaik.” Cakka pun mengalah,
Cakka terlihat sibuk mencari nomor Papanya dan ia menghubunginya. “Shit!” Cakka menggeram saat operator telepon yang berbicara.
“Papa kemana sih? Anaknya lagi sekarat juga. Bisnis terus!!” Cakka mengacak rambutnya frustasi.

“Saat ini keadaan Oik sudah sangat parah, padahal kemarin kesehatannya sudah membaik.” Ujar Dokter Rio.
“Iya, dok. Saya juga sempat merasakan itu.”
“Orangtua kamu kemana?” tanya dokter lagi.
“Taulah dok, anak lagi sekarat yang di urus cuman bisnis.”
“Tolong hubungi orangtuamu tentang keadaan adikmu.” Dokter Rio menyarankan,

Cakka memasuki ruang rawat inap Oik dengan menggunakan baju steril. Oik kini sudah sadar, gadis itu sedang memandang keluar jendela dipangkuannya ada kotak musik yang masih di putar.
“Oik,”
“Kak Cakka?”
“Iya, ini aku, Ik. Kamu sudah mendingan kan? Aku suapin makan ya?” tawar Cakka.
“Nggak ah, Oik nggak mau.” Oik menggeleng. “Kak, Oik sayang Kakak. “
“Iya, Ik. Kakak juga sayang sama kamu.” Cakka tersenyum, walau hatinya pedih melihat keadaan Oik.
“Oik sayang sama Papa.” Ucap Oik lirih.
Walaupun Cakka masih bisa mendengarnya, ia tak bisa menjawab apa-apa.
Cakka menyeka airmatanya. “Ik, kakak suapin ya.” Cakka mengalihkan perhatian.
“Oik pingin di peluk Papa, Oik juga pingin di cium papa.” Oik terus berkata dengan lirih.
“Iya, Oik. Iya.”
Oik menoleh ke arah Cakka, ia mengusap airmata Cakka. “Kak Cakka, kenapa nangis? Yah.. gantengnya ilang deh J” dalam keadaan kayak gini, Oik masih bisa melawak.
“Kakak nggak nangis kok, tadi kelilipan.” Ujar Cakka ikutan tersenyum.
Namun senyum Oik menghilang, “Kenapa Papa selalu menyalahkan Oik? Apa gara-gara Oik cacat? Atau karna mama meninggal karna melahirkan Oik? Kalau gitu tadinya Oik nggak usah lahir aja sekalian kak, biar mama masih terus hidup diantara kalian dan Papa tersenyum kembali. Kalau hidup Oik hanya beban bagi Papa, Oik nggak dilahirkan. Oik sayang sama Papa, sama Kak Cakka.”
Cakka hanya bisa memeluk Oik di sela, tangisnya. Oik tertidur dalam pelukan Cakka. Cakka mengecup keningnya dan membaringkan Oik. “Kakak juga nggak mau gini, Ik. Kakak juga akan memilih seperti kamu kalau akhirnya Papa kayak gitu. Kalau kamu nggak lahir, mending kakak juga nggak usah lahir. Ini semua bukan salah kamu, tapi salah Papa.”
Cakka mengambil kotak musik itu dan menaruhnya di atas meja. Cakkka membiarkan kotak musik itu terbuka, dengan balerina yang terus menari dan lagu yang diulang-ulang.


Cakka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di Kantor papanya, semua pegawai memberinya hormat. Namun hormat itu tak ia hiraukan, Cakka terus berjalan.
“Maaf Pak Cakka, Pak Alvinnya sedang ada rapat di dalam.” Ujar sekertaris Alvin.
“Panggil Pak Alvin sekarang juga,”
“Tapi Pak..”
“Ah udahlah biar saya saja!!” Cakka membuka pintu rapat dengan kasar. Semua orang menoleh padanya, terutama Alvin. Yang terlihat malu sama kliennya.
“Maaf, Pak Alvin. Pak Cakkanya terus ngotot.” Ujar sekertaris tadi.
Alvin menghampiri Cakka. “Ya udah. Kamu apa-apaan sih?”
“Oh, jadi papa nyalahin Cakka. Seharusnya Cakka yang marah sama Papa, Papa apa-apaan sih? Anaknya lagi sekarat juga, masih aja yang nompr satu Perusahaan. Aku kecewa Pa, sama Papa.”
“Cakka, ini semua juga buat kamu nak.” Alvin mencoba lembut,
“Tapi ini bukan buat Oik Papa!” Bentak Cakka. “Aku nggak butuh semua ini, kalau akhirnya Oik kesakitan. Dari awal aku nggak mau ikut sama Papa pergi ke USA. Ini semua salah Papa, Oik jadi kayak gini!!”
“Cakka kamu dengar Papa, Papa yang lebih sakit. Mama kamu meninggal karna dia!”
“Itu semua bukan Salah Oik Pa, tapi takdir yang membuat mama meninggal. Papa kecewa kan karna Oik cacat? Papa malu punya anak cacat!!” Tegas Cakka,

Sedangkan di kamar Oik, gadis itu masih saja tidur. Wajahnya terlihat damai, suara monitor yang beradu dengan lagu dari kotak musik terus mengalun. Namun tiba-tiba saja angin berhembus dan kotak musik itu tertutup, diiringi bunyian panjang dari monitor detak jantung Oik. Menandakan juga telah tertutupnya mata gadis itu untuk selama-lamanya.
Di sepanjang koridor Rumah Sakit terdengar derap langkah panjang-panjang. Mereka semua bergerak dengan cepat.

Terlihat Cakka sedang duduk di bangku dengan menunduk.
“Gimana Kka, dengan keadaan Oik?” tanya Alvin.
Cakka mendongak, menatapnya penuh menyala. “Merasa bersalah, Pa?” sindir Cakka yang masih terduduk.
“Maafin, Papa nak. Papa baru tersadar.”
“Memang. Memang orang-orang tak salah, penyesalan selalu datang belakangan. Kenapa nggak dari dulu Papa gini? Oik nggak harus menderita terlebih dahulu kan?”
“Maafin Papa. Oik gimana?”
“Lihat aja di dalem.” Cakka berdiri dan melangkah pergi.
Alvin masuk ke dalam ruangan, di dapatinya suster yang masih membersihkan alat-alat medis yang menempel di tubuh Oik.
“O... Oik... Suster, apa itu Oik anak saya?” tanya Alvin.
“Iya, Pak. Ini Oik.” Suster tersebut pergi.
“Oik... maafin papa nak. Maaf untuk selama ini, Papa baru sadar. Kamu lebih berharga dari apapun, terutama bisnis. Papa baru sadar kenapa mamamu lebih memilih untuk melahirkanmu daripada membunuhmu. Maafin papa sayang.”

Setelah pemakaman. Cakka memasuki ruangan melukis Oik, ia masih penasaran dengan apa yang di lukis Oik selama ini.
Cakka membuka kain, betapa cantiknya lukisan itu. Oik kecil yang memegang kotak musik, namun di situ tidak ada lagi tongkatnya. Oik diapit dirinya dan Papanya, dengan sayap dipunggung.


Hari ini Cakka diresmikan bekerja di perusahaan Papanya.  Tak ada lagi amarah dan dendam. Papanya kini sudah mau menerima Oik sebagai anaknya walaupun terlambat.
Kini dihadapan semua client-clietn penting dan pegawainya, dan beberapa wartawan dari stasiun TV terkenal turut hadir.  Alvin memperlihatkan sebuah lukisan yang sempurna itu. lukisan dengan disampingnya bertuliskan –sayang Papa, Kak Cakka-
Dengan bangga, Alvin menceritakan tentang Oik. “Dan inilah karya terakhir Oik, anak saya.” Airmata Alvin turun dengan cepat ia menghapus, digantikan dengan senyuman. “Saya tegaskan kembali, anak saya bukan hanya Cakka Sindunata, tapi juga Oik Sindunata. Selamat tinggal Oik, Kami semua sayang sama kamu.” Cakka ikutan tersenyum di samping papanya, sesekali menghapus airmatanya.
Semua yang hadir di ruang rapat itu juga ikut tersenyum, dan sesekali ikutan menghapus airmata yang mengalir. Sorotan kamera, dan beberapa blitz foto menyorotnya, Cakka dan Alvin.

SELESAI



Sabtu, 22 Desember 2012

Bunda - Melly Goeslaw


kubuka album biru
penuh debu dan usang
ku pandangi semua gambar diri
kecil bersih belom ternoda

pikirkupun melayang
dahulu penuh kasih
teringat semua cerita orang
tentang riwayatku

reff: 

kata mereka diriku selalu dimanja
kata mereka diriku selalu ditimang

nada nada yang indah
selalu terurai darinya
tangisan nakal dari bibirku
takkan jadi deritanya
tangan halus dan suci
tlah mengangkat diri ini
jiwa raga dan seluruh hidup
rela di berikan

back to reff

oh bunda ada dan tiada dirimu
kan slalu ada dalam hatiku






NP:
Kalo denger lagu ini, walaupun hanya nadanya saja, hati selalu bergetar... apalagi waktu Pesantren kilat klo waktunya perenungan wah.. mata udh pda merah deh gara2 nangis... u,u

Sosok Ibu Bagiku



Mau ngomong apa ya? :D 
Hari Ibu itu adalah hari yg spesial untuk semua para Ibu, dimana hari itu para ank2'a mencurahkan kasih sayangnya yg sedalam2nya... hari kebebasan untuk para Ibu, karena semua pekerjaannya dibantu oleh anggota keluarga lainnya. Ternyata lelah juga ya menjadi seorang Ibu. Baru ngerjain satu hari aja udh ngeluh, *mungkin kalian jg begitu* tapi aku sangat salut dan bangga untuk para Ibu yang tidak pernah mengeluh sama sekali, (┌_┐) (┌_┐) (┌_┐)  jadi hargailah Ibu kalian sejak hari, mulai detik ini deh.
Tadi pagi sehabis makan sempet nonton TV, tapi biasalah isinya berita...
Di TV One *kata Pak Ustad .hehehe lupa :D pokoknya kata Pak Ustad, raihlah surga yang ada didekatmu terlebih dahulu. Tak usahlah kita mencari surga sampai jauh-jauh, bayar mahal segala, sebenarnya ada Surga yang lebih murah, lebih dekat, dan dia ada di depan mata kita. Dialah sosok yang selalu memarahi kita disaat kita bandel, dialah sosok yang selalu memberi petuah-petuah *nasihat* untuk pegangan hidup kita, dialah sosok yang melahirkan kita, dia jugalah sosok yang mau merawat dan menjaga kita dari kecil sampai kita sebesar ini,  dialah IBU. Surga di telapak kaki Ibu, sedangkan Ayah adalah jalan menuju ke Surga. Dan bagiku Ibu itu segalanya. ♥ my mom & my dad, my everything   
Maka sebelum engkau memuliakan orang lain, maka muliakan Ibu dan Ayahmu terlebih dahulu.
Aku sangat bersyukur karena kali ini Allah lagi-lagi dan lagi masih bisa mengijinkan aku untuk melihat wanita itu, seorang wanita yang aku panggil Ibu. :)
Kadang aku suka tertawa sendiri saat teman-temanku sering mengatakan dia itu kakakku. karna tinggi kita yang hampir sama, bahkan aku sama beliau seperti seorang sahabat karib, karna aku yang selalu mengeluarkan semua isi perasaanku kepadanya. Bukan karena aku tak percaya sama mereka, tapi karna aku memang lebih merasa lebih enak bila sedang cerita kepada Ibu.


Ibu maafkan Fia, yang sudah menyusahkanmu selama ini, aku bingung mau menggantinya dengan apa. Karna aku tak sanggup, ibu tolong bimbinglah langkahku ini bantulah selalu aku, karna kalo bukan ibu dan bapak siapa lagi? Terimakasih buat semuanya yang telah ibu berikan kepadaku. J Restuilah setiap langkahku, doa’akan agar anakmu ini Lulus UN dengan nilai yang memuaskan, dan bisa masuk SMA yang favorite, yg selama ini aku impikan.

Happy Mom Day, untuk seluruh Ibu di dunia terutama buat Ibu ku tercinta ;)



Kamis, 20 Desember 2012

First Love



Everyone can see
There’s a change in me
They all say I’m not the same
Kid I use to be
Don’t go out and play
I just dream all day
They don’t know what’s wrong with me
And I’m too shy to say
It’s my first love
What I’m dreaming on
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don’t know what to do
My first love
He thinks that I’m too young
He doesn’t even know
Wish that I could tell him what I’m feeling
’cause I’m feeling my first love
Mirror on the wall
Does he care at all
Does he ever notice me
Does he ever found
Tell me teddy bear
My love is so unfair
Will I ever found away
An answer to my pray
For my first love…

Selasa, 30 Oktober 2012

Gadis SMA di Bus 13 ( Cerpen CAIK )


