Tampilkan postingan dengan label CAIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CAIK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juli 2013

Cinta Maraton Part 2

Pulang sekolah Oik langsung menuju ke ruang OSIS. Saat Oik datang semua anggota OSIS dan panitia juga sudah kumpul.
“Maaf ya telat.” Ujar Oik.
“Karena Oik sudah datang, rapat kita mulai dari sekarang aja.”
Cakka membuka rapat siang ini.
“Menurut kamu, gimana? Kalo kita adain lomba olah raga juga. daripada cuman seni.” tanya Cakka ke Oik.
“Bagus. Lomba maraton cukup menarik kayaknya.”
“Lari maraton?” Cakka cukup kaget saat mendengar lomba lari.
“Iya. Kenapa? Kamu takut nggak kuat.”
Cakka menatap Oik tak percaya. Pasalnya Cakka itu dari kecil nggak bisa lari cepat. Tengsin dong sama Oik.
“hahaha.. nggak, siapa juga yang takut. Oke,”
“Gimana teman-teman? Setuju nggak?” Tanya Cakka.
“Setuju.”
“Baik, Cakka gue percaya sama lo ya. Maaf, gue mau pamit pulang dulu.”
Lagi-lagi Cakka yang harus menutup rapat. Yang jadi Ketua OSIS sebenarnya siapa sih? Oik apa Cakka? Kenapa Cakka yang ribet sendiri. Dan anak-anak cewek yang ada di situ saling berbisik mengantar kepergian Oik. Namun Cakka tak ambil pusing.

“kak Cakka!” panggil seorang cewek, saat Cakka sedang membereskan ruang OSIS.
“Eh, Nadia. Ada apa?” tanyanya bingung.
“Nggak kok, mau aku bantuin?” tanya Nadia.
“boleh.” Cakka tersenyum ramah.
“Kak Cakka, kakak pacarnya kak Oik ya?”
“hah? Oik? Bukan kok. Emangnya kenapa?”
“nggak apa-apa sih. Tapi kok kakak sama kak Oik akrab banget. Sampe kakak mau bantuin kak Oik segitunya, kemana-mana juga bareng.”
“Gue sama Oik udah temenan dari kecil. Jadi wajar dong gue sama dia deket.” Cakka mengacak rambut Nadia.
Nadia yang digituin tersipu malu. ‘kak Cakka baik banget sih.’
Nadia dan Cakka saling bertukar cerita selama mereka membersihkan ruang OSIS.
***
Di lain tempat.
“Rumah lo masih yang dulu kan, Ik?” tanya Alvin saat Oik sudah masuk ke dalam mobilnya.
“Iya, Vin. Sampai aku bosen sendiri, tetanggaan sama Cakka lagi.” Oik tertawa tiap kali dia menceritakan tentang dia dan cakka. Merasa geli aja. “Tapi untungnya ada Cakka, jadi gue nggak kesepian deh di rumah.”
“Oh. Jadi kalian berdua masih tetanggaan?”
“Iya dong. Sayang banget dulu lo pindah.” Oik menoleh ke Alvin sambil tersenyum nakal.
‘yes, Oik masih ngeharapin aku.’
“Ya udah kita jalan sekarang nih? Mau langsung balik atau jalan-jalan dulu?” tanya Alvin.
“Balik aja deh, capek banget Vin.”
“Siap tuan putri.” Alvin pun melajukan mobilnya menuju ke kediaman Oik.
Selama di perjalanan Alvin dan Oik tak henti-hentinya bercerita tentang masa kecil mereka sambil sesekali mereka tertawa kalau mengingat hal-hal lucu yang dulu mereka lakuin. Walaupun dari kecil Oik lebih sering bermain boneka-bonekaan sama Cakka daripada main mobil-mobilan bareng Alvin.

“Oik, ini ya rumah lo?” tanya Alvin setelah mereka sampai di rumah Oik.
“Iya, Vin. Makasih ya udah di anterin. Lo mau masuk dulu apa langsung pulang?” Tanya Oik menawarkan.
“Mainnya lain kali aja ya, gue udah ditunggu mama nih.”
“Iya deh. sekali lagi makasih ya.” Oik keluar dari mobil Alvin dan menutupnya.