Seorang cowok berseragam dengan tas di punggungnya keluar dari gerbang bertuliskan SMA Persada. Tak lama kemudian ada sebuah motor berhenti di sampingnya, ia kemudian menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah motor di sampingnya. Ia tersenyum kepada cowok yang mengendarai motor tadi, kemudian turun dan melepas helm full facenya. “ Hai bro. Motor loe kemana?” tanya cowok itu yang bernama Rio. “Hai juga Io, motor gue masih di bengkel. Tumben loe gak bareng Ify?” tanya cowok sebelumnya yang bernama Cakka. “Oh Ify? Dia masih ada tambahan. Oh yabareng gue aja yuk Kka!” Ajak Rio. “Gak usah deh Yo,” Tolak Cakka. “Jiah, loe gitu sekarang? Ma sobat sendiri juga. Terus loe pulang naik apa dong?” “Naik bus. Yaudahkalo gitu antar gue ke halte bus aja!” Sambil menunjuk ke arah halte bus di seberang sana. “Ok deh sob.” Mereka pun melaju dengan menggunakan motor Rio.
***
Lima menit yang lalu Cakka telah sampai di halte bus ini. Tak lama kemudian akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. sebuah bus berhenti tepat di hadapannya. Cakka menyunggingkan senyumnya lega. “Akhirnya datang juga” Ia pun segera menaiki bus itu. Semua tempat duduk di bus itu ternyata sudah penuh. Hanya ada satu tempat duduk dan disampingnya sudah ada seseorang. Ia segera duduk di tempat itu. Cakka menoleh ke sebelah tempat duduknya dan tersenyum. “Bolehkah aku duduk di sampingmu?” Tanyanya ramah. Gadis itu, gadis berseragam SMA menoleh ke arah Cakka. ‘Degg’ hati Cakka berdesir ketika melihat gadis tadi. Dengan wajahnya yang cantik dan menurutnya imut. Tak ada senyuman yang muncul dari bibirnya. Dengan wajah datarnya, dan kembali ke aktivitasnya semula yaitu memandang ke arah luar jendela. Tapi sayangnya gadis tadi terlihat dingin dan cuek. Pikir Cakka.
Selama di jalan mereka hanya diam. Cakka dan gadis itu. Karena Cakka terlalu bosan akhirnya ia pun bertanya kepada gadis itu. “Emm, boleh kenalan gak? Nama kamu siapa dan kamu dari SMA mana?” tanya Cakka ramah. Lagi-lagi gadis itu menoleh ke arahnya dengan wajah yang datar. Karna takut dia marah akhirnya Cakka meminta maaf. “Maaf. Oh ya, kenalin namaku Cakka dari SMA Persada.” Kini ia memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya ke arah gadis tadi. Sekali lagi gadis itu hanya menoleh kemudian memandang tangan Cakka. Tanpa sedikitpun membalas uluran tangan tadi. “Ya udah deh kalo gak mau.” Cakka pun menarik tangannya kembali dan hanya tersenyum memandang gadis di sebelahnya. Banyak pasang mata kini melihat ke arah Cakka. Tapi yang dilihat malah nggak nyadar dan menatap mata gadis di sebelahnya.
Lama berpandangan seperti itu akhirnya gadis tadi membuka suaranya juga yang terkesan dingin dan kaku. “Namaku O...” ‘Ckittttt’ suara decitan rem bus membuat kalimat gadis itu terputus. Dan ternyata kini mereka telah sampai di tempat tujuan.  Dalam hati Cakka merutuki bus itu ‘kenapa ganggu aja sih’. Tanpa sadar gadis itu telah turun mendahuluinya. Tanpa membuang waktu lagi Cakka pun mengejarnya. Setelah dekat, Cakka langsung mencekal tangan gadis itu. Karna reflek gadis itu pun berbalik dengan pandangan yang masih sama. “Tunggu! Aku belum tau siapa namamu.” Ujar Cakka akhirnya. “Maaf, tapi aku harus pulang sekarang” Tak sekaku tadi, walaupun ia terlihat masih kaku dan dingin tapi seenggaknya ia membalas ucapan Cakka. “Ok, kamu bilang dulu siapa namamu, nanti kamu aku lepas deh. Janji” “Hhh... namaku Oik. Yaudah permisi aku mau pulang” Setelah menyebutkan namanya yang ternyata gadis itu bernama Oik ia pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Cakka. “Tunggu” teriak Cakka lagi. Gadis itu pun meoleh dengan pandangan bingung. “Terima kasih Oik” lanjut Cakka kemudian. Oik hanya membalasnya dengan seulas senyum dan berbalik untuk melanjutkan langkahnya kembali. “Terimakasih, karna kamu telah merebut hatiku Oik” lanjut Cakka dalam hati dan membalas senyuman Oik.
***
Keesokan harinya saat istirahat di kantin, Cakka pun membicarakan hal ini kepada sahabatnya Rio. Ia menceritakan semuanya dari awal bertemu yang membuat hatinya dag-dig-dug melulu sampai akhirnya ia mengetahui nama gadis itu. “Cewek yang aneh” begitulah ujar Rio. “Itu yang membuat aku berfikir kalo dia itu beda dari yang lain.Tapi aku masih penasaran deh yo, sama tuh cewek. Kayaknya sih dia bukan anak SMA sini. Tapi dimana ya? Kok jadi lupa gini gue” Yang tadinya tersenyum lebar dan kini ia mengerutkan keningnya bingung dan masih berfikir. “Ya udahlah Kka. Gue kasih saran aja ya, kalo cinta itu dikejar jangan di diemin gitu ntar nyesel baru tau loe” Kata Rio bijak. “Thanks bangets ya Yo, loe emang sahabat paling baik deh sedunia. Gak salah Ify pilih loe” Kata Cakka bangga dengan sahabatnya ini. “Yey, loe baru nyadar ya. Iya-iya gue ngaku kalo gue itu emang lebih baik dari loe, gue emang lebih keren, cakep dan semuanya deh dari loe” Ucap Rio lebay dan mendapat satu toyoran dari Cakka. “Kalo soal cakep,keren, baik, itu lebih kerenan, cakepan, baikan gue kali” setelah ngomong begitu Cakka langsung lari karna takut kena balasan dari Rio. “Eh awas ya Loe Kka” Teriak Rio dari kantin.
***
Semenjak saat itu Cakka dan Oik sering bertemu di bus. Hari ini Cakka tidak menaiki motornya kembali dengan alasan yang sama seperti tempo hari. Cakka kembali lagi naik bus. Ia kembali bertemu dengan Oik di dalam bus dengan urutan tempat duduk yang masih sama seperti kemarin. Yaitu urutan ke 13. Tapi kali ini sepertinya Cakka sudah akrab dengan Oik. Jadilah mereka bercerita-cerita dan tak jarang juga keduanya tertawa bersama. Sungguh perkembangan yang baik.
“Oik, kamu tau gak?” tanya Cakka. “Nggak tuh” jawa Oik menahan tawanya. “Ya ialah kamu gak tau dan gak bakal pernah tau. Orang aku aja belum ngomong. Makanya dengerin dulu” ujar Cakka geregetan karna gemas. “Emangnya apa Kka?” tanya Oik sok serius. “aku mau ngomong tapi kamu jangan marah! Janji!” Cakka mengulurkan kelingkingnya. “Ok janji. Cepetan dong bicaranya” Setelah Oik melingkarkan kelingkingnya pada Cakka. “Sebenarnya, sejak awal aku bertemu dengan kamu aku tuh sudah suka sama kamu. Kamu tuh cantik, imut, manis dan ternyata kamu tuh baik ya?” Oik hanya tersipu malu. “Kamu mau nggak jadi pacarku?” Lanjut Cakka. Sesaat kemudian Oik jadi diam dan pandangannya menerawang jauh ke arah jendela. “Oik, kamu kenapa? Kok ngalamun?” Ujar Cakka mengagetkan Oik. “Nggak apa-apa kok Kka. Maaf tapi aku nggak bisa jadi pacar kamu” Jawab Oik akhirnya dengan senyuman pahit. “Kenapa? Jujur, kamu juga suka kan sama aku?” Tanya Cakka berusaha meyakinkan Oik bahwa ia serius dengan perasaannya. “Emm, aku juga gak bisa bohong sama perasaanku.” Oik menghela nafas sejenak. “Kamu bakal tau ntar, kenapa aku nggak bisa jadi pacar kamu” “Ya tapi kenapa Ik? Beri aku alasan kenapa kamu ngomong gitu? Lebih baik kamu bilang sekarang alasan itu.” “Maaf, aku gak bisa kasih tau kamu.” Tiba-tiba saja bus itu berhenti. Oik pun turun dari bus itu dan kemudian disusul Cakka di belakangnya.
Setelahnya mereka turun dari bus, Bus itu pun segera melaju pergi meninggalkan keduanya yang masih betah dengan kebisuan itu. Cakka pun sadar saat Oik sudah tak ada di hadapannya lagi dan pergi meninggalkannya. “Oik tunggu! Biar aku antar kamu pulang ya” Oik menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Cakka. Oik hanya menggeleng dan tersenyum, kemudian ia melanjutkan jalannya kembali.
Karna penasaran dengan rumah Oik, karna kalo setiap ia menawarkan diri untuk mengantarkan gadis itu, pasti gadis itu akan menolaknya. Mungkin ini kesempatan buat dia mencari tahu tentang gadis itu.
Cakka terus mengikuti Oik dari belakang tanpa diketahui oleh Oik tentunya. Oik berbelok ke gang yang menurut Cakka cukup sempit dan terpencil. Setelah berbelok-belok, sampai juga.Terlihat Oik memasuki sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas, Cakka pikir itu adalah rumah Oik. “Jadi ini rumahmu.” Lirih Cakka dengan senyuman khasnya. Setelah ia yakin bahwa Oik benarr-benar sudah masuk ke dalam rumah itu. Ia pun pergi meninggalkan tempat itu.
***
Beberapa hari telah berlalu. Semenjak hari itu Cakka tak pernah menaiki bus lagi karna motornya sudah kembali. Cakka merasa seperti ada yang kurang dalam hari-harinya, ia rindu dengan senyuman itu, ia rindu dengan suara itu dan juga tatapan itu. Tatapan yang susah untuk diartikan.
Pulang sekolah Cakka bertekad untuk menemui Oik. Hal pertama yang dia lakukan yaitu dengan mendatangi rumah Oik. Tapi Cakka tak datang sendiri. Ia datang bersama Rio. “Kka, apa bener ini rumahnya Oik?” tanya Rio. Setelah mobilnya berhenti di halaman rumah yang terpencil itu. Walaupun jalannya sempit, tapi mobil masih bisa untuk masuk ke dalamnya. “Iya, bener kok ini rumahnya. Mending kita turun sekarang aja” Ajak Cakka. “Ok deh” mereka segera membuka pintu mobil dan berjalan mendekati rumah itu. ‘tok, tok, tok’ “permisi”. “Iya, sebentar” jawab orang dari dalam yang terdengar berat dan berjalan membuka pintu. “Kalian siapa ya?” tanya seorang wanita paruh baya dengan mata yang terlihat semab. Mungkin saja itu ibunya Oik. Pikir Cakka dan Rio. “Maaf tante, kami ini temannya Oik” Jawab Rio dengan nada sopan. “Oiknya ada tante?” kini giliran Cakka yang bertanya dengan nada yang tak kalah sopan seperti Rio. “Mau apa kalian? Oik tak pernah punya teman seperti kalian. Dan kalian kenal Oik darimana?” tanya wanita itu dengan nada yang berubah menjadi kasar. “Kami cuman mau tanya gimana keadaannya Oik tante. Emang sih kami bukan teman satu sekolahnya. Tapi teman saya yang kenal dengan Oik waktu ia naik bus.” Ujar Rio. “Iya tante. Saya bertemu dengan Oik di bus. Dan itu juga tak sengaja kami satu tempat duduk.” “Sejak kapan kalian bertemu dengan Oik.” Ujar wanita itu lagi. “Mah, ada apa sih? Kok ribut-ribut gini?” Muncullah seorang pria dari dalam rumah itu. Dia adalah papa Oik. Mama Oik masih saja menatap tajam Cakka dan Rio. “Maaf ya, kalian ini siapa? Ada keperluan apa kalian kemari?” Tanya pria itu ramah yang kini sedang merangkul wanita tadi. “Kami temannya Oik om” Jawab Rio. “oh, jadi kalian temannya Oik ya? Ya sudah masuk dulu yuk.” “Iya om.” Akhirnya mereka pun menceritakan tentang kedatangannya kemari kepada Papa dan Mama Oik.
Setelah kedua orang tua Oik terdiam cukup lama. “Sekarang Oiknya ada dimana om, tante?” tanya Cakka yang sudah penasaran. “mm... Oik.. Oik sudah meninggal nak.” Jawab papa Oik akhirnya. Setelah menghembuskan nafas berat akhirnya ia pun menceritakan hal yang sesungguhnya. “Oik meninggal karena kecelakaan. Kecelakaan tragis itu yang telah mengakibatkannya meninggal. Jadi, saat itu ..
#Flashback on
“Pak stop pak” perintah seorang gadis berbaju SMA ke seorang supir Bus yang ditumpanginya setelah sampai di dekat rumahnya. Akhirnya supir bus itu menghentikan lajunya. Gadis itu pun turun tak jauh dari bus dengan senyuman yang selalu mengembang di bibirnya. Bus itu pun segera melaju kemnbali. Tiba-tiba saja ia merasa bahwa ada yang menyeretnya. Setelah ia sadar ternyata tas selempangnya terjepit pada saat pintu bus tertutup tadi. “Pak, berhenti. Tolong!” Teriaknya dengan suara yang cukup keras dan ia terus berlari untuk mengimbangi bus itu. Namun naas sang sopir ataupun keneknya tak mendengar. “pak berhenti!!” kini gadis itu pun sudah mengeluarkan airmatanya. Dan parahnya lagi bus itu malah mencepatkan lanjunya, karna oleng dan gadis itu tak sadar apa yang ada di depannya. ‘Braakkkk’ Suara yang cukup keras, karna hantaman dari tiang listrik. ia terpental beberapa meter dari tempat itu. Kini seluruh badannya sudah berlumuran darah.
#FLASHBACK END
Waktu itu ada saksi mata yang melihat kecelakaan itu dan menceritakannya kepada om. Awalnya om tak percaya dengan kecelakaan tragis yang mengenai Oik anak om dan tante. Tapi kini om yakin, bahwa itu benar-benar Oik. Jadi kalian tak mungkin bertemu dengan Oik. Karna kejadian ini sudah setahun yang lalu. Dan kalian baru bertemunya kemarin. Rasanya tak mungkin.” Ujar Om Riko.  “Tapi om, saya beneran ketemu sama Oik di bus kemarin. Malah beberapa kali kami terlibat percakapan” Sanggah Cakka. “Mending kalian pulang saja! Kalau memang tak percaya” marah om Riko tiba-tiba dengan nada mengusir. “Baik om, kita pulang. Ayo Kka, kita pulang!” Ujar Rio seraya menarik Cakka untuk keluar dengan keadaan Cakka masih shock.
***
Di sudut sebuah kamar, terlihat seseorang sedang merenung. Ia nampak masih shock dengan berita itu, berita mengenai orang yang baru saja mengisi hatinya. ‘tok,tok,tok’ suara ketukan pintu kamarnya membuyarkan lamunannya. Dengan segera ia berdiri dan mendekati pintu untuk membukanya. “papa? Tumben pa, pulang jam segini?” Tanya Cakka bingung. “Iya sayang. Kebetulan tadi di rumah sakit banyak banget pasiennya, dan gak ada dokter ganti.”Papanya tersenyum. Papa Cakka adalah seorang Dokter bedah. “Pa, Cakka boleh tanya nggak?” Kini mereka sudah ada di dalam kamar Cakka. “Tanya apa Kka?” Papanya mengernyitkan dahi bingung. “setahun yang lalu, papa pernah nggak menangani pasien karna kasus korban kecelakaan lalu lintas gitu?” Tanya Cakka serius. “Emm,, tunggu bentar deh. Kayaknya sih pernah. Seorang gadis. Kecelakaan bus” Kata papa Cakka masih mengingat. “memangnya kenapa Kka? Tumben kamu tanya-tanya soal pasien papa?” “Ya, gak apa-apa sih pa. Cuman tanya aja. Namanya Oik bukan?” tanya Cakka antusias. “Gak tau, papa lupa. Tapi kayaknya papa masih nyimpan korannya deh. Papa ambilin dulu ya” Cakka hanya mengangguk.
            Dayat kembali memasuki kamar anaknya dengan membawa sebuah koran yang sudah lusuh di tangannya. “Ini Kka korannya” Dayat mengangsurkan koran itu Cakka. “Makasih pa”. Cakka membolak-balikan halaman demi halaman. Satu halaman yang membuatnya shock.
            ‘Kecelakaan Tragis yang mengakibatkan seorang mahasiswi SMA meninggal dunia. Gadis itu ditemukan meninggal dunia dengan keadaan yang mengenaskan. Namanya ‘Oik Amanda Putri’ Sang sopir bus di penjara selama 3 tahun.’


            Siang ini sepulang sekolah, Cakka pergi ke pemakaman Oik. Untuk sekedar berdo’a agar Oik tenang disana. Bulir-bulir airmatanya pun menetes. Di sampingnya terdapat temannya Rio yang juga masih menunduk.
            ‘Semoga kamu tenang disana ya Ik. Jangan bosan untuk menunggu aku disana ya?! J.’



END

Sabtu, 29 September 2012

Berakhir Dengan Bahagia -Cerpen CaIk-


Seorang gadis sedang bersimpuh di depan gundukan tanah. Air matanya terus mengalir. Satu persatu orang mulai meninggalkan tempat itu sambil menepuk pundak gadis itu untuk sekedar memberi ketabahan dan kekuatan. Seorang pemuda kini berada di sampingnya.
“Oik, kita pulang yuk” Ajak pemuda itu ia merangkul pundak gadis tadi. Namun gadis yang di panggil Oik itu hanya terdiam seakan tak mampu untuk melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Untuk sekedar bicarapun sulit.
“Nggak Kka. Aku masih mau disini. Kasihan bunda di dalam sana.” Ujar Oik dengan suara parau.
“Iya, aku ngerti. Tapi kamu kan masih punya Om Riko. Masih ada Acha dan Sivia sahabatmu dan. Aku” ujarnya meyakinkan.
“Kalo gitu kalian pulang dulu aja. Aku masih pingin disini nemenin bunda.” Seorang pria paruh baya datang menghampiri keduanya.
“Oik sayang kita pulang ya. Ayah nggak mau kamu gini. Tuh liat Cakka, Acha, sama Sivia. Kasihan mereka nungguin, lagian juga kalo bunda liat kamu gini, dia pasti sedih.” Ujarnya lembut.
Oik mengalihkan pandangan dari gundukan tanah yang bertuliskan ‘Zahra Dianara’.
“Baiklah Oik pulang” Ujar Oik akhirnya karna ia tak mau melihat orang yang ia sayangi sedih. Dan juga ia tak berani melawan ayahnya. Sebelumnya Oik berkata “Bunda, Oik pulang dulu ya. Hiks.. “ ujarnya masih sesenggukan. “Bunda hati-hati ya. Bunda jangan sedih, Oik bakal baik-baik kok disini. Selamat jalan bunda” Oik mengusap nisan bundanya dengan sayang, kemudian ia menciumnya singkat. “Oik pulang bunda. Ntar Oik kesini lagi kok” Sivia dan Acha ikutan sedih melihat sahabatnya, sesekali mereka meneteskan mata. Cakka hanya bisa memandang Oik dengan tatapan pilu, rasanya ia sangat ingin memeluk gadis itu. Sedangkan ayah Oik hanya bisa menangis dalam kebisuan. Beliau mulai melangkah duluan meninggalkan keempatnya, rasanya ia tak ingin hal ini terjadi. Melihat anaknya menangis menambah sesak dalam hatinya.
                Akhirnya mereka pun meninggalkan pemakaman itu dengan Oik berada dalam pelukan Cakka, di sebelah kanan mereka ada Acha dan Sivia yang ikut berjalan sambil mengusap punggung Oik.
***
                1 Bulan telah berlalu semenjak meninggalnya sang bunda. Sedikit-sedikit Oik mulai bisa menerima kenyataan. Walaupun hatinya masih belum rela dan memendam kesedihan itu. Tapi di depan teman-temannya dan Ayahnya ia berusaha untuk selalu menampilkan keceriaan yang dulu selalu ia miliki. Seolah-olah tak terjadi apa-apa.
                Setelah satu bulan disibukkan dengan pekerjaannya, tiba-tiba ayahnya mengajak Oik untuk dinner bersama Sabtu ini, seperti dulu sebelum bundanya meninggal. Katanya Ayah Riko ingin bercerita-cerita. Soalnya sudah lama mereka tak melakukan hal itu lagi.
                Saat ini Oik dan ayahnya sudah berada di salah satu restoran mewah yang ada di Kota Bandung.
“Ayah, ayah mau bicara apa? Katanya ada yang penting?”Tanya Oik membuka pembicaraan.
“Oik, bicaranya nanti dulu ya. Nunggu seseorang bentar.” Kata ayahnya dengan senyum.
Saat Oik sedang sibuk dengan minumannya, tiba-tiba saja
“Hai Riko” sapa seseorang.
‘mungkin itu yang ayah tunggu’ pikir Oik masih sibuk dengan minumannya.
“Hai Shilla, silahkan duduk” ajak ayah Oik.
“Baiklah, Udah nunggu lama ya?” tanyanya.
“Ah enggak, biasa aja.” Kemudian Ayah Riko berpaling kepada Oik. “Oh ya, Ik kenalin ini tante Shilla. Shilla ini Oik anakku”
“Oh jadi ini anakmu? Udah besar ya ternyata? Cantik lagi seperti bundanya.” Ujar Shilla.
“Hay tante, makasih.” Balas Oik senang.
Pembicaraanpun berlangsung cukup lama.
***
                Oik baru saja pulang dari sekolahnya dengan diantar Cakka menggunakan motor CBR yellownya.
“Makasih ya Kka” kata Oik setelah turun dari motor itu.
“Iya sama-sama. Em, ya udah sekarang kamu masuk gih” suruh Cakka lembut.
“Lho? Kamu nggak pulang?” tanya Oik bingung.
“Nanti aku pulang setelah mastiin kamu udah masuk rumah atau belum” cengirnya.
“Ih kamu bisa aja. Ya udah deh aku masuk dulu ya. Hati-hati di jalan”
“Sipp deh”
                Setelah Oik masuk ke rumahnya, Cakka segera melesatkan motornya pergi meninggalkan rumah Oik.
                Oik pun berjalan memasuki rumah. Seperti biasa di rumah hanya ada bibik dan dirinya. Jam segini Ayahnya pasti belum pulang. Namun saat Oik akan menaiki tangga menuju kamarnya ada orang yang menyapanya.
“Tadi di anter siapa Ik?” Tanya orang itu. Oik mengalihkan pandangannya ia mendapati ayahnya sedang duduk di ruang keluarga yang tempatnya berdekatan dengan tangga.
“Eh yah, udah pulang? Tumben banget.” Ia tak menjawab pertanyaan ayahnya malah balik bertanya.
“Iya ayah udah pulang kok, kamu ditanya malah balik tanya. Tadi Cakka ya?” tanya ayahnya jahil.
“Ih ayah, apa deh. Iya tadi emang Cakka yang anter Oik pulang. Kenapa?” Ujaar Oik cemberut mendapat ledekan dari ayahnya.
“Nggak kenapa-kenapa. Tapi kalo ayah liat, kalian cocok deh.”
“Mulai deh. ah udah ah jangan bahas itu. Oik malu tau”
“Eh nggak percaya. Kayaknya Cakka tuh suka sama kamu. Kamu juga suka kan sama dia? Hayooo”
“Ih ayah udah. Oik ngambek nih” Bibirnya udah makin maju.
“Iya deh iya, ih kamu jelek tau kayak gitu. Hahaha...” tawa ayahnya meledak. “Ik, ayah mau tanya serius nih sama kamu” Ujar ayahnya yang udah berhenti tertawa dan wajahnya berubah serius.
Oik pun duduk di sebelah ayahnya.
“Tanya apa yah?” tanyanya bingung.
“Em, kalo kamu punya bunda baru setuju nggak?” tanyanya lagi yang membuat Oik cengo.
‘Bunda baru? Ok deh, mungkin ini jalan yang baik untuk membuat ayah bahagia lagi dengan bunda baru tentunya’ bati Oik dan tersenyum.
“Emangnya bunda barunya siapa yah?” tanya Oik penasaran.
“Tante Shilla” jawabnya singkat. “Tapi ya kalo kamu nggak mau juga nggak apa-apa kok. Ayah ngerti”
“Oik sih setuju-setuju aja, asalkan ayah bahagia dengan tante Shilla. Lagian juga kalo diliat-liat dia baik baik, cantik, apa lagi ya? Tapi itu terserah ayah juga. dan pastinya harus minta ijin dulu sama bunda zahra Ok ;)”
“Makasih Oik, kamu anak ayah yang paling baik deh, paling cantik, paling segalanya. Ayah janji ayah nggak bakal ngelupain kamu sama bunda Zahra.” Sangking senengnya Ayah Riko memeluk Oik erat.
“Ayah, emangnya anak ayah siapa lagi?” tanya Oik bingung.
“E... enggak ada. Hehehe” cengirnya.
“Ya iyalah Oik paling cantik, baik, dan segalanya orang anak ayah cuman Oik doang”
***
                Beberapa bulan telah berlalu semenjak pernikahan Shilla dan Riko. Dan selama itu pula Shilla sangat baik kepada Oik. Bahkan ia mengajak Oik Shopping bareng, makan bareng. Selama itu pula ia merasa sangat senang. Bundanya seperti kembali lagi.
                Namun pada suatu hari saat Ayah Riko pergi untuk mengurus proyeknya yang berada di Kalimantan, tante Shilla yang notabennya ‘bunda baru’ Oik tiba-tiba saja sikapnya berubah total nggak seperti biasanya. Ia cepat marah, dan terkadang pekerjaan rumah Oik disuruhnya untuk membersihkan. Padahal sudah ada Bibi yang mengurusnya. Apa ini tanda-tanda peran ibu tiri untuk menyiksa anak tirinya akan segera dimulai? Entahlah.