Setelah mobil Alvin pergi, Oik segera membuka gerbangnya dengan perasaan lebih bahagia. Namun gerakannya dihentikan oleh sebuah suara.
“Ekhem... Seneng banget deh kayaknya.”
Oik membalikkan tubuhnya dan tersenyum lebar. “eh Cakka. Iya dong seneng. Lo tau nggak...”
“nggak.” Jawab Cakka singkat.
“yee.. gue belum selesai kali ngomongnya.” Oik cemberut tapi ekspresinya langsung berubah senang kembali. “Coba deh tebak. Tadi aku pulang sama siapa.” Oik menatap Cakka dengan misterius.
“Cowok baru lo? Gebetan baru yang tadi ngajakin kencan? Tunangan lo yang baru pulang dari Amrik..”
“Ih bukan, Cakka. Masak nggak tau sih. Barusan aku dianterin pulang sama Alvin.”
“Alvin? Alvin siapa?”
“Alvin cowok basket sekolah. Dan lo tau apa? Ternyata dia itu teman kita waktu kecil. Aaaaaa...” Oik menjerit histeris. Namun Cakka hanya cengok menatapnya.
“Oh”
“kok cuman ‘oh’ doang sih?” Oik cemberut.
“Iya deh Oik. Turut senang gue.” Cakka tersenyum sinis.
‘Ngapain tuh anak balik lagi sih? Tapi Oik, apa Alvin bakalan jadi cowok dia selanjutnya? Giliran gue kapan dong?’
“Cakka. Lo denger gue ngomong nggak sih?” Oik mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Cakka.
“Denger kok.”
“Ya udah, nunggu apa lagi? sono balik! Gue mau tidur.” Oik mengusir Cakka dengan mendorong tubuh Cakka menuju rumahnya.
“Siang ini lo nggak usah tidur deh. mending kita main aja.”
“nggak Cakka. Gue capek.”
“Ik...”
Oik cuman memelototi Cakka tajam, yang membuat Cakka mau tidak mau masuk ke rumahnya.
***
            Istirahat pertama Oik menghabiskan waktunya di ruang OSIS. Waktu Oik masuk di dalam ada Cakka dan Nadia sedang tertawa-tawa di depan komputer.
“Ekhem..” Oik berdehem yang membuat Cakka dan Nadia menoleh, namun Cakka masih menyunggingkan senyum lebarnya.
“Eh ada Oik. Udah lama?” Tanya Cakka.
“Nggak barusan.” Jawab Oik cuek. Oik enghampiri komputer yang ada di mejanya. “Kayaknya kalian asyik banget, sampai ketawa segitunya.”
“Iya nih, kak. Tadi kak Cakka cerita lucu banget.” Sambut Nadia dengan senang.
“Ik, Nad. Gue ke toilet dulu ya kebelet nih. Ntar sekalian gue beliin minum deh.” Cakka cepat-cepat keluar.
            Setelah Cakka keluar dari ruang OSIS. Suasana menjadi hening seketika. Tidak ada suara tawa lagi. Oik maupun Nadia sama-sama diam.
“Kak Oik, aku mau ngomong sama kakak.” Suara Nadia memecahkan keheningan.
“Ya udah ngomong aja.” Jawab Oik tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari komputer.
“Maaf kalau aku nggak sopan. Tapi aku cuman mau bilang, apa kakak nggak kasihan apa sama kak Cakka? Kak Oik tuh sebenernya nganggap kak Cakka teman atau pembantu sih?”
“Maksud lo apa?” tanya Oik belum ngeh.
“Tadi aku ngomong udah jelas kan kak?”
“Nggak ada urusannya sama lo juga kan?” kata Oik cuek. “Lagian Cakka-nya sendiri yang mau gitu. Gue nggak nyuruh dia ya.”
“Oh, gue paham. Lo tenang aja Nadia, gue sama Cakka itu cuman teman. Nggak lebih! Jadi lo nggak usah khawatir kalau gue bakal rebut Cakka dari lo. Lo suka kan sama dia?” Oik memutar matanya malas.
“Beneran kak Oik cuman temannya Kak Cakka doang?”
“Iya lah. Gue sama dia udah dari lahir temenan. Kalau lo suka ya ambil aja dia.”
Mendengar jawaban Oik, Nadia bisa tersenyum lega.
_
_
_
“Pak Somat, jus mangga 2!” Ujar seseorang.
“Iya, Mas Cakka.” Ujar Pak Somat sambil tersenyum.
Cakka menoleh ke samping. Didapatinya Alvin sedang berdiri cuek, namun ia pun menoleh ke arah Cakka.
“Akhirnya gue bisa ketemu lo lagi.” Ujar Alvin tersenyum sinis. “Udah bisa lari cepat belum?”
            Cakka yang digituin merasa harga dirinya terinjak, namun Cakka masih tetap tenang. Ia malas kalau udah urusan kayak gini, dari dulu Alvin yang bakalan menang.
“Ya udahlah.” Cakka membanggakan dirinya, walaupun tadi itu jawaban asal ceplos doang.
“Oh bagus dong kalau gitu. Tadinya gue emang berniat ngajakin lo balap lari, tapi gue takut lo kalah. Tapi karna sekarang lo udah kuat, mau nggak ntar kita adu di turnamen lari maraton satu sekolah kita. Tenang aja, ini hadiahnya kok.”
“Hadiah apa’an. Gue mau-mau aja tanding sama lo,” Tantang Cakka dengan suara khasnya yang selengek’an. “kecil itu.”
“Mas Cakka, ini jus-nya.” Suara pak Somat menghentikan pembicaraan Cakka dan Alvin.
“Makasih Pak. Ini uangnya.” Cakka mengangsurkan uangnya.
Cakka tersenyum ramah ke Pak Somat, sambil meraih jus mangganya.
“Itu jus buat Oik ya?” Tanya Alvin.
“Iya.”
“Kayaknya lo perhatian banget sama dia. kalian pacaran?”
“Iyalah gue perhatian. Orang gue temennya. Kita nggak pacaran.”
“Tapi lo suka kan? Secara dia itu temen masa kecil lo. Kalian bareng terus gitu.”
“mana ada cowok yang nggak suka sama cewek secantik Oik.” Ujar Cakka dengan jawaban ambigunya.
“Gimana kalau hadiahnya Oik. Siapa yang bisa ngelewatin garis finish duluan itu pemenangnya. Dan boleh ngedapetin Oik. Tapi yang kalah, dia harus rela ngelepas Oik dan nggak boleh berhubungan sama dia.”
“Ya nggak bisa gitu dong! Eh, asal lo tahu aja ya! Oik itu bukan barang yang bisa di permainkan. Oik itu punya perasaan. Lo gila, Vin!” emosi Cakka naik saat mendengar ucapan Alvin yang super enteng itu.
“Gue sayang sama Oik, dan gue bukan banci kayak lo! Gue bakal dapetin dia apa pun resikonya. Dan puas-puasin aja deh lo sama Oik-nya. Karna gue yakin, gue yang akan menang.” Setelah ngomong seperti itu, Alvin pergi meninggalkan Cakka dengan membawa dua gelas jus mangga ditangannya.
‘Alvin gila banget sih. Gue nggak bakal rela kalau Oik sampai jadian sama Alvin. Apa jadinya Oik nanti. Kalau pun akhirnya Oik nggak bareng gue, gue nggak masalah. Asal jangan Alvin!’ Dengan langkah berat Cakka meninggalkan kantin menuju ruang OSIS.
_
_
_
‘kring..’
‘tok..tok..tok’
“Cakka, ada telpon nih dari Oik. Katanya mau ngomong sama kamu.” panggil mamanya
“Iya, ma.” Cakka meletakkan barbelnya di meja, lalu membuka pintu kamar.
“Nih.”
“Iya halo, Ik. Ada apa?”
“...Nggak ada apa-apa kok. Cuman mau nelpon aja. Gue main ke rumah lo ya sekarang, Kka.”
“Eh, jangan Ik.” Jawab Cakka panik.
“lho kenapa? Gue kesana ya.”
“Jangan sekarang. Ini kan udah malem, lo nggak tidur gitu?”
“Apa sih lo. Gue kan udah biasa keluar masuk rumah lo malem-malem gini. ini juga masih jam 7.”
“Ya jangan pokoknya.” Tolak Cakka lagi, kelabakan.