Hari ini semua murid di SMU Antariksa tempat Oik dan kawan-kawan bersekolah dipulangkan lebih awal. Saat Oik, Acha dan Sivia sedang berjalan di koridor, tiba-tiba saja ada beberapa anak yang menghampirinya.
“Hay Ik, kita pulang bareng yuk?” ajak cowok itu yang tak lain adalah Cakka.
“Em, tapi aku sama Acha sama Sivia” ujar Oik sambil melihat Acha dan Sivia bergantian.
“Udahlah Ik kita nggak apa-apa kok.” Ujar Sivia berusaha mengerti.
“Iya, mending loe balik aja sama Cakka. Tenang aja Acha balik bareng gue kok” Kata salah satu cowok diantara kedua teman Cakka. Dia Ozy yang segera pindah tempat untuk merangkul Acha.
“Dan Via sama gue” ujar cowok satunya lagi Gabriel.
“Iya Ik, kita nggak apa-apa kok. Kasihan tuh Cakka udah nunggu lama” Ujar Acha.
“Ya udah deh. Yuk Kka pulang” Kata Oik akhirnya.
Cakka dan Oik pun meninggalkan ke empat temannya.
Saat di parkiran,
“Ik, jalan-jalan bentar yuk.” Ajak Cakka
“Tapi Kka, aku nggak bisa” Jawab Oik merasa bersalah.
“Lho kenapa? Dulu juga kita sering jalan.” Tanya Cakka bingung, merasa aneh dengan sikap Oik akhir-akhir ini. Walaupun mereka semua udah tau kalo Cakka suka sama Oik semenjak Cakka belum putus dengan Nadya beberapa bulan yang lalu. Sampai saat ini walaupun ia telah putus dengan Nadya, namun rasanya belum berani untuk ia nyatakan cinta ke Oik secara langsung.
“Iya sih. Tapi aku harus bantu-bantu bunda Shilla di rumah.”
“Bukannya di rumahmu udah ada bibi?” Tanya Cakka semakin bingun. “Ayolah Ik sekali ini saja” mohon Cakka sangat. Oik jadi tak tega sendiri melihat Cakka memelas gitu.
“Iya deh. Ya udah yuk pergi sekarang. Tapi ntar pulangnya jangan kesorean ya”
“Sipp bos. Yuk naik”
                Setelah itu mereka melesat dengan motor CBR Cakka. Oik memeluk pinggang Cakka erat, karna ia taku jatuh. Habisnya Cakka kalo naik motor kenceng banget. Jadi ngeri sendiri.
                Cakka mengajak Oik ke suatu tempat yang sengat indah. Sebuah danau yang airnya masih terlihat jernih tanpa sampah atau limbah sekalipun. Disana ada perahu, Cakka mengajak Oik menaiki perahu itu.
“Ik, kita naik perahu yuk.” Ajak Cakka sambil berlari menggandeng tangan oik.
‘Deg’
Entah perasaan apa yang kini singgah di hati Oik, seakan semua masalahnya lenyap seketika.
“Aku takut kalo jatuh Kka” Ujar Oik setelah mereka berdua telah sampai di situ. Tempat dimana perahu berada.
“Udah nggak apa-apa. Ada aku kok yang slalu ada buat kamu. Kamu nggak bakal jatuh deh.” Kata Cakka meyakinkan.
Oik hanya mengangguk dan tersenyum.
                Setelah mereka menaiki perahu, perahupun mulai didayung Cakka agar berjalan. Oik menikmati udara luar yang udah lama ia tak hirup. Sudah lama ia tak melakukan ini, Ia jadi ingat dengan bundanya.
“Oik, gimana kamu suka nggak?” Tanya Cakka yang daritadi memperhatikan Oik.
“Suka, suka banget malah. Aku jadi kangen nih sama bunda. Apa kabarnya bunda disana ya?” tanya Oik, seperti kepada dirinya sendiri. Cakka yang melihatnya pun menghibur Oik.
“Syukur deh kalo kamu suka tempatnya. Udah dong, jangan sedih lagi ya. Tante Zahra pasti bahagia kok disana asalkan kamu tersenyum.” Senyum Cakka. “Oh iya Ik, sebenernya aku mau bilang kalo aku...” Ucapnya menggantung.
“kamu mau ngomong apa kka?” tanya Oik bingung.
“Aku suka Ik sama kamu. Aku cinta sama kamu. Kamu bisakan liat itu semua dari mataku?” Ujarnya.
                Oik kini diam, tak percaya dengan pernyataan Cakka barusan. Ia deg-degan, ia grogi, ia salting di tatap Cakka seperti itu.
Cakka memegang dagu Oik dan mengangkatnya agar bisa menatap mata Oik.“Tatap mataku Ik” mohonnya. “Apakah kamu mau jadi gadisku?” tanya Cakka lembut.
Oik menolehkan wajahnya agar matanya tak bertatapan dengan Cakka.“Tapi Kka..”
“Kamu nggak percaya Ik?” tanya Cakka kecewa.
“Bukan gitu Kka, aku percaya kok. Tapi aku...”
“Kamu kenapa Ik? Apa udah ada orang lain di hatimu sekarang?” Tanyanya lesu.
“Nggak kok. Kasih aku waktu Kka buat jawab pertanyaan kamu” Kata Oik akhirnya.
“Ya udah, sampai kapan pun aku akan menunggumu Ik. Aku nggak akan memaksa kok” Cakka tersenyum. Oik pun mebalasnya senyum.
                Tak terasa langit sudah berubah warna menjadi jingga. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Oik yang baru menyadarinya akhirnya meminta Cakka untuk mengantarkannya pulang. Ia takut bila nanti sampai di rumah. Mereka pun meninggalkan danau itu dan melesat menuju rumah Oik.

                Oik turun dari motor Cakka di depan sebuah rumah megah, ia menyerahkan helm yang tadi ia pakai.
“Sekali lagi makasih ya Kka, untuk hari ini.” Ujar Oik.
“Iya sama-sama, kamu nggak usah lebay gitu deh.” Cakka mengacak rambut Oik.
“ehhehehe... ya udah deh aku masuk dulu.”
“Iya. Aku pulang dulu.” Tanpa disangka Cakka pinggang Oik mendekat ke arahnya, ternyata ia mengecup kening Oik.
                Setelahnya Cakka pergi, ia pun masuk ke dalam rumah dengan senyum-senyum sendiri.
“Enak  ya, anak SMU balik hampir Maghrib. Di antar pacar, dicium lagi” Suara pedas Bunda Shilla membuatnya berhenti dan menunduk.
“Tadi bukan pacar Oik kok bun. Tadi itu ada pelajaran tambahan” Kata Oik, ia terpaksa berbohong agar Bunda Shilla tak marah. Namun perkiraannya salah.
“Enggak usah panggil-panggil bunda deh” Ketusnya. “Sejak kapan aku ngelahirin kamu hah? Sekarang bunda tersayangmu itu udah mati. Sebentar lagi ayahmu akan jatuh ke tanganku” Mendengar itu Oik langsung mendongak kaget,
“Tan..tante mau apakan ayah? Ayah nggak salah apa-apa tante. Udah cukup Oik saja” tak terasa airmatanya jatuh membasahi pipinya.
“kamu gak perlu tahu apa yang akan saya lakukan kepada kalian. Permainan baru saja kita mulai Oik sayang” ujarnya dengan senyum sinis. “Sekarang mending kamu bersihin seluruh rumah ini! Besok kamu cuci semua baju-baju kotor, pembantu pulang kampung. Kamu kerjain semuanya sendiri! Halaman depan sama belakang juga, jangan lupa kolam renang di kuras.” Ujarnya, saat mau meninggalkan Oik, ia behenti sejenak. “Oh ya, awas aja kalo kamu sampe berani bilang sama semua orang tentang hal ini terutama sama ayah tercintamu itu”
                Oik tak bisa menolak ataupun membantahnya. Bukannya ia takut sama Ibu tirinya, tapi ia tak mau terjadi apa-apa dengan ayahnya.
                Setelah mandi Oik langsung mengerjakan pekerjaannya. Ia ingin semua selesai dengan cepat. Lagian ini juga bukan yang pertama kalinya Ibu tirinya itu menyuruhnya buat mengerjakan urusan rumah tangga ini. Oik memulainya dari menyapu rumah.
                Tak terasa hari sudah larut, bersamaan dengan itu ia telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Tak ada pikiran buat makan malam, Ia langsung merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Rasanya ia ingin kabur, atau apalah gitu agar bisa bebas dari penderitaan ini. Syukur-syukur ayahnya bisa pulang secepatnya.
                Oik mengambil Sebuah album foto berukuran besar berwarna biru tua yang terletak di atas pianonya. Ia mulai membuka satu persatu lembaran foto itu, ia mulai mengingat-ingat kejadian-demi kejadian. Disana ada foto bundanya. Bunda saat menggendongnya waktu kecil, saat bermain boneka.
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Reff
Kata, mereka diriku selalu dimanja
Kata, mereka diriku selalu ditimang

Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Back to Reef
*Oh.. bunda ada dan tiada dirimu
Kan selalu ada di dalam hidupku

                Oik mengakhiri lagu itu denga air mata yang kini sudah membentuk anak sungai di kedua pipinya. Bersamaan dengan itu pula ia sampai di halaman terakhir album foto itu.
“Bunda, Oik kangen sama bunda. Bunda apa kabarnya disana? Bunda jangan hukum bunda Shilla ya, ini semua bukan salah dia. Ini salah Oik. Salah Oik yang nggak patuh sama perintahnya, maafkan Oik Bunda, maafkan Oik Allah. Do’akan Oik bunda, biar Oik sabar dan kuat untuk menghadapi bunda Shilla. Bunda juga jangan marah ya sama ayah, ini bukan salah ayah kok.” Kata Oik dengan senyuman tulusnya, ia terus memandangi foto bundanya di sebuah figura, lalu ia menciumnya sangat lembut dan dalam. Seakan yang ada di dalam foto itu nyata.
***
                Pagi ini terlihat agak mendung, Oik bangun. Badannya terasa sakit semua. Tapi apapun yang terjadi ia harus tetep sekolah. Saat ia hendak bangun, ia mendengar seseorang sedang berbicara di bawah.

Di tempat lain,
‘tok,tok,tok’
Seseorang membuka pintu. Seorang wanita paruh baya keluar.
“Siapa?” tanyanya.
“Em, Oiknya ada tante?” tanya orang itu yang tak lain adalah Cakka.
“Oik gak tau kemana” ujarnya ketus.
“Tante tau Oik kemana?” Tanya Cakka lagi.
“Ngapain sihnyari dia? Mending sekarang juga kamu pergi! Kecil-kecil udah berani pacaran” ketusnya.
“Tapi tante..”
“Sana pergi. Sekali lahi saya katakan, Oik nggak ada disini. Udah mati bareng ibunya kali” Kata wanita itu masa bodoh.
“Tante jangan bilang gitu ya, bagaimanapun dia juga anak tante walaupun tiri.” Cakka kini malah balik marah kepadanya.-waktu di danau, Oik bercerita tentang ibu tirinya-
“Udah berani kamu sama orangtua? Pergi sana!” usirnya, kini sambil mendorong-dorong Cakka agar menjauh dari rumahnya. Tak lupa ia gembok pintu gerbang agar Cakka tak lagi bisa masuk.
                Setelah Shilla masuk ke dalam rumah, Cakka melesat pergi dengan motornya. Di dalam otaknya hanya memikirkan gimana keadaan Oik, dimana ia sekarang.

                Acha dan Sivia menunggu Oik di dalam kelas, tak biasanya Oik datang terlambat. Itu pun kalo Oik berangkat. Kedatngan Cakka ke kelasnya, Acha dan Sivia menyambutnya dengan berbagai pertanyaan.
“Lho, Oiknya mana Kka? Bukannya kamu jemput Oik ya?” Tanya Acha bingung.
“Iya Kka, kok Oiknya nggak bareng kamu sih?” kini giliran Sivia yg berkata.
“Nah itu masalahnya kenapa gue kemari. Gue mau nanya ma kalian, Oik kemana?” Tanya Cakka.
“Kok nanya ke kita. Dari tadi Oik belum berangkat, dikira kita ya Oik sama kamu gitu” jawab Acha.
“emang sih tadi gue ke rumah Oik, niatnya mau ngejemput. Tapi yang keluar mama tirinya. Gue nanya Oik kemana, eh dia malah bilang Oik nggak ada di rumah. Aku tanya kalian, mungkin saja kalian tau kemana Oik. Kalian kan sahabatnya”
“Kita gak tau Oik kemana supah deh, duh kemana ya Oik?” Jawab plus tanya Sivia khawatir.
“Ya udah mending ntar pulang sekolah kita cari bareng-bareng.
***
2 hari telah berlalu
                Dengan keadaannya yang kurang enak badan, Oik masih harus mengerjakan tugasnya. Otomatis ia terpaksa membolos.  Tadi sebelum Shilla pergi, ia telah mewanti-wanti Oik agar tidak menerima sembarang tamu, terutama teman-temannya dan juga Cakka.
                Hari sudah mulai siang, Oik sedang menyirami tanaman di halaman depan. Terdengar suara deru motor berhenti di depan gerbang. Oik mendekatinya, ia kaget ternyata yang datang adalah Cakka. Ia bingung harus ngomong apa. Oik berusaha menghindar dari Cakka. Ia meninggalkan selang yang masih memancarkan air,
“Oik tunggu” teriak Cakka.
Oik hanya bisa menghentikan langkahnya, dan ia hanya diam mematung.
“Selama ini kamu kemana sih Ik? Kita tuh khawatir nyariin kamu, kamu gak berangkat tanpa ketearangan lagi. Seenggaknya kamu telfon Via atau Acha kek. Mereka tuh kelimpungan nyari kamu.” Nadanya seperti menandakan bahwa ia marah, khawatir, dengan keadaan Oik. Cakka berusaha membuka gerbang, dan berhasil. Ternyata gerbangnya tidak di gembok. Cakka berlari menuju ke arah Oik. Ia memeluknya sangat erat.
“Oik, kamu tau gak sih? Selama ini aku gak konsen belajar, gara-gara aku khawatir dengan keadaanmu. Kamu janji kan nggak kayak gini lagi?” Tanyanya meyakinkan Oik.
“Kka, lepasin. Aku mohon Kka.” Oik masih tetep nggak berbalik, ia pun berusaha untuk melepaskan tangan Cakka dari pinggangnya.
“Aku nggak mau lepasin kamu lagi. Sebelum kamu janji nggak kayak gini lagi, nggak ngehindar lagi dari aku.”
Kini Oik berhasil melepaskan tangan Cakka dari pinggangnya. Dan berbalik menatap Cakka tajam, “Aku nggak bisa janji sama kamu. Oh ya, yang buat di danau itu aku udah mutusin”
“Bener Ik? Jadi kamu mau jadi pacarku” Tanya Cakka berbinar.
“Maaf, aku nggak bisa terima kamu. Aku nggak cinta sama kamu. Lebih baik sekarang kamu pulang dan jangan peduliin aku lagi. Aku mohon Kka” Ujar Oik, semua itu salah besar. Padahal ia sangat berharap untuk mengatakan ‘aku mau jadi pacar kamu Kka, aku cinta sama kamu’. Namun rasanya susah, apalagi Ada tante Shilla yang jelas-jelas mewanti-wanti agar tidak berhubungan dengan Cakka.
“Oik tatap mataku Ik, kamu nggak serius kan buat ngomong gitu? Aku yakin kamu pasti punya rasa yang sama denganku. Benerkan Ik?” Tanya Cakka berusaha meyakinkan Oik lagi.
“hhhh... itu semua salah. Yang aku omongin tadi benar.”
‘itu semua benar Kka, yang kamu omongin itu benar. aku sangat cinta sama kamu’ batinnya.
“Tapi Ik,..”
“mending kamu pulang deh Kka, sebelum bunda datang” kata Oik datar. Ia melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun Cakka lebih dulu mencekal tangannya. Cakka heran dengan warna biru ke hijau-hijauan yang ada di lengan Oik. Dan juga warna merah di pipi sebelah kirinya.
“Ik, ini tangan kamu kenapa? Pipi kamu juga. Cerita ke aku Ik, siapa yang ngelakuin ini semua?” tanya Cakka khawatir sambil memegang luka yang ada di tangan Oik dan juga pipi Oik.
“Oh itu nggak kenapa-kenapa kok. Tenang aja, ini di pipi gara-gara di gigit nyamuk terus aku kukur deh. nah, kalo yang di tangan gara-gara aku kurang berhati-hati, natap pintu deh. bener kok” Ujar Oik, kini ia mulai tersenyum.
“Serius? Tapi ini kayak bekas tamparan tangan deh.” Tanya Cakka menyelidik.
“Bener. Ya udah mending kamu pulang sekarang aja deh, bentar lagi bunda pulang”
“Ya udah aku pulang. Kamu hati-hati ya, kalo ada apa-apa bilang ke aku.”
“Sipp”
Cakka pun meninggalkan rumah Oik.
“Fiuh.. hampir aja” Kata Oik sambil melihat lengannya yang terasa nyeri kena pukulan dari ibu tirinya.
***
                Hari-hari dilalui Oik seperti biasa, ayahnya belum pulang juga.  Shilla mengajaknya pergi entah kemana.
                Kata Shilla untuk beberapa bulan mereka akan tinggal di rumah yang udah di beli Shilla mungkin. Apa rencananya udah berhasil?
“Ini rumah siapa tante?” Tanya Oik bingung.
“Udah deh kamu diem aja! Masih mending aku ajak tinggal kamu disini. Bentar lagi Ayahmu itu akan bangkrut. Jadi mulai sekarang berterima kasihlah kepadaku” Jawabnya enteng.
“Nggak mungkin. Ayah nggak pernah korupsi, terus sekarang Ayah kemana?” tanya Oik.
“Tau” jawabnya singkat.

Di tempat lain,
                Sebuah mobil berhenti di depan rumah mewah. Kaca mobil mulai diturunkan. Ia melihat tulisan yang tertulis di depan gerbang. ‘DI JUAL. HARAP HUBUNGI NO. 081987xxxxx’. Orang yang ada di dalam mobil itu menggeram kesal.
“Apa-apaan ini? Sion, antar saya ke Kantor cepetan”
“Baik pak Riko.”
                Mobil itu pun meninggalkan rumah besar itu.menuju ke kantor yang Riko maksud. Sesampainya di kantor ia pun langsung marah-marah kepada semua karyawannya yang kini terlihat sedang duduk-duduk santai tanpa melakukan aktivitas.
“Apa-apaan ini? Keanapa kalian nggak kerja? Cepetan kerja!” marah Riko.
Seseorang datang menghampirinya. “Maaf Pak Riko, perusahaan kita terancam bangkrut. Kami semua bingung apabila nanti kami semua akan di PHK.”
“Kok bisa?” marahnya ke orang tadi.
“Pak, mari kita keruangan saya. Saya mau ngasih laporan keuangan selama bapak tidak ada.” Riko pun mengikuti pegawai tadi menuju ke sebuah ruangan.
“Pak ini laporan keuangan selama beberapa bulan lalu dan sekarang.” Orang tadi menunjukkanlaporan keuangan perusahaan itu.
“Shit, gila ini gila Alvin!” makinya. “Ini kenapa keluaran lebih banyak daripada pemasukan? Ini apa lagi, bulan Juni keluaran samapi mencapai 1 M itu giamana? Kalian apakan aja uang itu.”
“Maaf pak, ini semua atas permintaan Bu Shilla. Itu semua juga atas izin bapak”
“Alvinnn, kamu saya percayai untuk mengurus keuangan, tadinya kamu jangan terima permintaan Shilla gitu aja dong sebelum saya bilang sendiri ke kamu.”
“Tapi disini ada tanda tangan bapak” Alvin mengeluarkan semua cek..
“Ya sudah, kita urus bareng-bareng masalah ini. Saya yakin ini bisa di atasi. Tolong bantu saya Alvin. Sekarang kamu tahu keberadaan Shilla dimana?” tanya Riko.
“saya tidak tahu Pak. Tapi kayaknya Bu Shilla ke daerah Yogya.”
“Terus dia bawa Oik anakku?” Riko Shock mendengarnya.
***
                Seluruh polisi telah berpatroli ke kota Yogya untuk mencari keberadaan Shilla dan Oik berada.
Riko dari tadi berkutat dengan hp’a. Seperti sibuk menelpon seseorang namun tak kunjung ada jawaban dari seberang.
“Halo Cakka, kamu bisa bantu om buat cari Oik?” tanya Riko.
“Iya om, Cakka bisa. Sudah dari kemarin Cakka mencari Oik. Sekarang om dimana?” tanya Cakka.
“Saya di daerah kota Yogakarta.”
“Baik om, Cakka sama temen-temen segera kesana”
Tutt, sambungan putus.


                Cakka yang baru saja mematikan sambungan telpone dari om Riko, ia segera menghubungi Ozy, Gabriel, Sivia juga Acha buat nyari Oik bareng-bareng.
Cakka dan rombongan pun telah meluncur menuju ke Kota Yogyakarta. Ia sangat khawatir sekali dengan keadaan Oik.
“Kka, mending loe diem dulu deh. ini aku masih nyetir, Ntar kalo nabrak gimana” ujar Gabriel yang ada di samping Cakka.
“Gimana gue bisa diem?”
“Sabar Kka” Ujar Ozy.

***
                Shilla kaget dengan mobil-mobil yang kini berjejer di depan rumahnya. Ia menyuruh Oik untuk tetap berada di dalam kamarnya.
“SHILLA... KELUAR KAMU!” Teriak orang dari luar sambil gedor-gedor pintu. Namun Shilla tak juga keluar,
                ‘BRAKKKK’ pintu di dobrak secara paksa. Semua polisi segera memeriksa semua ruangan yang ada di situ.
                Sedangkan Riko mengetuk pintu kamar. “Oik, Oik sayang kamu di dalam nak?” tanyanya khawatir. Namun tak ada suara.
‘BRAKK’ lagi-lagi ia mendobrak pintu secara paksa. Ia bener-bener kaget dengan pemandangan yang ada dalam.
“SHILLA LEPASIN OIK!”
“Aku nggak akan lepasin dia sebelum kamu menyerahkan semua aset kekayaan yang kamu punya.” Tantangnya kini tangan kirinya memegang tangan Oik ke belakang, dan tangan kanannya memegang pisau ke arah leher Oik.
“Ayah, tolong yah kasih aset itu.”
“Enggak Oik, kamu bisa selamat tanpa ayah melepaskan aset ayah.”
“Oh jadi kamu lebih memilih anakmu mati? Manusia bodoh!” umpat Shilla kesal. Ia juga sebenarnya tak tega memperlakukan Oik gini.
“Ayah tolong oik yah, kasih aset itu”
Karna Riko masih kekeh juga, tiba-tiba saja Saat ia mau menusuk Riko,
‘JLEBBB’
Keadaan hening. Mereka semua shock Shilla juga.
“CAKKKKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” teriak Oik.
“Cakka?” Riko kaget ternyata yang kena pisau Shilla bukan Oik juga bukan dirinya namun Cakka. Cakka telah menolongnya.
“Cakka kamu nggak apa-apa?” Oik langsung menghambur ke arah Cakka.
“Aku.. nggak.. ke..napa..ke..napa Ik” ucapnya terbata-bata. Masih sempatnya ia tersenyum.
“Angkat tangan saudari Shilla” Sang polisi baru datang dan segera menangkap Shilla.
“Sekarang juga bawa Cakka ke rumah sakit” Ujar Riko.ayah Oik.
Gabriel dan Ozy pun segera membopong Cakka, sebelum ia kehabisan darah.

***
                Di sebuah ruangan di salah satu rumah sakit. Seseorang duduk di kursi samping Tempat tidur.
“Cakka, bangun Kka. Aku mohon bangun. Kamu gak kasihan apa sama aku? Aku sangat mencintaimu Kka. Aku mau kok jadi pacar kamu” kata sang gadis, yang tak lain Oik.
“Oik, kamu nggak tidur sayang.” Sapa seseorang.
“belum ngantuk” jawabnya datar.
“Oik maafkan Ayah, ayah tau ayah salah. Seandainya saja ayah mau ngasih aset itu, pasti sekarang kita nggak akan ada yang terluka.” Sesal Riko.
“Udah terlambat Yah” Jawabnya dingin. Sedangkan Sivia, Acha, Ozy dan Gabriel sudah terlelap di sofa yang ada di ruangan itu.
“Maafkan Ayah”
                Tiba-tiba saja ada yang bergerak di genggaman Oik. Ternyata itu yang bergerak tangan Cakka.
“Kka, kamu sadar?” tanyanya setengah nggak percaya namu ia mulai bahagia.
Perlahan mata Cakka terbuka. “Aku dimana Ik?” tanyanya dengan suara lirih.
“Kamu di rumah sakit, aku panggilin dokter ya”
“Enggak usah Ik.” Cakka kini beralih ke samping oik. “Om Riko? Om nggak kenapa-kenapa kan?” Tanyanya khawatir.
“Om nggak apa-apa Kok kka, seharusnya om yang nanya ke kamu. Gimana kamu?” beliau tersenyum. “Maafkan om ya Kka, ini gara-gara om.”
“Ini bukan salah om Riko kok, anggap saja ini kecelakaan. Oik, kamu marah dengan om Riko?” tanya Cakka. Namun Oik hanya diam. “Ik, tolong ya kamu jangan marah sama om Riko, beliau berusaha mati-matian buat nyari kamu. Kamu nggak kasihan?” tanya Cakka.
“Iya, Oik juga minta maaf yah” sesal Oik.
“Nggak apa-apa kok Ik, ayah juga minta maaf nggak bisa kasih ibu yang baik buat kamu. Ayah merasa bersalah sama bunda kamu”
“Oik sayang ayah, ayah jangan tinggalin Oik lagi ya” Kini Oik memeluk ayahnya.
“Iya, ayah janji nggak akan ninggalin kamu” Riko mengusap dengan lembut punggung Oik.
“Ekhm, ya sudah ayah tidur dulu ya. Kalian ngobrol dulu aja. Hehehe” ujarnya jahil.
Setelah Ayahnya pergi, kini hanya kebisuan yang menemani mereka.
“Oik, apa kamu masih mau untuk merubah pendirian kamu?” tanya Cakka hati-hati. Oik menunduk malu. Ia mengangguk pelan. “Beneran Ik? Thanks banget ya” Ujar Cakka kegirangan “Auh...” rintihnya.
“Aduh Kka kamu kenapa? Sakit ya? Makanya jangan keterusan, masih sakit juga” omel Oik khawatir.
“Habisnya kelewat seneng sih, jadi kamu mau kan jadi pacarku?”
“Iya Cakka Nuraga. Harus berapa kali aku bilang hmm” geram Oik gemas.
“Hehehe... Love you Ik”
“Love you to Kka”

_TAMAT_

Bunga Citra Lestari - Cinta Sejati ( Ost. Habibie & Ainun )






Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku

Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah

Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu

Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan

Pasti tahu cinta kita sejati
Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati...

Lukisan Cinta Oik -Cerpen-





‘Oek, oek,oek’ akhirnya bayi itu telah terlahir ke dunia.
“Selamat ya, pak. Bayi anda laki-laki.” Ujar seorang suster.
“Makasih Tuhan, Ih unyu banget deh anak papa. Boleh saya menggendongnya sus?” Pinta Alvin, Ayah dari bayi itu.
“Baiklah, pak.”
Senyuman lega dari semua orang yang berada di kamar itu tak berlangsung lama sampai Sivia kembali mengaduh kesakitan.
“Auh... Dokter perut saya kenapa lagi? Sakit banget ini,”
“Sus, ayo sus. Mungkin saya anaknya kembar.” Mereka bertindak dengan cepat, karena melihat keadaan Sivia yang semakin lemah.
Alvin memberikan bayinya kepada suster yang satunya lagi, ia kembali mendekat ke arah Sivia untuk membantu memberikan semangat.
“Sayang, bertahan ya. Ayolah demi anak-anak kita.” Alvin memegang sebelah tangan Sivia dan menciumnya. “Dok, lakukan yang terbaik dok untuk istri dan anak saya.”
“Pak Alvin sebaiknya berdo’a kepada Tuhan, agar proses ini lancar.” Ujar Suster.
‘Oek, Oek, Oek”  suara tangisan bayi kembali terdengar, menandakan anak keduanya telah lahir.
“Gimana Dok?” tanya Alvin.
“Dia sangat cantik Pak Alvin seperti ibunya. Senyumnya, dia perempuan.”
“Coba saya ingin menggendongnya.” Ujar Alvin dengan senang.
Dokter mengalihkan bayi itu ke tangan Alvin.
“Iya bener. Siv, dia seperti kamu lho Siv.” Sivia hanya tersenyum lemah. Namun ekspresi  muka Alvin berubah saat dirasakannya ada sesuatu yang aneh. “Lho, dok. Kenapa bayi ini tidak bergerak seperti yang laki-laki tadi?” Tanya Alvin mulai sedikit was-was.
“Maaf, anak bapak cacat. Dan ini tidak bisa di obati. Karena anak bapak cacat bawaan.”
‘Jeder’
“Gak mungkin Dokter, gak mungkin anak saya cacat. Dia bukan anak saya.” Alvin mengacak-acak rambutnya.
“Al...” Panggil Sivia lemah sambil tersenyum.
“Sivia, dia bukan anak kita kan?”
Sivia hanya menggeleng dan tersenyum. Lalu matanya tertutup, untuk selamanya. Bunyi monitor yang menunjukkan garis lurus.
Dokter dan suster segera bertindak secepat mungkin. “Dokter Sivia kenapa? Dok, dia kenapa dok?” Alvin terus berteriak panik.
Dokter dan suster telah melakukan yang terbaik, melakukan semaksimal mungkin. “Kami sudah melakukan semaksimal mungkin. Maaf, Pak. Istri anda telah tiada.”
“Sivia.........!!!!! Sayang, kamu nggak boleh pergi. Sivia sayang, kamu hanya tidur kan? Iya, kamu cuman tidur. Hahaha” Setelah terdiam,Alvin beralih kepada kedua bayinya, dan ia memandang Putrinya dengan mata menyala-nyala penuh amarah. Alvin menghampirinya, “Ini semua pasti gara-gara kamu! anak cacat! Kamu harus bertanggung jawab, Sivia istriku mati gara-gara kamu!!”
Sebagai seorang pengusaha ternama, Alvin pastinya malu mempunyai anak cacat. Jadi apapun bakalan ia perbuat demi menjaga kehormatannya.

10 Tahun kemudian

“hiks, hiks... ampun Pa, ampun. Oik nggak bersalah Pa, enggak. Ampun Pa,” Mohon seorang anak perempun.
Alvin menyeretnya masuk ke dalam kamar mandi. “Kenapa sih, kamu selalu aja bikin masalah!! Mama kamu mati, itu semua gara-gara kamu! iya kan? Lalu sekarang kamu mau merusak pesta Ulang Tahun kakakmu, Cakka? Iya, Jawab!!!” Alvin terus mengguyur Oik dengan air, ia menjambak rambut Oik, “Denger ya, ini akibat kamu keluar dari kamar!” Alvin menoyornya.
“Pa, tapi Oik pingin ikut pesatanya kak Cakka. Ini juga hari Ulang Tahun Oik, pa” Oik terus menangis. Gaun pestanya sudah basah kuyup,
“Mbok!!!!”
“Iya Tuan,”
“Kamu pembantu apaan sih? Disuruh jaga anak kecil aja gak becus! Sekarang biarkan dia di situ! Jangan kasih makan, salahnya sendiri!” Setelah itu Alvin meninggalkan tempat itu.
“Non Oik, “ Simbok masuk ke kamar mandi dan langsung menghambur ke dalam pelukan Oik. “Non, non kenapa bisa begini?” tanya Simbok.
“mbok, kenapa papa benci banget sama Oik? Papa nggak sayang sama Oik. Apa Oik bukan anak papa?” Tanya Oik di sela-sela tangisnya.
“Sttt.. non nggak boleh ngomong seperti itu. Tuan Alvin itu, papa non Oik sama den Cakka.”
“Mbok maafin Oik ya, karna udah bandel. Nggak mau dengerin nasihat mbok buat nggak turun.”
“Itu bukan salah non Oik kok, lagian non itu juga berhak berada di bawah, dan ikut pesta bareng den Cakka dan teman-temannya.” Simbok mengusap-usap rambut Oik.
“Tapi temen-temen kak Cakka pada ngejek Oik,”
“Ya sudahlah. Non jangan nangis terus, senyum. Happy Birthday non Oik.” Ujar simbok.
“Makasih ya mbok, J
“Ayo, non kita balik aja ke kamar. Bibi bantu berdiri.”
Simbok membantu berdiri Oik, setelah bisa berdiri tegap, barulah ia memberikan kruk itu pada Oik.

-Keesokan Harinya-
“Kak Cakka, kakak mau kemana?” tanya Oik di pagi hari itu.
“Kakak mau ke luar negeri,” Ujar Cakka sambil tersenyum.
“Oik ikut ya kak?” minta Oik.
“Iya, Oik ikut kok.” Cakka mengacak rambut adeknya.
“Oik mau minta kado apa dari kaka?” tanya Cakka.
“Oik pingin kotak musik, kak” J
“Ya sudah, nanti kakak beliin.”
Waktu Cakka dan Oik sedang asyik-asyiknya bermain di ruang tamu, tiba-tiba saja Alvin datang.
“Cakka ayo kita pergi sekarang!”
“Iya, Pa.”
“Pa, Oik ikut kan?” tanya Oik berharap.
“Kamu? kamu di sinilah!” Uajr Alvin kasar.
“Tapi, pa? Bukannya kita mau tinggal di luar negeri lama? Masak kita ninggalin Oik sih?” tanya Cakka.
“Cakka, kamu kan mau sekolah di sana. Kalau ada dia, pasti semuanya berantakan.” Alvin berubah menjadi lembut saat berbicara dengan Cakka.
“Pa, Oik ikut. Oik nggak mau di sini sendirian, Oik mau ikut Kak Cakka.”
“Ya sudah sekarang kamu ke atas dulu!”
Mata Oik berubah menjadi berbinar-binar.
“Beneran pa?” Alvin hanya mengangguk, Dengan rian Oik pun naik ke atas dibantu dengan kruk yang hanya sebelah itu.
“Pak Min, sudah siap semuanya? Kita berangkat sekarang, Oh ya, ini ada uang. Tolong kamu beri rumah, aku titip Oik di situ. Jangan pernah pernah pake rumah ini! Pokoknya jangan sampai ada yang mengetahui rumah itu. hanya kamu saja!”
Alvin menuju ke mobilnya diikuti Cakka dibelakangnya. “Lho, Pa. Kita Oiknya dulu dong. Tadi katanya Oik juga ikut?” tanya Cakka memberhentikan langkahnya.
“Kelamaan. Kita sudah ditunggu pesawat Cakka. Kamu nggak mau kan? Ntar papa beliin semuanya deh.”
Saat mendengar deru mobil, Oik tertegun. Oik langsung turun ke bawah. Mencoba secepat mungkin berjalan,
“Kak Cakka!!! Papa!” namun saat sudah berada di depan Alvin dan Cakka sudah berada di dalam mobil, “Pa, kak Cakka!” Oik terus berlari dengan airmatanya yang berlinang, namun ia di tahan Pak min. Sampai mobil itu melesat.
“Pak min, kenapa mereka ninggalin Oik?”
“Non, ikut bapak ya. Kita beli mainan yang banyak.”
“Nggak Pak, Oik maunya sama Kak Cakka.”
“Ayo! Cepetan!” Pak min berubah menjadi kasar.
“Min, mau dibawa ke mana non Oik.?” Tanya Simbok.
“Diem aja loe!”

***
10 tahun kemudian

Di sebuah sanggar lukis, di situ banyak sekali Lukisan-lukisan yang cantik dan indah. Sepertinya sang pelukis penuh dengan cintanya saat melukis, sehingga mampu melahirkan karya seindah ini. Tak lupa di bawahnya tertulis nama –Oi’ CS-
Di sudut lain sanggar itu, seorang gadis tengah duduk di tempat seperti padepokan, ia tengah melukis. Tiba-tiba saja dari belakang ada yang menutupi matanya.
“Hayo tebak, coba!”
“Ini siapa? Obiet?” saat tangannya menyentuh tangan orang yang menutupinya, “Acha?”
“Ya, ketahuan deh.” Gadis itu melepaskan tangannya. “Kamu tahu nggak, Ik? Aku punya kejutan lho buat kamu, dan sanggar ini.” Acha tersenyum misterius.
“Kejutan apa, Cha?” tanya Oik mengernyitkan dahinya.
“Mau tahu? Apa ya?”
“Iya, ih Acha nyebelin banget deh. ayo cepetan!”
“Iya, iya. Sanggar kita direkomendasikan untuk mengikuti pameran! Yeeyyyyy!!!” Dengan hebohnya Acha menjelaskannya.
Oik masih saja mematung tak habis pikir, “Masak?’
“Iya beneran. Dan semua lukisannya adalah lukisan kamu, Oik CS.”
“Yeyy... akhirnya Cha, sumpah aku nggak percaya.” Acha dan Oik pelukan.
Tiba-tiba saja seseorang datang. “Woy, pada ngomongin apa kalian?” Orang itu langsung mengambil alih duduk di dekat Oik.”
“Eh, Obiet, ngagetin aja. Itu sih Oik mau ikut pameran.” Acha melirik Oik dengan senyum menggoda, sedangkan Oik yang dilirik begitu hanya tersenyum malu-malu.
“Wah, selamat Ik. Kalau begitu J
“Oh ya, ini kan sudah sore. Pulang sekarang aja yuk.” Ajak Oik.
Acha dan Obiet hanya mengangguk, dan mereka semua merapikan tempat itu.

Mereka bertiga berbeda jurusan pulang. Setelah salam perpisahan, kini giliran Oik sendiri berjalan, dan ia menengak-nengok untuk melihat jalan. Dengan kedua tangan kirinya membawa map dan tas, sedangkan tangan kanannya memegang kruknya.
Saat Oik akan menyeberang tiba-tiba saja ada sebuah truk yang melaju dengan cepat dari arah kanan.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaa............!!!!”
‘Bruuukk’

Suara sirene ambulance memenuhi koridor rumah sakit. Dengan gerakan Cepat sang suster membawa korban kecelakaan ke dalam memasuki UGD.
“Dok, tolong selamatkan anak itu dok. Berapapun biayanya dok,” Ujar sang sopir.
“Iya, Pak. Bapak berdo’a saja. Permisi”
Karena di kepala Oik mengalami pendarahan, akhirnya Dokter menyarankan untuk melakukan operasi besar di otaknya.
Dokter dan suster masih saja bekerja keras untuk melalukan operasi itu.
Oik selamat dan  kini masih berada di ruang ICU karna dia belum juga sadar.
“Gimana Pak, keadaan teman saya?” tanya seorang gadis.
“Teman kamu masih di ruang ICU.” Acha segera kemari setelah tadi ia dihubungi oleh pihak rumah sakit yang menemukan no. Acha di HP Oik.

Karena keajaiban Tuhan, Oik kini sudah bekerja seperti biasanya. Tapi keadaannya masih harus dipanatau. Kadang Acha atau Obiet mengantarnya chek up, kadang juga ia sendiri.
Saat Oik pulang ke rumah, seperti biasanya. Bau alkohol menyambutnya. “eh, loe udah pulang. Gue minta uangnya lagi.”
“Lho, bukannya bulan kemarin Papa udah ngirim uang?” tanya Oik memprotes.
“Loe begok atau apa sih? Ya jelas kuranglah, uang kemarin itu habis juga gara-gara loe bocah sialan.!” Ujar Pak Min dengan keadaan mabuknya. Namun Oik tak menghiraukannya, ia segera pergi dari tempat itu dan menuju ke kamarnya.
“Shit..” maki Pak Min.
Begitulah keseharian yang dilakukan Pak Min, uang kiriman dari Alvin disalah gunakannya hanya untuk berjudi dan minum-minuman. Untungnya Oik masih punya sanggarnya, dan beberapa perabotan rumah tangga sudah terjual untuk melunasi hutang-hutang hasil berjudi itu.
***
Rumah yang berdiri kokoh dan mega di hadapannya itu kini terlihat sepi. Seorang Pria keluar dari mobil sportnya dengan menenteng tas di punggung dan koper.
‘ting,tong,ting,tong’
Tak lama kemudian pintu itu terbuka, muncul wanita paruh baya dari dalam. Sesaat wanita itu tertegun.
“Mbok,”
“Den Cakka.... ini beneran den Cakka?” tanya wanita yang dipanggil simbok itu tak percaya.
“Iya, mbok. Ini Cakka. J” Wanita tadi langsung menghambur ke pelukan Cakka.
“Aden kapan pulang? Kok nggak kasih kabar sama mbok? Mbok kangen tahu sama aden.” Simbok menangis bahagia. 
“Cakka juga kangen sama simbok, sama Oik juga.” Ujar Cakka, “Lho, Oik mana mbok? Ada di dalam ya?” pertanyaan Cakka membuat simbok diam,
“Maaf, den. Simbok nggak bisa tahan non Oik di sini, Pak Min, membawanya entah kemana.” Ujar simbok lesu.
“Sejak kapan mbok?” tanya Cakka lagi, kini senyumnya sudah menghilang. Hanya kekhawatiran seorang kakak yang kini menghiasi wajahnya.
“Sejak setelah kepergian Tuan dan Aden pergi waktu sepuluh tahun yang lalu.”
“Simbok tahu nggak? Alamat rumah Pak min?”
“Pak Min, sudah tak tinggal lagi di rumahnya yang dulu. Dan sampe sekarang simbok nggak ketemu mereka lagi.