“Ih, aneh banget deh lo. Gue nggak boleh main. Ada pacar lo ya di rumah? Janji deh gue nggak ganggu. Ayolah Kka! Males nih di rumah, lo tau kan gimana hubungan aku sama Tante Winda.”
“Ih, siapa juga yang udah punya pacar. Iya tahu gimana lo sama Tante Winda. Maka dari itu gue kasih kesempatan lo satu hari buat cerita-cerita bareng sama tente Winda. Dia juga mama lo kan? Walaupun mama tiri, tapi percaya deh sama gue. Dia itu baik.”
“Cakka!! Nggak asyik banget lo! Gue nggak tahan sama dia. ayolah Kka!”
Cakka menghembuskan napasnya. “Ya udah. Lo tidur aja. Tadi kayaknya lo kecapekan gitu deh. gue juga udah ngantuk nih. Bye Oik.” Cakka cepat-cepat memutuskan hubungan telpon.
“Tumben Oik nggak main ke sini, Kka?”
Cakka terlonjak kaget mendengar suara mamanya.
“Mama ada di situ sejak kapan?”
“Ya dari tadi lah. Kamu-nya aja yang serius gitu ngomong sama Oik, sampai ada mama di sini dari tadi kamu nggak liat.” Uci, mama Cakka hanya bisa menggeleng-geleng sambil tersenyum. “Mama tanya, Oik tumben nggak main?”
“Iya, nih ma. Tadi Cakka yang gak bolehin dia main. Mama mau Cakka malu di depan Oik.”Cakka cemberut.
“Ya habisnya kamu aneh-aneh banget sih. Pake mendadak gila olahraga lagi, bukannya dari kecil kamu nggak suka?”
“Itu juga kan gara-gara mama yang nggak nge-bolehin Cakka ikut gitu-gituan. Ntar Capeklah, keringetan lah, ini lah, itu lah.” Cakka menirukan ucapan mamanya dulu yang sering melarang Cakka untuk ikut gitu-gituan. Apalagi olahraga yang terlalu berat-berat. Katanya sih ‘mama takut kehilangan kamu. kalo kamu cidera.’ Alay banget gak tuh.
“Iya ding. Mama lupa. Hehehe..” Uci hanya nyengir.
Sedangkan Cakka makin cemberut.
“Ya udah, anak mama jangan cemberut gini dong. Nih jusnya.” Uci memberikan segelas jus mangga kesukaan Cakka yang sejak tadi dipegangnya.
Cakka emang dari kecil sering dimanjakan sama mamanya. Makan aja kadang disuapin. Akhirnya Cakka menolak semua manjaan yang dilakukan mamanya. “Malu diliatin Oik, udah gede masih aja disuapin makannya.” Akhirnya sejak SD Cakka tidak lagi disuapin.
Cakka cuman punya satu kakak perempuan. Namanya kak Zahra. Dia itu anaknya tomboy. Mamanya sering mengeluh, karna itu juga mama Cakka memperlakukan-nya manja. Soalnya Zahra paling anti kalau digituin. Cakka deh jadi korbannya.
“Ya udah deh ma, Cakka mau ngelanjutin Olahraganya.”
“Iya deh. mama tahu, yang lagi kasmaran. Cinta itu perlu diperjuangkan, Cakka! Oik pasti suka kok sama kamu, anak mama gitu. udah ganteng.”
“Ihh.. mama! Ntar kalau orangnya denger gimana. Ini rahasia.”
“Iya deh. selamat berjuang!” Uci hanya cekikikan, keluar dari kamar anak cowoknya itu.
***
Hari Minggu yang cerah,
Cakka sudah bangun dari subuh. Setelah sholat, dia langsung olahraga di depan gerbang rumah Oik. Sebelum jogging, Cakka melakukan pemanasan terlebih dahulu. Meregangkan otot-ototnya yang kaku. Dari kepala, tangan, hingga kaki.
Saat pemanasan sesekali Cakka memandang rumah mewah yang berada tepat di depannya. Walaupun rumah itu besar, namun rumah itu terlihat sepi. Lebih tepatnya Cakka memandang ke jendela kamar Oik. *sebenarnya Cakka niat olahraga apa mau pamer :p*
“Aku bakal melakukan apa pun demi kamu Oik. Aku bakal rela kamu disakiti. Aku memang nggak akan menerima taruhan itu, tapi aku akan terus berjuang.” Kata Cakka dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal karena lari di tempat.