Oik masih menata lukisan-lukisan itu di dinding saat seseorang bertanya, “Mbak, apakah lukisan ini di jual?” tanya orang itu. lebih tepatnya Pria itu.
“Iya, mas. Bentar,” karna letak pakunya terlalu tinggi, maka Oik harus berjinjit dengan sebelah kakinya, itu sudah kebiasaan Oik namun kali ini keseimbangannya sedikit kurang yang membuat ia jatuh. “Aaa...”
‘Hap’
Oik jatuh dalam pelukan Pria itu. Saat Oik membuka matanya, matanya bertatapan langsung dengan mata dihadapannya. Dan kini hati Oik merasakan desiran, ia tersadar.
“Eh, maaf. J” Oik menjauh dan mengambil kruknya.
“Iya, nggak apa-apa. Lain kali hati-hati ya.” Pria itu berumur sekitar 20an sama seperti Oik, dengan potongan rambutnya yang menambah ketampanannnya. “Oh, ya. Lukisan ini dijual nggak?” tanyanya.
“Sebenarnya sih...”
“Dijual kok, iya nggak Ik?” tiba-tiba Acha muncul sambil membawa beberapa lukisan lagi. “Udah jangan malu-malu, itu pelanggan pertama kita Lho.” Bisik Acha sambil terkikik. Kemudian ia tersenyum kepada pelanggannya. “Ya udah kalian ngomongin dulu deh, gue mau naruh ini.” Setelah pamit, Acha pun pergi.
Setelah bernego, akhirnya lukisan itu kini menjadi milik Cakka. Cakka tersenyum dengan puas ketika memajang lukisan itu di dinding rumah yang telah ditinggalnya lama.
“Beres. Eh, tunggu. Kok seperti ada yang kurang ya?” Cakka mencoba mengingat-ingat kembali.”Ah, iya. Gue belum kenalan sama tuh cewek. Tadi temennya manggil Ik, ik siapa ya? Apa Oik? Oik juga suka melukis. Ah udahlah, besok mending ke sana lagi.”
“Ekhm...” Deheman itu mengagetkan Cakka dari gumamannya.
“Eh, Papa. J gimana Pa, sama perusahannya?” tanya Cakka dengan senyuman mengembang.
“Baik, lancar-lancar saja. Kamu sudah siap Kka? Buat gabung di perusahaan.”
“aku usahain. J” Cakka,
“Hahahaa...” Mereka tertawa bersama. “Udah sana tidur. Udah malam.”
“Siap Boss” Cakka hormat, seperti saat upacara.
***
Oik kini sudah tidak melakukan chek up lagi ke Rumah Sakit, karena ia tak mampu untuk membiayainya.
Akhir-akhir ini Oik mimisan kalau ia mengalami kecapean. Seperti saat ini, Oik mengusap hidungnya menggunakan tissue,
“Oik, kamu kenapa?” Tanya Acha khawatir saat melihat Oik mimisan.
Oik mendongak dan tersenyum, “Enggak apa-apa Cha, mungkin aku kecapean aja.”
Acha mengambil alih kuas Oik, “Biar kamu lanjutin besok aja ya. Mending kamu pulang aja gih, terus istirahat.” Acha mengemasi perlengkapan lukis Oik. Oik hanya mengangguk.
“Mau aku yang nganter, apa Obiet?” tanya Acha.
“Aku bisa pulang sendiri kok, Cha. Kamu sama Obiet jaga di sini aja,”  Oik meraih tas dan tongkatnya, “Aku pulang duluan ya, Cha.”
“Iya, hati-hati ya Ik!”
 Tak lama setelah Oik pergi, Cakka datang. Acha menoleh dan tersenyum.
“Eh, mas yang kemarin ya?” tanya Acha.
“Iya. Eh....”
“Mau cari Oik ya? Oiknya baru aja pulang tuh,”
‘Tapi dia Oik bukan yah?’ Cakka mengernyit. “Oh, ya sudah. Kalau gitu besok aku ke sini lagi aja,”
***
Akhirnya Cakka ketemu juga dengan Oik. Cakka menunggu sampai Oik selesai bekerja, kadang ia membantu di sanggar itu.
“Kamu sejak kapan suka sama melukis?” tanya Cakka waktu mereka duduk-duduk di taman dekat sanggar.
“Aku juga nggak tahu, dari kecil aku sudah suka melukis. Entah mengapa, aku selalu ingin melakukannya.”
“Aku jadi ingat saudara kembarku. Tapi aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Apa kamu Oik...” Ucapan Cakka menggantung.
“Kak Cakka?”
“Oik?” mereka berdua saling menatap dengan kerinduan di dua bola matanya.
Cakka memeluk Oik sangat erat, seolah-olah ia tak ingin melepaskannya. Mereka berdua larut dalam kerinduan itu.
“Gimana kabarnya papa, kak?” tanya Oik.
“Kenapa kamu masih mengingatnya, Ik?” tanya Cakka heran.
“Ya, bagaimana pun juga dia kan papa aku.”
‘Kakak bangga Ik, sama kamu. walaupun papa sudah berbuat buruk sama kamu, tapi kamu masih mau menganggap papa sebagai orangtua kamu.’
***
“Pa, aku sudah bertemu sama Oik. Dia tumbuh jadi gadis cantik Pa, dia melukis di sanggarnya. Apa papa nggak mau ngajak Oik tinggal di sini lagi sama kita?” Cakka berkata penuh binar.
“Kamu jangan merusak suasana papa deh, Kka” Alvin melengos.
“Tapi pa,..”
“Kamu mending siap-siap gih sana! Papa mau ngenalin kamu sama teman lama Papa.”
Dengan ogah-ogahan Cakka menuruti perintah Papanya.

“Wah, anakmu sekarang sudah besar ya Vin.”
“Iya, dia cakep lagi. Kamu kasih makan apa dia? kok bisa kayak gini. hahaha...”
“Iya dong, siapa dulu papanya. Alvin Sindunata.” Alvin menyombongkan dirinya.
“Namamu siapa nak?”
“Cakka tante,”
Sepanjang malam ini, Cakka tak bisa berkonsentrasi dengan acara makan malam itu. Pikiran Cakka hanya tertuju kepada Oik, sudah makankah dia? Rahang Cakka mengeras, saat tadi ia bertemu dengan Pak Min, di rumah itu disulap menjadi tempat perjudian.

***
Pagi hari saat Oik akan berangkat, tiba-tiba saja langkahnya di stop Pak Min.
“Eh, cewek sialan. Kenapa loe nggak bilang-bilang kalau Bapak loe itu sudah pulang! Kalau gitu kan, loe bisa minta uang ke dia. dengan alasan, loe lagi butuh buat biaya loe!” Pak Min memaki Oik.
Oik hanya menunduk. “Oik nggak mau ngerepotin Papa sama Kak Cakka, Pak.”
“Loe bener-bener anak sialan ya! Pantes bapak loe nggak mau ngakuin loe! dasar cacat, sukanya nyusahin orang saja.”
‘Plaakkk.’ Satu tamparan mengenai pipi mulus Oik,
Oik memegangi pipinya, di mulutnya sudah keluar darah. Tiba-tiba saja ia merasakan kesakitan di bagian kepalanya. Namun Pak Min tidak berhenti untuk menganiaya Oik.
Seketika Oik kehilangan kesadaran dan dirinya ambruk.
‘Hap’
Tepat saat itu seseorang menangkapnya. “Eh, loe apain adek gue!”
“Den Cakka, eh non Oik  tadi bandel,”
“Alah, nggak usah ngibul deh loe. Awas aja loe kalau sampai terjadi apa-apa sama dia. tunggu balesan gue!”
Cakka langsung membopong Oik menuju ke mobilnya. Dia melesat menuju ke RS.

Cakka duduk di hadapan Dokter, dokter itu bernama Rio.
“Gimana keadaan adek saya, Dok?” tanya Cakka.
“Kami belum bisa mendiagnosa apapun. Mungkin itu akibat dari Operasi Otak yang pernah di jalani Oik.”
“Apa, Dok? Operasi Otak?”
“Iya, Oik dulu pernah mengalami kecelakaan, korban tabrakan. Tapi setelah itu, dia hanya chek up beberapa kali saja. Orangtuanya yang menandatangani pemeriksaan itu, karena ia tak punya biaya.”
“Maksud anda itu Pak Min? Dia bukan orangtua kami, dia sopir.”
“Dan sepertinya Oik harus menginap di sini untuk melakukan beberapa tahap tes.”
“tolong lakukan yang terbaik dok untuk adek saya! Berapapun biayanya” Mohon Cakka.
“Baiklah Cakka. Kami akan usahakan.”
“Makasih dokter,”
Cakka keluar dari ruang dokter.

Sesampainya di rumah itu, Cakka langsung menggebrak pintu, sampai pintu itu jebol. Dengan emosi yang meluap-luap.
“Amin!!! Keluar loe sini!” Teriak Cakka. “Amin.....!!!!”
Amin yang sedang bermain judi dan di sampingnya ada seorang wanita langsung berdiri. “Aden? Ada apa ya?” tanyanya sok polos.
“Alah, nggak usah sok polos segala deh loe.” Cakka mencengkram kerah baju Amin, “Kenapa loe nggak bilang ke Papa kalau Oik kecelakaan! Dan pernah melakukan operasi besar pada otaknya. Jawab!! Kemanain uang yang tiap bulan Papa kirim, loe embat buat kayak ginian hah?!!” Cakka menonjok muka Pak Amin.
“Pergi loe semua!!! Inget ya, ini bukan rumah perjudian!!” Cakka mengusir semua orang yang ada di situ. Dan menendang kursi dengan keras, matanya penuh dengan kemarahan.
Semua orang lari terbirit-birit dan ketakutan. Cakka melayangkan tinjunya ke Amin berkali-kali, sampai Polisi datang dan menangkap Amin.
Setelah semua urusan beres, Cakka kembali ke rumah sakit untuk menemani Oik.

“Dek, bangun dong. Jangan tinggalin kakak... Katanya mau kado Ulang Tahun dari kakak?” Sebutir air mulai turun dari matanya. “Maafin kakak sama Papa ya,”
Tiba-tiba saja tangan Oik bergerak, matanya mengerjap.
“Oik, kamu sadar?” tanya Cakka sedikit senang.
“A..aku dimana kak?” Oik memandang kesekelilingnya.
“Kamu ada di rumah sakit. Udah kamu istirahat dulu, biar kakak panggilin dokter.”
Cakka berlari keluar, tak lama kemudian Dokter Rio dan suster datang untuk mengecek keadaan Oik.
“Kamu sudah baikan Oik?” tanya dokter.
“Udah dok, kira-kira kapan aku pulang ya?” tanya Oik.
“Kamu harus menginap dulu untuk melakukan ronsen. Jaga kesehatan kamu ya, jangan terlalu capek.”
Oik hanya mengangguk tersenyum lemah.
***
Setelah selesai melakukan berbagai tahap pemeriksaan, Oik sudah di bolehkan pulang. Tapi Oik kini pulang ke rumahnya yang dulu, betapa rindunya Oik.
“Kak, makasih ya.” Ujar Oik.
“Kamu nggak usah sungkan gitu.” Saat ini mereka duduk di teras depan rumah. “Oh, ya. Tunggu sebentar, aku punya sesuatu.” Cakka masuk ke dalam rumah, dan kembali dengan membawa sekotak benda dengan kertas kado menyelimutinya.
“Ini buat kamu.” Cakka mengangsurkan kotak itu,
“Ini apa?”
“Udah buka aja!”
“Ya udah deh aku buka.” Oik membuka kertas kado, dan membuka kotaan itu. Sebuah benda berbentuk hati berwarna merah kini sudah berada di tangannya. “Wah... bagus banget, kakak masih ingat sama ini?” tanya Oik tak percaya.
“Iya dong. Itu kan permintaan dari adekku tercinta :D” Cakka tersenyum. Dia senang melihat Oik bahagia.
Oik membuka kotak musik itu. terdengar sebuah nada yang biasa dipakai untuk tarian balet mengalun, dan seorang balerina menari-nari di atas kotak tersebut.
“Makasih ya buat kadonya. Aduh, Oik jadi bingung nih mau kasih kado apa?”
“Nggak usah juga nggak apa-apa. Oh, ya Ik. Aku punya teman di USA, mereka kakak beradik kembar. Namanya Ray sama Ozy. Gokil banget deh mereka berdua. Ray itu adiknya. Kata mereka, anak kembar itu yang jadi kakak sebenarnya yang keluar terakhir bukan yang pertama, karena dia tidak mau membiarkan adiknya terluka, merasakan sesak lebih lama di dalam kandungan, maka dia akan mengorbankan agar adiknya lahir duluan. Seperti kamu Oik, kamu dari dulu selalu melindungi aku, selalu menjagaku dari marahan Papa karena aku bandel, jadi yang lebih pantas jadi kakak itu kamu.” Cakka mengacak rambut Oik.
Oik meneteskan airmatanya saat mendengar cerita Cakka. Lalu Cakka memeluknya. “Kak Cakka juga, selalu ngebela Oik.” J
***
“ada Tumor yang tumbuh di kepala Oik.”
“Apa ini gara-gara operasi itu dok?” tanya Cakka was-was.
“Bisa jadi begitu. Tumor yang diderita Oik tumbuh dengan pesat, dan kita harus melakukan operasi secepat mungkin. Agar tumornya tidak menyebar.”
“Lakukanlah dok,”
“Tapi sayang, karna tumor Oik sudah menyebar keseluruh otaknya. Kalaupun operasi harapan hidupnya sangat tipis. Kami sudah tidak melakukan apa-apa. Hanya obat-obatan yang bisa menghambat pertumbuhannya, tapi bukan menghilangkannya.” Dokter menghela napas. “Seharusnya waktu Oik pertama mimisan, ia segera di bawa ke sini.”
Dokter Rio menepuk pundak Cakka. “Berdoalah, agar Tuhan memberikan keajaiban kembali pada dirinya.”

Namun keadaan Oik bukannya membaik kini malah memburuk. Oik sudah tahu tentang penyakitnya itu, dan Oik akan menyelesaikan projeknya secepat mungkin.
Oik terus menggerak-nggerakkan kuasnya di atas kanvas dengan hati-hati dan sangat mendetail. Ia tidak mau terjadi kesalahan sedikit pun dengan lukisannya kali ini. Mungkin lukisan ini akan menjadi lukisan terakhirnya.
“Oik... Ik,”
Seseorang memanggilnya. Dan Oik harus segera menutupi lukisannya.
“Kamu di sini? Aku cariin kemana-mana juga. ayo kita makan malam.” Ajak Cakka. Sesaat Cakka melirik ke arah lukisan yang tertutup kain. Ia memikirkannya.
“Ayo”
Oik berpapasan dengan Papanya. “Pa, ayo makan.” Ajak Cakka. Oik hanya mencoba untuk tersenyum kepada Papanya.
“Kalian dulu saja.” Ujar Papanya. Namun Alvin hanya diam saat melihat ke arah Oik.
Alvin semakin menyibukkan diri dengan pekerjaannya, sejak Oik tinggal di situ. Ia rindu dengan Sivia.

Malam ini Oik lembur lagi, sampai ia kembali mimisan. Saat Oik menunduk ingin mengambil warna merah, darah dari hidungnya mengalir dan jatuh menetes ke wadah cat. Oik tak sadar kalau yang digunakannya untuk mengecet itu darahnya bukan cat merah.
Oik terus memaksakan dirinya untuk terus melukis, ia sangat berharap lukisan itu akan segera terselesaikan sebelum waktunya tiba. Yang hanya menghitung hari lagi. Fikirnya.
Oik kesal sendiri saat ia tak pernah bisa untuk melukis seseorang yang sangat ia cintai dan kagumi, namun ia tak pernah bisa menggambarnya. Ia sangat berhati-hati untuk menggambar orang itu, pokoknya harus perfect.
Oik menutupi kembali lukisan belum jadinya dengan kain. Dan keluar dari ruangan itu untuk menuju ke kamarnya. Namun lagi-lagi ia bertemu dengan Papanya. Kali ini tak ada Cakka di sampingnya.
Oik menunduk, tak berani menatap sosok itu.
“Belum tidur?” sapanya. Walaupun singkat dan masih terdengar dingin, namun Oik sangat senang. Oik langsung mendongak dengan hati-hati.
“Belum,... Pa. Pa.. Papa belum tidur?” tanya Oik sedikit terbata karena gugup.  
“Nanti. Kamu tidur sana, sudah malam.”
“Iya, Pa.”
Sepanjang malam itu Oik terus tersenyum, karena ia bahagia. Papanya menyapa dirinya, hal yang sangat mustahil.
***
Sudah satu bulan dan lukisan itu akhirnya sudah jadi dengan sangat puas Oik memandangnya. Oik menutupinya, saat mau melangkah, pandangan Oik kabur.... keringat sangat deras mengucur di dahinya. Rasa sakit itu kini hadir kembali, dan ia mimisan. Oik mengusap hidungnya yang berdarah.
Sesaat semuanya berubah menjadi gelap.

Suara ambulance lagi-lagi memenuhi koridor rumah sakit, beberapa suster dan dokter bergerak cepat.
Cakka terus memegangi tangan Oik. “Oik, jangan tinggalin kakak. Bangun, Ik!”
Cakka ditahan oleh suster. “Maaf, mas. Tolong tunggu di luar.”
“Tapi, sus. Saya kakaknya.” Cakka memberontak.
“Iya. Tapi sebaiknya anda tunggu di luar. Kami akan melakukan yang terbaik.” Cakka pun mengalah,
Cakka terlihat sibuk mencari nomor Papanya dan ia menghubunginya. “Shit!” Cakka menggeram saat operator telepon yang berbicara.
“Papa kemana sih? Anaknya lagi sekarat juga. Bisnis terus!!” Cakka mengacak rambutnya frustasi.

“Saat ini keadaan Oik sudah sangat parah, padahal kemarin kesehatannya sudah membaik.” Ujar Dokter Rio.
“Iya, dok. Saya juga sempat merasakan itu.”
“Orangtua kamu kemana?” tanya dokter lagi.
“Taulah dok, anak lagi sekarat yang di urus cuman bisnis.”
“Tolong hubungi orangtuamu tentang keadaan adikmu.” Dokter Rio menyarankan,

Cakka memasuki ruang rawat inap Oik dengan menggunakan baju steril. Oik kini sudah sadar, gadis itu sedang memandang keluar jendela dipangkuannya ada kotak musik yang masih di putar.
“Oik,”
“Kak Cakka?”
“Iya, ini aku, Ik. Kamu sudah mendingan kan? Aku suapin makan ya?” tawar Cakka.
“Nggak ah, Oik nggak mau.” Oik menggeleng. “Kak, Oik sayang Kakak. “
“Iya, Ik. Kakak juga sayang sama kamu.” Cakka tersenyum, walau hatinya pedih melihat keadaan Oik.
“Oik sayang sama Papa.” Ucap Oik lirih.
Walaupun Cakka masih bisa mendengarnya, ia tak bisa menjawab apa-apa.
Cakka menyeka airmatanya. “Ik, kakak suapin ya.” Cakka mengalihkan perhatian.
“Oik pingin di peluk Papa, Oik juga pingin di cium papa.” Oik terus berkata dengan lirih.
“Iya, Oik. Iya.”
Oik menoleh ke arah Cakka, ia mengusap airmata Cakka. “Kak Cakka, kenapa nangis? Yah.. gantengnya ilang deh J” dalam keadaan kayak gini, Oik masih bisa melawak.
“Kakak nggak nangis kok, tadi kelilipan.” Ujar Cakka ikutan tersenyum.
Namun senyum Oik menghilang, “Kenapa Papa selalu menyalahkan Oik? Apa gara-gara Oik cacat? Atau karna mama meninggal karna melahirkan Oik? Kalau gitu tadinya Oik nggak usah lahir aja sekalian kak, biar mama masih terus hidup diantara kalian dan Papa tersenyum kembali. Kalau hidup Oik hanya beban bagi Papa, Oik nggak dilahirkan. Oik sayang sama Papa, sama Kak Cakka.”
Cakka hanya bisa memeluk Oik di sela, tangisnya. Oik tertidur dalam pelukan Cakka. Cakka mengecup keningnya dan membaringkan Oik. “Kakak juga nggak mau gini, Ik. Kakak juga akan memilih seperti kamu kalau akhirnya Papa kayak gitu. Kalau kamu nggak lahir, mending kakak juga nggak usah lahir. Ini semua bukan salah kamu, tapi salah Papa.”
Cakka mengambil kotak musik itu dan menaruhnya di atas meja. Cakkka membiarkan kotak musik itu terbuka, dengan balerina yang terus menari dan lagu yang diulang-ulang.


Cakka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di Kantor papanya, semua pegawai memberinya hormat. Namun hormat itu tak ia hiraukan, Cakka terus berjalan.
“Maaf Pak Cakka, Pak Alvinnya sedang ada rapat di dalam.” Ujar sekertaris Alvin.
“Panggil Pak Alvin sekarang juga,”
“Tapi Pak..”
“Ah udahlah biar saya saja!!” Cakka membuka pintu rapat dengan kasar. Semua orang menoleh padanya, terutama Alvin. Yang terlihat malu sama kliennya.
“Maaf, Pak Alvin. Pak Cakkanya terus ngotot.” Ujar sekertaris tadi.
Alvin menghampiri Cakka. “Ya udah. Kamu apa-apaan sih?”
“Oh, jadi papa nyalahin Cakka. Seharusnya Cakka yang marah sama Papa, Papa apa-apaan sih? Anaknya lagi sekarat juga, masih aja yang nompr satu Perusahaan. Aku kecewa Pa, sama Papa.”
“Cakka, ini semua juga buat kamu nak.” Alvin mencoba lembut,
“Tapi ini bukan buat Oik Papa!” Bentak Cakka. “Aku nggak butuh semua ini, kalau akhirnya Oik kesakitan. Dari awal aku nggak mau ikut sama Papa pergi ke USA. Ini semua salah Papa, Oik jadi kayak gini!!”
“Cakka kamu dengar Papa, Papa yang lebih sakit. Mama kamu meninggal karna dia!”
“Itu semua bukan Salah Oik Pa, tapi takdir yang membuat mama meninggal. Papa kecewa kan karna Oik cacat? Papa malu punya anak cacat!!” Tegas Cakka,

Sedangkan di kamar Oik, gadis itu masih saja tidur. Wajahnya terlihat damai, suara monitor yang beradu dengan lagu dari kotak musik terus mengalun. Namun tiba-tiba saja angin berhembus dan kotak musik itu tertutup, diiringi bunyian panjang dari monitor detak jantung Oik. Menandakan juga telah tertutupnya mata gadis itu untuk selama-lamanya.
Di sepanjang koridor Rumah Sakit terdengar derap langkah panjang-panjang. Mereka semua bergerak dengan cepat.

Terlihat Cakka sedang duduk di bangku dengan menunduk.
“Gimana Kka, dengan keadaan Oik?” tanya Alvin.
Cakka mendongak, menatapnya penuh menyala. “Merasa bersalah, Pa?” sindir Cakka yang masih terduduk.
“Maafin, Papa nak. Papa baru tersadar.”
“Memang. Memang orang-orang tak salah, penyesalan selalu datang belakangan. Kenapa nggak dari dulu Papa gini? Oik nggak harus menderita terlebih dahulu kan?”
“Maafin Papa. Oik gimana?”
“Lihat aja di dalem.” Cakka berdiri dan melangkah pergi.
Alvin masuk ke dalam ruangan, di dapatinya suster yang masih membersihkan alat-alat medis yang menempel di tubuh Oik.
“O... Oik... Suster, apa itu Oik anak saya?” tanya Alvin.
“Iya, Pak. Ini Oik.” Suster tersebut pergi.
“Oik... maafin papa nak. Maaf untuk selama ini, Papa baru sadar. Kamu lebih berharga dari apapun, terutama bisnis. Papa baru sadar kenapa mamamu lebih memilih untuk melahirkanmu daripada membunuhmu. Maafin papa sayang.”

Setelah pemakaman. Cakka memasuki ruangan melukis Oik, ia masih penasaran dengan apa yang di lukis Oik selama ini.
Cakka membuka kain, betapa cantiknya lukisan itu. Oik kecil yang memegang kotak musik, namun di situ tidak ada lagi tongkatnya. Oik diapit dirinya dan Papanya, dengan sayap dipunggung.


Hari ini Cakka diresmikan bekerja di perusahaan Papanya.  Tak ada lagi amarah dan dendam. Papanya kini sudah mau menerima Oik sebagai anaknya walaupun terlambat.
Kini dihadapan semua client-clietn penting dan pegawainya, dan beberapa wartawan dari stasiun TV terkenal turut hadir.  Alvin memperlihatkan sebuah lukisan yang sempurna itu. lukisan dengan disampingnya bertuliskan –sayang Papa, Kak Cakka-
Dengan bangga, Alvin menceritakan tentang Oik. “Dan inilah karya terakhir Oik, anak saya.” Airmata Alvin turun dengan cepat ia menghapus, digantikan dengan senyuman. “Saya tegaskan kembali, anak saya bukan hanya Cakka Sindunata, tapi juga Oik Sindunata. Selamat tinggal Oik, Kami semua sayang sama kamu.” Cakka ikutan tersenyum di samping papanya, sesekali menghapus airmatanya.
Semua yang hadir di ruang rapat itu juga ikut tersenyum, dan sesekali ikutan menghapus airmata yang mengalir. Sorotan kamera, dan beberapa blitz foto menyorotnya, Cakka dan Alvin.

SELESAI



Bunda - Melly Goeslaw



kubuka album biru
penuh debu dan usang
ku pandangi semua gambar diri
kecil bersih belom ternoda

pikirkupun melayang
dahulu penuh kasih
teringat semua cerita orang
tentang riwayatku

reff: 

kata mereka diriku selalu dimanja
kata mereka diriku selalu ditimang

nada nada yang indah
selalu terurai darinya
tangisan nakal dari bibirku
takkan jadi deritanya
tangan halus dan suci
tlah mengangkat diri ini
jiwa raga dan seluruh hidup
rela di berikan

back to reff

oh bunda ada dan tiada dirimu
kan slalu ada dalam hatiku






NP:
Kalo denger lagu ini, walaupun hanya nadanya saja, hati selalu bergetar... apalagi waktu Pesantren kilat klo waktunya perenungan wah.. mata udh pda merah deh gara2 nangis... u,u

Sosok Ibu Bagiku




Mau ngomong apa ya? :D 
Hari Ibu itu adalah hari yg spesial untuk semua para Ibu, dimana hari itu para ank2'a mencurahkan kasih sayangnya yg sedalam2nya... hari kebebasan untuk para Ibu, karena semua pekerjaannya dibantu oleh anggota keluarga lainnya. Ternyata lelah juga ya menjadi seorang Ibu. Baru ngerjain satu hari aja udh ngeluh, *mungkin kalian jg begitu* tapi aku sangat salut dan bangga untuk para Ibu yang tidak pernah mengeluh sama sekali, (┌_┐) (┌_┐) (┌_┐)  jadi hargailah Ibu kalian sejak hari, mulai detik ini deh.
Tadi pagi sehabis makan sempet nonton TV, tapi biasalah isinya berita...
Di TV One *kata Pak Ustad .hehehe lupa :D pokoknya kata Pak Ustad, raihlah surga yang ada didekatmu terlebih dahulu. Tak usahlah kita mencari surga sampai jauh-jauh, bayar mahal segala, sebenarnya ada Surga yang lebih murah, lebih dekat, dan dia ada di depan mata kita. Dialah sosok yang selalu memarahi kita disaat kita bandel, dialah sosok yang selalu memberi petuah-petuah *nasihat* untuk pegangan hidup kita, dialah sosok yang melahirkan kita, dia jugalah sosok yang mau merawat dan menjaga kita dari kecil sampai kita sebesar ini,  dialah IBU. Surga di telapak kaki Ibu, sedangkan Ayah adalah jalan menuju ke Surga. Dan bagiku Ibu itu segalanya. ♥ my mom & my dad, my everything   
Maka sebelum engkau memuliakan orang lain, maka muliakan Ibu dan Ayahmu terlebih dahulu.
Aku sangat bersyukur karena kali ini Allah lagi-lagi dan lagi masih bisa mengijinkan aku untuk melihat wanita itu, seorang wanita yang aku panggil Ibu. :)
Kadang aku suka tertawa sendiri saat teman-temanku sering mengatakan dia itu kakakku. karna tinggi kita yang hampir sama, bahkan aku sama beliau seperti seorang sahabat karib, karna aku yang selalu mengeluarkan semua isi perasaanku kepadanya. Bukan karena aku tak percaya sama mereka, tapi karna aku memang lebih merasa lebih enak bila sedang cerita kepada Ibu.


Ibu maafkan Fia, yang sudah menyusahkanmu selama ini, aku bingung mau menggantinya dengan apa. Karna aku tak sanggup, ibu tolong bimbinglah langkahku ini bantulah selalu aku, karna kalo bukan ibu dan bapak siapa lagi? Terimakasih buat semuanya yang telah ibu berikan kepadaku. J Restuilah setiap langkahku, doa’akan agar anakmu ini Lulus UN dengan nilai yang memuaskan, dan bisa masuk SMA yang favorite, yg selama ini aku impikan.

Happy Mom Day, untuk seluruh Ibu di dunia terutama buat Ibu ku tercinta ;)



First Love




Everyone can see
There’s a change in me
They all say I’m not the same
Kid I use to be
Don’t go out and play
I just dream all day
They don’t know what’s wrong with me
And I’m too shy to say
It’s my first love
What I’m dreaming on
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don’t know what to do
My first love
He thinks that I’m too young
He doesn’t even know
Wish that I could tell him what I’m feeling
’cause I’m feeling my first love
Mirror on the wall
Does he care at all
Does he ever notice me
Does he ever found
Tell me teddy bear
My love is so unfair
Will I ever found away
An answer to my pray
For my first love…

Gadis SMA di Bus 13 ( Cerpen CAIK )



Seorang cowok berseragam dengan tas di punggungnya keluar dari gerbang bertuliskan SMA Persada. Tak lama kemudian ada sebuah motor berhenti di sampingnya, ia kemudian menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah motor di sampingnya. Ia tersenyum kepada cowok yang mengendarai motor tadi, kemudian turun dan melepas helm full facenya. “ Hai bro. Motor loe kemana?” tanya cowok itu yang bernama Rio. “Hai juga Io, motor gue masih di bengkel. Tumben loe gak bareng Ify?” tanya cowok sebelumnya yang bernama Cakka. “Oh Ify? Dia masih ada tambahan. Oh yabareng gue aja yuk Kka!” Ajak Rio. “Gak usah deh Yo,” Tolak Cakka. “Jiah, loe gitu sekarang? Ma sobat sendiri juga. Terus loe pulang naik apa dong?” “Naik bus. Yaudahkalo gitu antar gue ke halte bus aja!” Sambil menunjuk ke arah halte bus di seberang sana. “Ok deh sob.” Mereka pun melaju dengan menggunakan motor Rio.
***
Lima menit yang lalu Cakka telah sampai di halte bus ini. Tak lama kemudian akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. sebuah bus berhenti tepat di hadapannya. Cakka menyunggingkan senyumnya lega. “Akhirnya datang juga” Ia pun segera menaiki bus itu. Semua tempat duduk di bus itu ternyata sudah penuh. Hanya ada satu tempat duduk dan disampingnya sudah ada seseorang. Ia segera duduk di tempat itu. Cakka menoleh ke sebelah tempat duduknya dan tersenyum. “Bolehkah aku duduk di sampingmu?” Tanyanya ramah. Gadis itu, gadis berseragam SMA menoleh ke arah Cakka. ‘Degg’ hati Cakka berdesir ketika melihat gadis tadi. Dengan wajahnya yang cantik dan menurutnya imut. Tak ada senyuman yang muncul dari bibirnya. Dengan wajah datarnya, dan kembali ke aktivitasnya semula yaitu memandang ke arah luar jendela. Tapi sayangnya gadis tadi terlihat dingin dan cuek. Pikir Cakka.
Selama di jalan mereka hanya diam. Cakka dan gadis itu. Karena Cakka terlalu bosan akhirnya ia pun bertanya kepada gadis itu. “Emm, boleh kenalan gak? Nama kamu siapa dan kamu dari SMA mana?” tanya Cakka ramah. Lagi-lagi gadis itu menoleh ke arahnya dengan wajah yang datar. Karna takut dia marah akhirnya Cakka meminta maaf. “Maaf. Oh ya, kenalin namaku Cakka dari SMA Persada.” Kini ia memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya ke arah gadis tadi. Sekali lagi gadis itu hanya menoleh kemudian memandang tangan Cakka. Tanpa sedikitpun membalas uluran tangan tadi. “Ya udah deh kalo gak mau.” Cakka pun menarik tangannya kembali dan hanya tersenyum memandang gadis di sebelahnya. Banyak pasang mata kini melihat ke arah Cakka. Tapi yang dilihat malah nggak nyadar dan menatap mata gadis di sebelahnya.
Lama berpandangan seperti itu akhirnya gadis tadi membuka suaranya juga yang terkesan dingin dan kaku. “Namaku O...” ‘Ckittttt’ suara decitan rem bus membuat kalimat gadis itu terputus. Dan ternyata kini mereka telah sampai di tempat tujuan.  Dalam hati Cakka merutuki bus itu ‘kenapa ganggu aja sih’. Tanpa sadar gadis itu telah turun mendahuluinya. Tanpa membuang waktu lagi Cakka pun mengejarnya. Setelah dekat, Cakka langsung mencekal tangan gadis itu. Karna reflek gadis itu pun berbalik dengan pandangan yang masih sama. “Tunggu! Aku belum tau siapa namamu.” Ujar Cakka akhirnya. “Maaf, tapi aku harus pulang sekarang” Tak sekaku tadi, walaupun ia terlihat masih kaku dan dingin tapi seenggaknya ia membalas ucapan Cakka. “Ok, kamu bilang dulu siapa namamu, nanti kamu aku lepas deh. Janji” “Hhh... namaku Oik. Yaudah permisi aku mau pulang” Setelah menyebutkan namanya yang ternyata gadis itu bernama Oik ia pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Cakka. “Tunggu” teriak Cakka lagi. Gadis itu pun meoleh dengan pandangan bingung. “Terima kasih Oik” lanjut Cakka kemudian. Oik hanya membalasnya dengan seulas senyum dan berbalik untuk melanjutkan langkahnya kembali. “Terimakasih, karna kamu telah merebut hatiku Oik” lanjut Cakka dalam hati dan membalas senyuman Oik.
***
Keesokan harinya saat istirahat di kantin, Cakka pun membicarakan hal ini kepada sahabatnya Rio. Ia menceritakan semuanya dari awal bertemu yang membuat hatinya dag-dig-dug melulu sampai akhirnya ia mengetahui nama gadis itu. “Cewek yang aneh” begitulah ujar Rio. “Itu yang membuat aku berfikir kalo dia itu beda dari yang lain.Tapi aku masih penasaran deh yo, sama tuh cewek. Kayaknya sih dia bukan anak SMA sini. Tapi dimana ya? Kok jadi lupa gini gue” Yang tadinya tersenyum lebar dan kini ia mengerutkan keningnya bingung dan masih berfikir. “Ya udahlah Kka. Gue kasih saran aja ya, kalo cinta itu dikejar jangan di diemin gitu ntar nyesel baru tau loe” Kata Rio bijak. “Thanks bangets ya Yo, loe emang sahabat paling baik deh sedunia. Gak salah Ify pilih loe” Kata Cakka bangga dengan sahabatnya ini. “Yey, loe baru nyadar ya. Iya-iya gue ngaku kalo gue itu emang lebih baik dari loe, gue emang lebih keren, cakep dan semuanya deh dari loe” Ucap Rio lebay dan mendapat satu toyoran dari Cakka. “Kalo soal cakep,keren, baik, itu lebih kerenan, cakepan, baikan gue kali” setelah ngomong begitu Cakka langsung lari karna takut kena balasan dari Rio. “Eh awas ya Loe Kka” Teriak Rio dari kantin.
***
Semenjak saat itu Cakka dan Oik sering bertemu di bus. Hari ini Cakka tidak menaiki motornya kembali dengan alasan yang sama seperti tempo hari. Cakka kembali lagi naik bus. Ia kembali bertemu dengan Oik di dalam bus dengan urutan tempat duduk yang masih sama seperti kemarin. Yaitu urutan ke 13. Tapi kali ini sepertinya Cakka sudah akrab dengan Oik. Jadilah mereka bercerita-cerita dan tak jarang juga keduanya tertawa bersama. Sungguh perkembangan yang baik.
“Oik, kamu tau gak?” tanya Cakka. “Nggak tuh” jawa Oik menahan tawanya. “Ya ialah kamu gak tau dan gak bakal pernah tau. Orang aku aja belum ngomong. Makanya dengerin dulu” ujar Cakka geregetan karna gemas. “Emangnya apa Kka?” tanya Oik sok serius. “aku mau ngomong tapi kamu jangan marah! Janji!” Cakka mengulurkan kelingkingnya. “Ok janji. Cepetan dong bicaranya” Setelah Oik melingkarkan kelingkingnya pada Cakka. “Sebenarnya, sejak awal aku bertemu dengan kamu aku tuh sudah suka sama kamu. Kamu tuh cantik, imut, manis dan ternyata kamu tuh baik ya?” Oik hanya tersipu malu. “Kamu mau nggak jadi pacarku?” Lanjut Cakka. Sesaat kemudian Oik jadi diam dan pandangannya menerawang jauh ke arah jendela. “Oik, kamu kenapa? Kok ngalamun?” Ujar Cakka mengagetkan Oik. “Nggak apa-apa kok Kka. Maaf tapi aku nggak bisa jadi pacar kamu” Jawab Oik akhirnya dengan senyuman pahit. “Kenapa? Jujur, kamu juga suka kan sama aku?” Tanya Cakka berusaha meyakinkan Oik bahwa ia serius dengan perasaannya. “Emm, aku juga gak bisa bohong sama perasaanku.” Oik menghela nafas sejenak. “Kamu bakal tau ntar, kenapa aku nggak bisa jadi pacar kamu” “Ya tapi kenapa Ik? Beri aku alasan kenapa kamu ngomong gitu? Lebih baik kamu bilang sekarang alasan itu.” “Maaf, aku gak bisa kasih tau kamu.” Tiba-tiba saja bus itu berhenti. Oik pun turun dari bus itu dan kemudian disusul Cakka di belakangnya.
Setelahnya mereka turun dari bus, Bus itu pun segera melaju pergi meninggalkan keduanya yang masih betah dengan kebisuan itu. Cakka pun sadar saat Oik sudah tak ada di hadapannya lagi dan pergi meninggalkannya. “Oik tunggu! Biar aku antar kamu pulang ya” Oik menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Cakka. Oik hanya menggeleng dan tersenyum, kemudian ia melanjutkan jalannya kembali.
Karna penasaran dengan rumah Oik, karna kalo setiap ia menawarkan diri untuk mengantarkan gadis itu, pasti gadis itu akan menolaknya. Mungkin ini kesempatan buat dia mencari tahu tentang gadis itu.
Cakka terus mengikuti Oik dari belakang tanpa diketahui oleh Oik tentunya. Oik berbelok ke gang yang menurut Cakka cukup sempit dan terpencil. Setelah berbelok-belok, sampai juga.Terlihat Oik memasuki sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas, Cakka pikir itu adalah rumah Oik. “Jadi ini rumahmu.” Lirih Cakka dengan senyuman khasnya. Setelah ia yakin bahwa Oik benarr-benar sudah masuk ke dalam rumah itu. Ia pun pergi meninggalkan tempat itu.
***
Beberapa hari telah berlalu. Semenjak hari itu Cakka tak pernah menaiki bus lagi karna motornya sudah kembali. Cakka merasa seperti ada yang kurang dalam hari-harinya, ia rindu dengan senyuman itu, ia rindu dengan suara itu dan juga tatapan itu. Tatapan yang susah untuk diartikan.
Pulang sekolah Cakka bertekad untuk menemui Oik. Hal pertama yang dia lakukan yaitu dengan mendatangi rumah Oik. Tapi Cakka tak datang sendiri. Ia datang bersama Rio. “Kka, apa bener ini rumahnya Oik?” tanya Rio. Setelah mobilnya berhenti di halaman rumah yang terpencil itu. Walaupun jalannya sempit, tapi mobil masih bisa untuk masuk ke dalamnya. “Iya, bener kok ini rumahnya. Mending kita turun sekarang aja” Ajak Cakka. “Ok deh” mereka segera membuka pintu mobil dan berjalan mendekati rumah itu. ‘tok, tok, tok’ “permisi”. “Iya, sebentar” jawab orang dari dalam yang terdengar berat dan berjalan membuka pintu. “Kalian siapa ya?” tanya seorang wanita paruh baya dengan mata yang terlihat semab. Mungkin saja itu ibunya Oik. Pikir Cakka dan Rio. “Maaf tante, kami ini temannya Oik” Jawab Rio dengan nada sopan. “Oiknya ada tante?” kini giliran Cakka yang bertanya dengan nada yang tak kalah sopan seperti Rio. “Mau apa kalian? Oik tak pernah punya teman seperti kalian. Dan kalian kenal Oik darimana?” tanya wanita itu dengan nada yang berubah menjadi kasar. “Kami cuman mau tanya gimana keadaannya Oik tante. Emang sih kami bukan teman satu sekolahnya. Tapi teman saya yang kenal dengan Oik waktu ia naik bus.” Ujar Rio. “Iya tante. Saya bertemu dengan Oik di bus. Dan itu juga tak sengaja kami satu tempat duduk.” “Sejak kapan kalian bertemu dengan Oik.” Ujar wanita itu lagi. “Mah, ada apa sih? Kok ribut-ribut gini?” Muncullah seorang pria dari dalam rumah itu. Dia adalah papa Oik. Mama Oik masih saja menatap tajam Cakka dan Rio. “Maaf ya, kalian ini siapa? Ada keperluan apa kalian kemari?” Tanya pria itu ramah yang kini sedang merangkul wanita tadi. “Kami temannya Oik om” Jawab Rio. “oh, jadi kalian temannya Oik ya? Ya sudah masuk dulu yuk.” “Iya om.” Akhirnya mereka pun menceritakan tentang kedatangannya kemari kepada Papa dan Mama Oik.
Setelah kedua orang tua Oik terdiam cukup lama. “Sekarang Oiknya ada dimana om, tante?” tanya Cakka yang sudah penasaran. “mm... Oik.. Oik sudah meninggal nak.” Jawab papa Oik akhirnya. Setelah menghembuskan nafas berat akhirnya ia pun menceritakan hal yang sesungguhnya. “Oik meninggal karena kecelakaan. Kecelakaan tragis itu yang telah mengakibatkannya meninggal. Jadi, saat itu ..
#Flashback on
“Pak stop pak” perintah seorang gadis berbaju SMA ke seorang supir Bus yang ditumpanginya setelah sampai di dekat rumahnya. Akhirnya supir bus itu menghentikan lajunya. Gadis itu pun turun tak jauh dari bus dengan senyuman yang selalu mengembang di bibirnya. Bus itu pun segera melaju kemnbali. Tiba-tiba saja ia merasa bahwa ada yang menyeretnya. Setelah ia sadar ternyata tas selempangnya terjepit pada saat pintu bus tertutup tadi. “Pak, berhenti. Tolong!” Teriaknya dengan suara yang cukup keras dan ia terus berlari untuk mengimbangi bus itu. Namun naas sang sopir ataupun keneknya tak mendengar. “pak berhenti!!” kini gadis itu pun sudah mengeluarkan airmatanya. Dan parahnya lagi bus itu malah mencepatkan lanjunya, karna oleng dan gadis itu tak sadar apa yang ada di depannya. ‘Braakkkk’ Suara yang cukup keras, karna hantaman dari tiang listrik. ia terpental beberapa meter dari tempat itu. Kini seluruh badannya sudah berlumuran darah.
#FLASHBACK END
Waktu itu ada saksi mata yang melihat kecelakaan itu dan menceritakannya kepada om. Awalnya om tak percaya dengan kecelakaan tragis yang mengenai Oik anak om dan tante. Tapi kini om yakin, bahwa itu benar-benar Oik. Jadi kalian tak mungkin bertemu dengan Oik. Karna kejadian ini sudah setahun yang lalu. Dan kalian baru bertemunya kemarin. Rasanya tak mungkin.” Ujar Om Riko.  “Tapi om, saya beneran ketemu sama Oik di bus kemarin. Malah beberapa kali kami terlibat percakapan” Sanggah Cakka. “Mending kalian pulang saja! Kalau memang tak percaya” marah om Riko tiba-tiba dengan nada mengusir. “Baik om, kita pulang. Ayo Kka, kita pulang!” Ujar Rio seraya menarik Cakka untuk keluar dengan keadaan Cakka masih shock.
***
Di sudut sebuah kamar, terlihat seseorang sedang merenung. Ia nampak masih shock dengan berita itu, berita mengenai orang yang baru saja mengisi hatinya. ‘tok,tok,tok’ suara ketukan pintu kamarnya membuyarkan lamunannya. Dengan segera ia berdiri dan mendekati pintu untuk membukanya. “papa? Tumben pa, pulang jam segini?” Tanya Cakka bingung. “Iya sayang. Kebetulan tadi di rumah sakit banyak banget pasiennya, dan gak ada dokter ganti.”Papanya tersenyum. Papa Cakka adalah seorang Dokter bedah. “Pa, Cakka boleh tanya nggak?” Kini mereka sudah ada di dalam kamar Cakka. “Tanya apa Kka?” Papanya mengernyitkan dahi bingung. “setahun yang lalu, papa pernah nggak menangani pasien karna kasus korban kecelakaan lalu lintas gitu?” Tanya Cakka serius. “Emm,, tunggu bentar deh. Kayaknya sih pernah. Seorang gadis. Kecelakaan bus” Kata papa Cakka masih mengingat. “memangnya kenapa Kka? Tumben kamu tanya-tanya soal pasien papa?” “Ya, gak apa-apa sih pa. Cuman tanya aja. Namanya Oik bukan?” tanya Cakka antusias. “Gak tau, papa lupa. Tapi kayaknya papa masih nyimpan korannya deh. Papa ambilin dulu ya” Cakka hanya mengangguk.
            Dayat kembali memasuki kamar anaknya dengan membawa sebuah koran yang sudah lusuh di tangannya. “Ini Kka korannya” Dayat mengangsurkan koran itu Cakka. “Makasih pa”. Cakka membolak-balikan halaman demi halaman. Satu halaman yang membuatnya shock.
            ‘Kecelakaan Tragis yang mengakibatkan seorang mahasiswi SMA meninggal dunia. Gadis itu ditemukan meninggal dunia dengan keadaan yang mengenaskan. Namanya ‘Oik Amanda Putri’ Sang sopir bus di penjara selama 3 tahun.’