-
-
-
‘Kringggg... kriiinggg...’
“Ah.. ganggu aja sih.” Gumam Oik nggak jelas.
Masih dengan mata tertutup Oik meraih jam wekker doraemon-nya yang ada di meja sebelah tempat tidurnya. Dengan malas Oik membuka matanya melihat jam berapa sekarang.
“Masih jam enam juga.” saat Oik ingin melanjutkan tidurnya kembali, samar-samar ia mendengar suara orang menghitung dari arah depan rumahnya.
“Tu... Wa.. Ga.. Pat.. tangan kaki depan belakang. Eh, salah ya?”*korbanIklan*
“Satu... Dua.. Tiga.. Empat.. Lima.. Enam... Tujuh... Delapan.. dan seterusnya” berkali-kali orang itu berteriak.
“Aduh, siapa sih tu orang. Ganggu aja. Tapi penasaran juga sih, mending liat aja.” Gumam Oik beranjak dari tempat tidurnya mendekati jendela kamarnya yang menghadap langsung ke halaman depan.
Oik menyingkap gordennya. “Itu bukannya Cakka ya? Ngapain tuh orang di depan rumah?” Oik melongo saat melihat Cakka tak ada kerjaan di depan rumahnya. “Hah.. serius dia olahraga? Gokil banget dia, bukannya dia anti banget ya sama yang gitu-gituan.” Oik menahan tawanya, cepat-cepat ia membuka jendelanya.
“Woy Kka!! Ngapain lo di depan rumah gue?” kali ini tawa Oik sudah meledak.
Di bawah sana Cakka terlihat celingak-celinguk mencari suara, sebelum akhirnya dia mendongak ke atas. Sudah ada Oik di balkon kamarnya.
“Gu.. gue lagi olahraga dong. Liat nih!” Cakka menggerak-gerakkan tangannya,
“Gue tau, gak biasanya lo.”
“Gue udah biasa olahraga kok, lo nya aja yang nggak peka.” Cakka gugup,
“Guk.. guk guk.. guk” Cakka mencari asal suara. Saat menoleh ke belakang dilihatnya Sebuah anjing.
“Anjing manis, jangan nakal yah.” Cakka nyengir ke arah anjing.
Dengan gugup Cakka pamit ke oik. “Ya udah deh Ik, gue mau jogging dulu. Dah!”
“Eh lo mau kemana...” Ucapan Oik terputus karena  Cakka sudah kabur. Padahal dia mau ikutan. “Dasar aneh.” Oik masih saja terkikik geli ternyata di belakang Cakka seekor anjing menyusul.
-
-
-
Cakka masih saja berlari di sepanjang komplek. Ia tak mau mati konyol gara-gara anjing satu itu. Nafas Cakka sudah satu-satu.
“Ya Allah, jauhkanlah aku dari anjing itu.” doanya.
Akhirnya Cakka berhenti di sebuah pohon beringin yang ada di tepi jalan. Cakka masih membungkuk mengatur napasnya.
“Ambil napas buang. Ambil napas buang.” Instruksinya sendiri seperti bidan yang sedang menangani ibu-ibu mau melahirkan.

“Kak Cakka.”





Bersambung___


#hayo, siapa lo yg manggil :p tambah kesini perasaan alurnya makin ancur -_- =D makasih udah baca.

Selasa, 30 Oktober 2012

Gadis SMA di Bus 13 ( Cerpen CAIK )


Seorang cowok berseragam dengan tas di punggungnya keluar dari gerbang bertuliskan SMA Persada. Tak lama kemudian ada sebuah motor berhenti di sampingnya, ia kemudian menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah motor di sampingnya. Ia tersenyum kepada cowok yang mengendarai motor tadi, kemudian turun dan melepas helm full facenya. “ Hai bro. Motor loe kemana?” tanya cowok itu yang bernama Rio. “Hai juga Io, motor gue masih di bengkel. Tumben loe gak bareng Ify?” tanya cowok sebelumnya yang bernama Cakka. “Oh Ify? Dia masih ada tambahan. Oh yabareng gue aja yuk Kka!” Ajak Rio. “Gak usah deh Yo,” Tolak Cakka. “Jiah, loe gitu sekarang? Ma sobat sendiri juga. Terus loe pulang naik apa dong?” “Naik bus. Yaudahkalo gitu antar gue ke halte bus aja!” Sambil menunjuk ke arah halte bus di seberang sana. “Ok deh sob.” Mereka pun melaju dengan menggunakan motor Rio.