            Siang ini sepulang sekolah, Cakka pergi ke pemakaman Oik. Untuk sekedar berdo’a agar Oik tenang disana. Bulir-bulir airmatanya pun menetes. Di sampingnya terdapat temannya Rio yang juga masih menunduk.
            ‘Semoga kamu tenang disana ya Ik. Jangan bosan untuk menunggu aku disana ya?! J.’



END

Berakhir Dengan Bahagia -Cerpen CaIk-



Seorang gadis sedang bersimpuh di depan gundukan tanah. Air matanya terus mengalir. Satu persatu orang mulai meninggalkan tempat itu sambil menepuk pundak gadis itu untuk sekedar memberi ketabahan dan kekuatan. Seorang pemuda kini berada di sampingnya.
“Oik, kita pulang yuk” Ajak pemuda itu ia merangkul pundak gadis tadi. Namun gadis yang di panggil Oik itu hanya terdiam seakan tak mampu untuk melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Untuk sekedar bicarapun sulit.
“Nggak Kka. Aku masih mau disini. Kasihan bunda di dalam sana.” Ujar Oik dengan suara parau.
“Iya, aku ngerti. Tapi kamu kan masih punya Om Riko. Masih ada Acha dan Sivia sahabatmu dan. Aku” ujarnya meyakinkan.
“Kalo gitu kalian pulang dulu aja. Aku masih pingin disini nemenin bunda.” Seorang pria paruh baya datang menghampiri keduanya.
“Oik sayang kita pulang ya. Ayah nggak mau kamu gini. Tuh liat Cakka, Acha, sama Sivia. Kasihan mereka nungguin, lagian juga kalo bunda liat kamu gini, dia pasti sedih.” Ujarnya lembut.
Oik mengalihkan pandangan dari gundukan tanah yang bertuliskan ‘Zahra Dianara’.
“Baiklah Oik pulang” Ujar Oik akhirnya karna ia tak mau melihat orang yang ia sayangi sedih. Dan juga ia tak berani melawan ayahnya. Sebelumnya Oik berkata “Bunda, Oik pulang dulu ya. Hiks.. “ ujarnya masih sesenggukan. “Bunda hati-hati ya. Bunda jangan sedih, Oik bakal baik-baik kok disini. Selamat jalan bunda” Oik mengusap nisan bundanya dengan sayang, kemudian ia menciumnya singkat. “Oik pulang bunda. Ntar Oik kesini lagi kok” Sivia dan Acha ikutan sedih melihat sahabatnya, sesekali mereka meneteskan mata. Cakka hanya bisa memandang Oik dengan tatapan pilu, rasanya ia sangat ingin memeluk gadis itu. Sedangkan ayah Oik hanya bisa menangis dalam kebisuan. Beliau mulai melangkah duluan meninggalkan keempatnya, rasanya ia tak ingin hal ini terjadi. Melihat anaknya menangis menambah sesak dalam hatinya.
                Akhirnya mereka pun meninggalkan pemakaman itu dengan Oik berada dalam pelukan Cakka, di sebelah kanan mereka ada Acha dan Sivia yang ikut berjalan sambil mengusap punggung Oik.
***
                1 Bulan telah berlalu semenjak meninggalnya sang bunda. Sedikit-sedikit Oik mulai bisa menerima kenyataan. Walaupun hatinya masih belum rela dan memendam kesedihan itu. Tapi di depan teman-temannya dan Ayahnya ia berusaha untuk selalu menampilkan keceriaan yang dulu selalu ia miliki. Seolah-olah tak terjadi apa-apa.
                Setelah satu bulan disibukkan dengan pekerjaannya, tiba-tiba ayahnya mengajak Oik untuk dinner bersama Sabtu ini, seperti dulu sebelum bundanya meninggal. Katanya Ayah Riko ingin bercerita-cerita. Soalnya sudah lama mereka tak melakukan hal itu lagi.
                Saat ini Oik dan ayahnya sudah berada di salah satu restoran mewah yang ada di Kota Bandung.
“Ayah, ayah mau bicara apa? Katanya ada yang penting?”Tanya Oik membuka pembicaraan.
“Oik, bicaranya nanti dulu ya. Nunggu seseorang bentar.” Kata ayahnya dengan senyum.
Saat Oik sedang sibuk dengan minumannya, tiba-tiba saja
“Hai Riko” sapa seseorang.
‘mungkin itu yang ayah tunggu’ pikir Oik masih sibuk dengan minumannya.
“Hai Shilla, silahkan duduk” ajak ayah Oik.
“Baiklah, Udah nunggu lama ya?” tanyanya.
“Ah enggak, biasa aja.” Kemudian Ayah Riko berpaling kepada Oik. “Oh ya, Ik kenalin ini tante Shilla. Shilla ini Oik anakku”
“Oh jadi ini anakmu? Udah besar ya ternyata? Cantik lagi seperti bundanya.” Ujar Shilla.
“Hay tante, makasih.” Balas Oik senang.
Pembicaraanpun berlangsung cukup lama.
***
                Oik baru saja pulang dari sekolahnya dengan diantar Cakka menggunakan motor CBR yellownya.
“Makasih ya Kka” kata Oik setelah turun dari motor itu.
“Iya sama-sama. Em, ya udah sekarang kamu masuk gih” suruh Cakka lembut.
“Lho? Kamu nggak pulang?” tanya Oik bingung.
“Nanti aku pulang setelah mastiin kamu udah masuk rumah atau belum” cengirnya.
“Ih kamu bisa aja. Ya udah deh aku masuk dulu ya. Hati-hati di jalan”
“Sipp deh”
                Setelah Oik masuk ke rumahnya, Cakka segera melesatkan motornya pergi meninggalkan rumah Oik.
                Oik pun berjalan memasuki rumah. Seperti biasa di rumah hanya ada bibik dan dirinya. Jam segini Ayahnya pasti belum pulang. Namun saat Oik akan menaiki tangga menuju kamarnya ada orang yang menyapanya.
“Tadi di anter siapa Ik?” Tanya orang itu. Oik mengalihkan pandangannya ia mendapati ayahnya sedang duduk di ruang keluarga yang tempatnya berdekatan dengan tangga.
“Eh yah, udah pulang? Tumben banget.” Ia tak menjawab pertanyaan ayahnya malah balik bertanya.
“Iya ayah udah pulang kok, kamu ditanya malah balik tanya. Tadi Cakka ya?” tanya ayahnya jahil.
“Ih ayah, apa deh. Iya tadi emang Cakka yang anter Oik pulang. Kenapa?” Ujaar Oik cemberut mendapat ledekan dari ayahnya.
“Nggak kenapa-kenapa. Tapi kalo ayah liat, kalian cocok deh.”
“Mulai deh. ah udah ah jangan bahas itu. Oik malu tau”
“Eh nggak percaya. Kayaknya Cakka tuh suka sama kamu. Kamu juga suka kan sama dia? Hayooo”
“Ih ayah udah. Oik ngambek nih” Bibirnya udah makin maju.
“Iya deh iya, ih kamu jelek tau kayak gitu. Hahaha...” tawa ayahnya meledak. “Ik, ayah mau tanya serius nih sama kamu” Ujar ayahnya yang udah berhenti tertawa dan wajahnya berubah serius.
Oik pun duduk di sebelah ayahnya.
“Tanya apa yah?” tanyanya bingung.
“Em, kalo kamu punya bunda baru setuju nggak?” tanyanya lagi yang membuat Oik cengo.
‘Bunda baru? Ok deh, mungkin ini jalan yang baik untuk membuat ayah bahagia lagi dengan bunda baru tentunya’ bati Oik dan tersenyum.
“Emangnya bunda barunya siapa yah?” tanya Oik penasaran.
“Tante Shilla” jawabnya singkat. “Tapi ya kalo kamu nggak mau juga nggak apa-apa kok. Ayah ngerti”
“Oik sih setuju-setuju aja, asalkan ayah bahagia dengan tante Shilla. Lagian juga kalo diliat-liat dia baik baik, cantik, apa lagi ya? Tapi itu terserah ayah juga. dan pastinya harus minta ijin dulu sama bunda zahra Ok ;)”
“Makasih Oik, kamu anak ayah yang paling baik deh, paling cantik, paling segalanya. Ayah janji ayah nggak bakal ngelupain kamu sama bunda Zahra.” Sangking senengnya Ayah Riko memeluk Oik erat.
“Ayah, emangnya anak ayah siapa lagi?” tanya Oik bingung.
“E... enggak ada. Hehehe” cengirnya.
“Ya iyalah Oik paling cantik, baik, dan segalanya orang anak ayah cuman Oik doang”
***
                Beberapa bulan telah berlalu semenjak pernikahan Shilla dan Riko. Dan selama itu pula Shilla sangat baik kepada Oik. Bahkan ia mengajak Oik Shopping bareng, makan bareng. Selama itu pula ia merasa sangat senang. Bundanya seperti kembali lagi.
                Namun pada suatu hari saat Ayah Riko pergi untuk mengurus proyeknya yang berada di Kalimantan, tante Shilla yang notabennya ‘bunda baru’ Oik tiba-tiba saja sikapnya berubah total nggak seperti biasanya. Ia cepat marah, dan terkadang pekerjaan rumah Oik disuruhnya untuk membersihkan. Padahal sudah ada Bibi yang mengurusnya. Apa ini tanda-tanda peran ibu tiri untuk menyiksa anak tirinya akan segera dimulai? Entahlah.

Hari ini semua murid di SMU Antariksa tempat Oik dan kawan-kawan bersekolah dipulangkan lebih awal. Saat Oik, Acha dan Sivia sedang berjalan di koridor, tiba-tiba saja ada beberapa anak yang menghampirinya.
“Hay Ik, kita pulang bareng yuk?” ajak cowok itu yang tak lain adalah Cakka.
“Em, tapi aku sama Acha sama Sivia” ujar Oik sambil melihat Acha dan Sivia bergantian.
“Udahlah Ik kita nggak apa-apa kok.” Ujar Sivia berusaha mengerti.
“Iya, mending loe balik aja sama Cakka. Tenang aja Acha balik bareng gue kok” Kata salah satu cowok diantara kedua teman Cakka. Dia Ozy yang segera pindah tempat untuk merangkul Acha.
“Dan Via sama gue” ujar cowok satunya lagi Gabriel.
“Iya Ik, kita nggak apa-apa kok. Kasihan tuh Cakka udah nunggu lama” Ujar Acha.
“Ya udah deh. Yuk Kka pulang” Kata Oik akhirnya.
Cakka dan Oik pun meninggalkan ke empat temannya.
Saat di parkiran,
“Ik, jalan-jalan bentar yuk.” Ajak Cakka
“Tapi Kka, aku nggak bisa” Jawab Oik merasa bersalah.
“Lho kenapa? Dulu juga kita sering jalan.” Tanya Cakka bingung, merasa aneh dengan sikap Oik akhir-akhir ini. Walaupun mereka semua udah tau kalo Cakka suka sama Oik semenjak Cakka belum putus dengan Nadya beberapa bulan yang lalu. Sampai saat ini walaupun ia telah putus dengan Nadya, namun rasanya belum berani untuk ia nyatakan cinta ke Oik secara langsung.
“Iya sih. Tapi aku harus bantu-bantu bunda Shilla di rumah.”
“Bukannya di rumahmu udah ada bibi?” Tanya Cakka semakin bingun. “Ayolah Ik sekali ini saja” mohon Cakka sangat. Oik jadi tak tega sendiri melihat Cakka memelas gitu.
“Iya deh. Ya udah yuk pergi sekarang. Tapi ntar pulangnya jangan kesorean ya”
“Sipp bos. Yuk naik”
                Setelah itu mereka melesat dengan motor CBR Cakka. Oik memeluk pinggang Cakka erat, karna ia taku jatuh. Habisnya Cakka kalo naik motor kenceng banget. Jadi ngeri sendiri.
                Cakka mengajak Oik ke suatu tempat yang sengat indah. Sebuah danau yang airnya masih terlihat jernih tanpa sampah atau limbah sekalipun. Disana ada perahu, Cakka mengajak Oik menaiki perahu itu.
“Ik, kita naik perahu yuk.” Ajak Cakka sambil berlari menggandeng tangan oik.
‘Deg’
Entah perasaan apa yang kini singgah di hati Oik, seakan semua masalahnya lenyap seketika.
“Aku takut kalo jatuh Kka” Ujar Oik setelah mereka berdua telah sampai di situ. Tempat dimana perahu berada.
“Udah nggak apa-apa. Ada aku kok yang slalu ada buat kamu. Kamu nggak bakal jatuh deh.” Kata Cakka meyakinkan.
Oik hanya mengangguk dan tersenyum.
                Setelah mereka menaiki perahu, perahupun mulai didayung Cakka agar berjalan. Oik menikmati udara luar yang udah lama ia tak hirup. Sudah lama ia tak melakukan ini, Ia jadi ingat dengan bundanya.
“Oik, gimana kamu suka nggak?” Tanya Cakka yang daritadi memperhatikan Oik.
“Suka, suka banget malah. Aku jadi kangen nih sama bunda. Apa kabarnya bunda disana ya?” tanya Oik, seperti kepada dirinya sendiri. Cakka yang melihatnya pun menghibur Oik.
“Syukur deh kalo kamu suka tempatnya. Udah dong, jangan sedih lagi ya. Tante Zahra pasti bahagia kok disana asalkan kamu tersenyum.” Senyum Cakka. “Oh iya Ik, sebenernya aku mau bilang kalo aku...” Ucapnya menggantung.
“kamu mau ngomong apa kka?” tanya Oik bingung.
“Aku suka Ik sama kamu. Aku cinta sama kamu. Kamu bisakan liat itu semua dari mataku?” Ujarnya.
                Oik kini diam, tak percaya dengan pernyataan Cakka barusan. Ia deg-degan, ia grogi, ia salting di tatap Cakka seperti itu.
Cakka memegang dagu Oik dan mengangkatnya agar bisa menatap mata Oik.“Tatap mataku Ik” mohonnya. “Apakah kamu mau jadi gadisku?” tanya Cakka lembut.
Oik menolehkan wajahnya agar matanya tak bertatapan dengan Cakka.“Tapi Kka..”
“Kamu nggak percaya Ik?” tanya Cakka kecewa.
“Bukan gitu Kka, aku percaya kok. Tapi aku...”
“Kamu kenapa Ik? Apa udah ada orang lain di hatimu sekarang?” Tanyanya lesu.
“Nggak kok. Kasih aku waktu Kka buat jawab pertanyaan kamu” Kata Oik akhirnya.
“Ya udah, sampai kapan pun aku akan menunggumu Ik. Aku nggak akan memaksa kok” Cakka tersenyum. Oik pun mebalasnya senyum.
                Tak terasa langit sudah berubah warna menjadi jingga. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Oik yang baru menyadarinya akhirnya meminta Cakka untuk mengantarkannya pulang. Ia takut bila nanti sampai di rumah. Mereka pun meninggalkan danau itu dan melesat menuju rumah Oik.