***
Lima menit yang lalu Cakka telah sampai di halte bus ini. Tak lama kemudian akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. sebuah bus berhenti tepat di hadapannya. Cakka menyunggingkan senyumnya lega. “Akhirnya datang juga” Ia pun segera menaiki bus itu. Semua tempat duduk di bus itu ternyata sudah penuh. Hanya ada satu tempat duduk dan disampingnya sudah ada seseorang. Ia segera duduk di tempat itu. Cakka menoleh ke sebelah tempat duduknya dan tersenyum. “Bolehkah aku duduk di sampingmu?” Tanyanya ramah. Gadis itu, gadis berseragam SMA menoleh ke arah Cakka. ‘Degg’ hati Cakka berdesir ketika melihat gadis tadi. Dengan wajahnya yang cantik dan menurutnya imut. Tak ada senyuman yang muncul dari bibirnya. Dengan wajah datarnya, dan kembali ke aktivitasnya semula yaitu memandang ke arah luar jendela. Tapi sayangnya gadis tadi terlihat dingin dan cuek. Pikir Cakka.
Selama di jalan mereka hanya diam. Cakka dan gadis itu. Karena Cakka terlalu bosan akhirnya ia pun bertanya kepada gadis itu. “Emm, boleh kenalan gak? Nama kamu siapa dan kamu dari SMA mana?” tanya Cakka ramah. Lagi-lagi gadis itu menoleh ke arahnya dengan wajah yang datar. Karna takut dia marah akhirnya Cakka meminta maaf. “Maaf. Oh ya, kenalin namaku Cakka dari SMA Persada.” Kini ia memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya ke arah gadis tadi. Sekali lagi gadis itu hanya menoleh kemudian memandang tangan Cakka. Tanpa sedikitpun membalas uluran tangan tadi. “Ya udah deh kalo gak mau.” Cakka pun menarik tangannya kembali dan hanya tersenyum memandang gadis di sebelahnya. Banyak pasang mata kini melihat ke arah Cakka. Tapi yang dilihat malah nggak nyadar dan menatap mata gadis di sebelahnya.
Lama berpandangan seperti itu akhirnya gadis tadi membuka suaranya juga yang terkesan dingin dan kaku. “Namaku O...” ‘Ckittttt’ suara decitan rem bus membuat kalimat gadis itu terputus. Dan ternyata kini mereka telah sampai di tempat tujuan.  Dalam hati Cakka merutuki bus itu ‘kenapa ganggu aja sih’. Tanpa sadar gadis itu telah turun mendahuluinya. Tanpa membuang waktu lagi Cakka pun mengejarnya. Setelah dekat, Cakka langsung mencekal tangan gadis itu. Karna reflek gadis itu pun berbalik dengan pandangan yang masih sama. “Tunggu! Aku belum tau siapa namamu.” Ujar Cakka akhirnya. “Maaf, tapi aku harus pulang sekarang” Tak sekaku tadi, walaupun ia terlihat masih kaku dan dingin tapi seenggaknya ia membalas ucapan Cakka. “Ok, kamu bilang dulu siapa namamu, nanti kamu aku lepas deh. Janji” “Hhh... namaku Oik. Yaudah permisi aku mau pulang” Setelah menyebutkan namanya yang ternyata gadis itu bernama Oik ia pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Cakka. “Tunggu” teriak Cakka lagi. Gadis itu pun meoleh dengan pandangan bingung. “Terima kasih Oik” lanjut Cakka kemudian. Oik hanya membalasnya dengan seulas senyum dan berbalik untuk melanjutkan langkahnya kembali. “Terimakasih, karna kamu telah merebut hatiku Oik” lanjut Cakka dalam hati dan membalas senyuman Oik.