                Oik turun dari motor Cakka di depan sebuah rumah megah, ia menyerahkan helm yang tadi ia pakai.
“Sekali lagi makasih ya Kka, untuk hari ini.” Ujar Oik.
“Iya sama-sama, kamu nggak usah lebay gitu deh.” Cakka mengacak rambut Oik.
“ehhehehe... ya udah deh aku masuk dulu.”
“Iya. Aku pulang dulu.” Tanpa disangka Cakka pinggang Oik mendekat ke arahnya, ternyata ia mengecup kening Oik.
                Setelahnya Cakka pergi, ia pun masuk ke dalam rumah dengan senyum-senyum sendiri.
“Enak  ya, anak SMU balik hampir Maghrib. Di antar pacar, dicium lagi” Suara pedas Bunda Shilla membuatnya berhenti dan menunduk.
“Tadi bukan pacar Oik kok bun. Tadi itu ada pelajaran tambahan” Kata Oik, ia terpaksa berbohong agar Bunda Shilla tak marah. Namun perkiraannya salah.
“Enggak usah panggil-panggil bunda deh” Ketusnya. “Sejak kapan aku ngelahirin kamu hah? Sekarang bunda tersayangmu itu udah mati. Sebentar lagi ayahmu akan jatuh ke tanganku” Mendengar itu Oik langsung mendongak kaget,
“Tan..tante mau apakan ayah? Ayah nggak salah apa-apa tante. Udah cukup Oik saja” tak terasa airmatanya jatuh membasahi pipinya.
“kamu gak perlu tahu apa yang akan saya lakukan kepada kalian. Permainan baru saja kita mulai Oik sayang” ujarnya dengan senyum sinis. “Sekarang mending kamu bersihin seluruh rumah ini! Besok kamu cuci semua baju-baju kotor, pembantu pulang kampung. Kamu kerjain semuanya sendiri! Halaman depan sama belakang juga, jangan lupa kolam renang di kuras.” Ujarnya, saat mau meninggalkan Oik, ia behenti sejenak. “Oh ya, awas aja kalo kamu sampe berani bilang sama semua orang tentang hal ini terutama sama ayah tercintamu itu”
                Oik tak bisa menolak ataupun membantahnya. Bukannya ia takut sama Ibu tirinya, tapi ia tak mau terjadi apa-apa dengan ayahnya.
                Setelah mandi Oik langsung mengerjakan pekerjaannya. Ia ingin semua selesai dengan cepat. Lagian ini juga bukan yang pertama kalinya Ibu tirinya itu menyuruhnya buat mengerjakan urusan rumah tangga ini. Oik memulainya dari menyapu rumah.
                Tak terasa hari sudah larut, bersamaan dengan itu ia telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Tak ada pikiran buat makan malam, Ia langsung merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Rasanya ia ingin kabur, atau apalah gitu agar bisa bebas dari penderitaan ini. Syukur-syukur ayahnya bisa pulang secepatnya.
                Oik mengambil Sebuah album foto berukuran besar berwarna biru tua yang terletak di atas pianonya. Ia mulai membuka satu persatu lembaran foto itu, ia mulai mengingat-ingat kejadian-demi kejadian. Disana ada foto bundanya. Bunda saat menggendongnya waktu kecil, saat bermain boneka.
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Reff
Kata, mereka diriku selalu dimanja
Kata, mereka diriku selalu ditimang

Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Back to Reef
*Oh.. bunda ada dan tiada dirimu
Kan selalu ada di dalam hidupku

                Oik mengakhiri lagu itu denga air mata yang kini sudah membentuk anak sungai di kedua pipinya. Bersamaan dengan itu pula ia sampai di halaman terakhir album foto itu.
“Bunda, Oik kangen sama bunda. Bunda apa kabarnya disana? Bunda jangan hukum bunda Shilla ya, ini semua bukan salah dia. Ini salah Oik. Salah Oik yang nggak patuh sama perintahnya, maafkan Oik Bunda, maafkan Oik Allah. Do’akan Oik bunda, biar Oik sabar dan kuat untuk menghadapi bunda Shilla. Bunda juga jangan marah ya sama ayah, ini bukan salah ayah kok.” Kata Oik dengan senyuman tulusnya, ia terus memandangi foto bundanya di sebuah figura, lalu ia menciumnya sangat lembut dan dalam. Seakan yang ada di dalam foto itu nyata.
***
                Pagi ini terlihat agak mendung, Oik bangun. Badannya terasa sakit semua. Tapi apapun yang terjadi ia harus tetep sekolah. Saat ia hendak bangun, ia mendengar seseorang sedang berbicara di bawah.

Di tempat lain,
‘tok,tok,tok’
Seseorang membuka pintu. Seorang wanita paruh baya keluar.
“Siapa?” tanyanya.
“Em, Oiknya ada tante?” tanya orang itu yang tak lain adalah Cakka.
“Oik gak tau kemana” ujarnya ketus.
“Tante tau Oik kemana?” Tanya Cakka lagi.
“Ngapain sihnyari dia? Mending sekarang juga kamu pergi! Kecil-kecil udah berani pacaran” ketusnya.
“Tapi tante..”
“Sana pergi. Sekali lahi saya katakan, Oik nggak ada disini. Udah mati bareng ibunya kali” Kata wanita itu masa bodoh.
“Tante jangan bilang gitu ya, bagaimanapun dia juga anak tante walaupun tiri.” Cakka kini malah balik marah kepadanya.-waktu di danau, Oik bercerita tentang ibu tirinya-
“Udah berani kamu sama orangtua? Pergi sana!” usirnya, kini sambil mendorong-dorong Cakka agar menjauh dari rumahnya. Tak lupa ia gembok pintu gerbang agar Cakka tak lagi bisa masuk.
                Setelah Shilla masuk ke dalam rumah, Cakka melesat pergi dengan motornya. Di dalam otaknya hanya memikirkan gimana keadaan Oik, dimana ia sekarang.

                Acha dan Sivia menunggu Oik di dalam kelas, tak biasanya Oik datang terlambat. Itu pun kalo Oik berangkat. Kedatngan Cakka ke kelasnya, Acha dan Sivia menyambutnya dengan berbagai pertanyaan.
“Lho, Oiknya mana Kka? Bukannya kamu jemput Oik ya?” Tanya Acha bingung.
“Iya Kka, kok Oiknya nggak bareng kamu sih?” kini giliran Sivia yg berkata.
“Nah itu masalahnya kenapa gue kemari. Gue mau nanya ma kalian, Oik kemana?” Tanya Cakka.
“Kok nanya ke kita. Dari tadi Oik belum berangkat, dikira kita ya Oik sama kamu gitu” jawab Acha.
“emang sih tadi gue ke rumah Oik, niatnya mau ngejemput. Tapi yang keluar mama tirinya. Gue nanya Oik kemana, eh dia malah bilang Oik nggak ada di rumah. Aku tanya kalian, mungkin saja kalian tau kemana Oik. Kalian kan sahabatnya”
“Kita gak tau Oik kemana supah deh, duh kemana ya Oik?” Jawab plus tanya Sivia khawatir.
“Ya udah mending ntar pulang sekolah kita cari bareng-bareng.
***
2 hari telah berlalu
                Dengan keadaannya yang kurang enak badan, Oik masih harus mengerjakan tugasnya. Otomatis ia terpaksa membolos.  Tadi sebelum Shilla pergi, ia telah mewanti-wanti Oik agar tidak menerima sembarang tamu, terutama teman-temannya dan juga Cakka.
                Hari sudah mulai siang, Oik sedang menyirami tanaman di halaman depan. Terdengar suara deru motor berhenti di depan gerbang. Oik mendekatinya, ia kaget ternyata yang datang adalah Cakka. Ia bingung harus ngomong apa. Oik berusaha menghindar dari Cakka. Ia meninggalkan selang yang masih memancarkan air,
“Oik tunggu” teriak Cakka.
Oik hanya bisa menghentikan langkahnya, dan ia hanya diam mematung.
“Selama ini kamu kemana sih Ik? Kita tuh khawatir nyariin kamu, kamu gak berangkat tanpa ketearangan lagi. Seenggaknya kamu telfon Via atau Acha kek. Mereka tuh kelimpungan nyari kamu.” Nadanya seperti menandakan bahwa ia marah, khawatir, dengan keadaan Oik. Cakka berusaha membuka gerbang, dan berhasil. Ternyata gerbangnya tidak di gembok. Cakka berlari menuju ke arah Oik. Ia memeluknya sangat erat.
“Oik, kamu tau gak sih? Selama ini aku gak konsen belajar, gara-gara aku khawatir dengan keadaanmu. Kamu janji kan nggak kayak gini lagi?” Tanyanya meyakinkan Oik.
“Kka, lepasin. Aku mohon Kka.” Oik masih tetep nggak berbalik, ia pun berusaha untuk melepaskan tangan Cakka dari pinggangnya.
“Aku nggak mau lepasin kamu lagi. Sebelum kamu janji nggak kayak gini lagi, nggak ngehindar lagi dari aku.”
Kini Oik berhasil melepaskan tangan Cakka dari pinggangnya. Dan berbalik menatap Cakka tajam, “Aku nggak bisa janji sama kamu. Oh ya, yang buat di danau itu aku udah mutusin”
“Bener Ik? Jadi kamu mau jadi pacarku” Tanya Cakka berbinar.
“Maaf, aku nggak bisa terima kamu. Aku nggak cinta sama kamu. Lebih baik sekarang kamu pulang dan jangan peduliin aku lagi. Aku mohon Kka” Ujar Oik, semua itu salah besar. Padahal ia sangat berharap untuk mengatakan ‘aku mau jadi pacar kamu Kka, aku cinta sama kamu’. Namun rasanya susah, apalagi Ada tante Shilla yang jelas-jelas mewanti-wanti agar tidak berhubungan dengan Cakka.
“Oik tatap mataku Ik, kamu nggak serius kan buat ngomong gitu? Aku yakin kamu pasti punya rasa yang sama denganku. Benerkan Ik?” Tanya Cakka berusaha meyakinkan Oik lagi.
“hhhh... itu semua salah. Yang aku omongin tadi benar.”
‘itu semua benar Kka, yang kamu omongin itu benar. aku sangat cinta sama kamu’ batinnya.
“Tapi Ik,..”
“mending kamu pulang deh Kka, sebelum bunda datang” kata Oik datar. Ia melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun Cakka lebih dulu mencekal tangannya. Cakka heran dengan warna biru ke hijau-hijauan yang ada di lengan Oik. Dan juga warna merah di pipi sebelah kirinya.
“Ik, ini tangan kamu kenapa? Pipi kamu juga. Cerita ke aku Ik, siapa yang ngelakuin ini semua?” tanya Cakka khawatir sambil memegang luka yang ada di tangan Oik dan juga pipi Oik.
“Oh itu nggak kenapa-kenapa kok. Tenang aja, ini di pipi gara-gara di gigit nyamuk terus aku kukur deh. nah, kalo yang di tangan gara-gara aku kurang berhati-hati, natap pintu deh. bener kok” Ujar Oik, kini ia mulai tersenyum.
“Serius? Tapi ini kayak bekas tamparan tangan deh.” Tanya Cakka menyelidik.
“Bener. Ya udah mending kamu pulang sekarang aja deh, bentar lagi bunda pulang”
“Ya udah aku pulang. Kamu hati-hati ya, kalo ada apa-apa bilang ke aku.”
“Sipp”
Cakka pun meninggalkan rumah Oik.
“Fiuh.. hampir aja” Kata Oik sambil melihat lengannya yang terasa nyeri kena pukulan dari ibu tirinya.
***
                Hari-hari dilalui Oik seperti biasa, ayahnya belum pulang juga.  Shilla mengajaknya pergi entah kemana.
                Kata Shilla untuk beberapa bulan mereka akan tinggal di rumah yang udah di beli Shilla mungkin. Apa rencananya udah berhasil?
“Ini rumah siapa tante?” Tanya Oik bingung.
“Udah deh kamu diem aja! Masih mending aku ajak tinggal kamu disini. Bentar lagi Ayahmu itu akan bangkrut. Jadi mulai sekarang berterima kasihlah kepadaku” Jawabnya enteng.
“Nggak mungkin. Ayah nggak pernah korupsi, terus sekarang Ayah kemana?” tanya Oik.
“Tau” jawabnya singkat.

Di tempat lain,
                Sebuah mobil berhenti di depan rumah mewah. Kaca mobil mulai diturunkan. Ia melihat tulisan yang tertulis di depan gerbang. ‘DI JUAL. HARAP HUBUNGI NO. 081987xxxxx’. Orang yang ada di dalam mobil itu menggeram kesal.
“Apa-apaan ini? Sion, antar saya ke Kantor cepetan”
“Baik pak Riko.”
                Mobil itu pun meninggalkan rumah besar itu.menuju ke kantor yang Riko maksud. Sesampainya di kantor ia pun langsung marah-marah kepada semua karyawannya yang kini terlihat sedang duduk-duduk santai tanpa melakukan aktivitas.
“Apa-apaan ini? Keanapa kalian nggak kerja? Cepetan kerja!” marah Riko.
Seseorang datang menghampirinya. “Maaf Pak Riko, perusahaan kita terancam bangkrut. Kami semua bingung apabila nanti kami semua akan di PHK.”
“Kok bisa?” marahnya ke orang tadi.
“Pak, mari kita keruangan saya. Saya mau ngasih laporan keuangan selama bapak tidak ada.” Riko pun mengikuti pegawai tadi menuju ke sebuah ruangan.
“Pak ini laporan keuangan selama beberapa bulan lalu dan sekarang.” Orang tadi menunjukkanlaporan keuangan perusahaan itu.
“Shit, gila ini gila Alvin!” makinya. “Ini kenapa keluaran lebih banyak daripada pemasukan? Ini apa lagi, bulan Juni keluaran samapi mencapai 1 M itu giamana? Kalian apakan aja uang itu.”
“Maaf pak, ini semua atas permintaan Bu Shilla. Itu semua juga atas izin bapak”
“Alvinnn, kamu saya percayai untuk mengurus keuangan, tadinya kamu jangan terima permintaan Shilla gitu aja dong sebelum saya bilang sendiri ke kamu.”
“Tapi disini ada tanda tangan bapak” Alvin mengeluarkan semua cek..
“Ya sudah, kita urus bareng-bareng masalah ini. Saya yakin ini bisa di atasi. Tolong bantu saya Alvin. Sekarang kamu tahu keberadaan Shilla dimana?” tanya Riko.
“saya tidak tahu Pak. Tapi kayaknya Bu Shilla ke daerah Yogya.”
“Terus dia bawa Oik anakku?” Riko Shock mendengarnya.
***
                Seluruh polisi telah berpatroli ke kota Yogya untuk mencari keberadaan Shilla dan Oik berada.
Riko dari tadi berkutat dengan hp’a. Seperti sibuk menelpon seseorang namun tak kunjung ada jawaban dari seberang.
“Halo Cakka, kamu bisa bantu om buat cari Oik?” tanya Riko.
“Iya om, Cakka bisa. Sudah dari kemarin Cakka mencari Oik. Sekarang om dimana?” tanya Cakka.
“Saya di daerah kota Yogakarta.”
“Baik om, Cakka sama temen-temen segera kesana”
Tutt, sambungan putus.


                Cakka yang baru saja mematikan sambungan telpone dari om Riko, ia segera menghubungi Ozy, Gabriel, Sivia juga Acha buat nyari Oik bareng-bareng.
Cakka dan rombongan pun telah meluncur menuju ke Kota Yogyakarta. Ia sangat khawatir sekali dengan keadaan Oik.
“Kka, mending loe diem dulu deh. ini aku masih nyetir, Ntar kalo nabrak gimana” ujar Gabriel yang ada di samping Cakka.
“Gimana gue bisa diem?”
“Sabar Kka” Ujar Ozy.

***
                Shilla kaget dengan mobil-mobil yang kini berjejer di depan rumahnya. Ia menyuruh Oik untuk tetap berada di dalam kamarnya.
“SHILLA... KELUAR KAMU!” Teriak orang dari luar sambil gedor-gedor pintu. Namun Shilla tak juga keluar,
                ‘BRAKKKK’ pintu di dobrak secara paksa. Semua polisi segera memeriksa semua ruangan yang ada di situ.
                Sedangkan Riko mengetuk pintu kamar. “Oik, Oik sayang kamu di dalam nak?” tanyanya khawatir. Namun tak ada suara.
‘BRAKK’ lagi-lagi ia mendobrak pintu secara paksa. Ia bener-bener kaget dengan pemandangan yang ada dalam.
“SHILLA LEPASIN OIK!”
“Aku nggak akan lepasin dia sebelum kamu menyerahkan semua aset kekayaan yang kamu punya.” Tantangnya kini tangan kirinya memegang tangan Oik ke belakang, dan tangan kanannya memegang pisau ke arah leher Oik.
“Ayah, tolong yah kasih aset itu.”
“Enggak Oik, kamu bisa selamat tanpa ayah melepaskan aset ayah.”
“Oh jadi kamu lebih memilih anakmu mati? Manusia bodoh!” umpat Shilla kesal. Ia juga sebenarnya tak tega memperlakukan Oik gini.
“Ayah tolong oik yah, kasih aset itu”
Karna Riko masih kekeh juga, tiba-tiba saja Saat ia mau menusuk Riko,
‘JLEBBB’
Keadaan hening. Mereka semua shock Shilla juga.
“CAKKKKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” teriak Oik.
“Cakka?” Riko kaget ternyata yang kena pisau Shilla bukan Oik juga bukan dirinya namun Cakka. Cakka telah menolongnya.
“Cakka kamu nggak apa-apa?” Oik langsung menghambur ke arah Cakka.
“Aku.. nggak.. ke..napa..ke..napa Ik” ucapnya terbata-bata. Masih sempatnya ia tersenyum.
“Angkat tangan saudari Shilla” Sang polisi baru datang dan segera menangkap Shilla.
“Sekarang juga bawa Cakka ke rumah sakit” Ujar Riko.ayah Oik.
Gabriel dan Ozy pun segera membopong Cakka, sebelum ia kehabisan darah.

***
                Di sebuah ruangan di salah satu rumah sakit. Seseorang duduk di kursi samping Tempat tidur.
“Cakka, bangun Kka. Aku mohon bangun. Kamu gak kasihan apa sama aku? Aku sangat mencintaimu Kka. Aku mau kok jadi pacar kamu” kata sang gadis, yang tak lain Oik.
“Oik, kamu nggak tidur sayang.” Sapa seseorang.
“belum ngantuk” jawabnya datar.
“Oik maafkan Ayah, ayah tau ayah salah. Seandainya saja ayah mau ngasih aset itu, pasti sekarang kita nggak akan ada yang terluka.” Sesal Riko.
“Udah terlambat Yah” Jawabnya dingin. Sedangkan Sivia, Acha, Ozy dan Gabriel sudah terlelap di sofa yang ada di ruangan itu.
“Maafkan Ayah”
                Tiba-tiba saja ada yang bergerak di genggaman Oik. Ternyata itu yang bergerak tangan Cakka.
“Kka, kamu sadar?” tanyanya setengah nggak percaya namu ia mulai bahagia.
Perlahan mata Cakka terbuka. “Aku dimana Ik?” tanyanya dengan suara lirih.
“Kamu di rumah sakit, aku panggilin dokter ya”
“Enggak usah Ik.” Cakka kini beralih ke samping oik. “Om Riko? Om nggak kenapa-kenapa kan?” Tanyanya khawatir.
“Om nggak apa-apa Kok kka, seharusnya om yang nanya ke kamu. Gimana kamu?” beliau tersenyum. “Maafkan om ya Kka, ini gara-gara om.”
“Ini bukan salah om Riko kok, anggap saja ini kecelakaan. Oik, kamu marah dengan om Riko?” tanya Cakka. Namun Oik hanya diam. “Ik, tolong ya kamu jangan marah sama om Riko, beliau berusaha mati-matian buat nyari kamu. Kamu nggak kasihan?” tanya Cakka.
“Iya, Oik juga minta maaf yah” sesal Oik.
“Nggak apa-apa kok Ik, ayah juga minta maaf nggak bisa kasih ibu yang baik buat kamu. Ayah merasa bersalah sama bunda kamu”
“Oik sayang ayah, ayah jangan tinggalin Oik lagi ya” Kini Oik memeluk ayahnya.
“Iya, ayah janji nggak akan ninggalin kamu” Riko mengusap dengan lembut punggung Oik.
“Ekhm, ya sudah ayah tidur dulu ya. Kalian ngobrol dulu aja. Hehehe” ujarnya jahil.
Setelah Ayahnya pergi, kini hanya kebisuan yang menemani mereka.
“Oik, apa kamu masih mau untuk merubah pendirian kamu?” tanya Cakka hati-hati. Oik menunduk malu. Ia mengangguk pelan. “Beneran Ik? Thanks banget ya” Ujar Cakka kegirangan “Auh...” rintihnya.
“Aduh Kka kamu kenapa? Sakit ya? Makanya jangan keterusan, masih sakit juga” omel Oik khawatir.
“Habisnya kelewat seneng sih, jadi kamu mau kan jadi pacarku?”
“Iya Cakka Nuraga. Harus berapa kali aku bilang hmm” geram Oik gemas.
“Hehehe... Love you Ik”
“Love you to Kka”

_TAMAT_

Template by:
Free Blog Templates