***
Keesokan harinya saat istirahat di kantin, Cakka pun membicarakan hal ini kepada sahabatnya Rio. Ia menceritakan semuanya dari awal bertemu yang membuat hatinya dag-dig-dug melulu sampai akhirnya ia mengetahui nama gadis itu. “Cewek yang aneh” begitulah ujar Rio. “Itu yang membuat aku berfikir kalo dia itu beda dari yang lain.Tapi aku masih penasaran deh yo, sama tuh cewek. Kayaknya sih dia bukan anak SMA sini. Tapi dimana ya? Kok jadi lupa gini gue” Yang tadinya tersenyum lebar dan kini ia mengerutkan keningnya bingung dan masih berfikir. “Ya udahlah Kka. Gue kasih saran aja ya, kalo cinta itu dikejar jangan di diemin gitu ntar nyesel baru tau loe” Kata Rio bijak. “Thanks bangets ya Yo, loe emang sahabat paling baik deh sedunia. Gak salah Ify pilih loe” Kata Cakka bangga dengan sahabatnya ini. “Yey, loe baru nyadar ya. Iya-iya gue ngaku kalo gue itu emang lebih baik dari loe, gue emang lebih keren, cakep dan semuanya deh dari loe” Ucap Rio lebay dan mendapat satu toyoran dari Cakka. “Kalo soal cakep,keren, baik, itu lebih kerenan, cakepan, baikan gue kali” setelah ngomong begitu Cakka langsung lari karna takut kena balasan dari Rio. “Eh awas ya Loe Kka” Teriak Rio dari kantin.
***
Semenjak saat itu Cakka dan Oik sering bertemu di bus. Hari ini Cakka tidak menaiki motornya kembali dengan alasan yang sama seperti tempo hari. Cakka kembali lagi naik bus. Ia kembali bertemu dengan Oik di dalam bus dengan urutan tempat duduk yang masih sama seperti kemarin. Yaitu urutan ke 13. Tapi kali ini sepertinya Cakka sudah akrab dengan Oik. Jadilah mereka bercerita-cerita dan tak jarang juga keduanya tertawa bersama. Sungguh perkembangan yang baik.
“Oik, kamu tau gak?” tanya Cakka. “Nggak tuh” jawa Oik menahan tawanya. “Ya ialah kamu gak tau dan gak bakal pernah tau. Orang aku aja belum ngomong. Makanya dengerin dulu” ujar Cakka geregetan karna gemas. “Emangnya apa Kka?” tanya Oik sok serius. “aku mau ngomong tapi kamu jangan marah! Janji!” Cakka mengulurkan kelingkingnya. “Ok janji. Cepetan dong bicaranya” Setelah Oik melingkarkan kelingkingnya pada Cakka. “Sebenarnya, sejak awal aku bertemu dengan kamu aku tuh sudah suka sama kamu. Kamu tuh cantik, imut, manis dan ternyata kamu tuh baik ya?” Oik hanya tersipu malu. “Kamu mau nggak jadi pacarku?” Lanjut Cakka. Sesaat kemudian Oik jadi diam dan pandangannya menerawang jauh ke arah jendela. “Oik, kamu kenapa? Kok ngalamun?” Ujar Cakka mengagetkan Oik. “Nggak apa-apa kok Kka. Maaf tapi aku nggak bisa jadi pacar kamu” Jawab Oik akhirnya dengan senyuman pahit. “Kenapa? Jujur, kamu juga suka kan sama aku?” Tanya Cakka berusaha meyakinkan Oik bahwa ia serius dengan perasaannya. “Emm, aku juga gak bisa bohong sama perasaanku.” Oik menghela nafas sejenak. “Kamu bakal tau ntar, kenapa aku nggak bisa jadi pacar kamu” “Ya tapi kenapa Ik? Beri aku alasan kenapa kamu ngomong gitu? Lebih baik kamu bilang sekarang alasan itu.” “Maaf, aku gak bisa kasih tau kamu.” Tiba-tiba saja bus itu berhenti. Oik pun turun dari bus itu dan kemudian disusul Cakka di belakangnya.
Setelahnya mereka turun dari bus, Bus itu pun segera melaju pergi meninggalkan keduanya yang masih betah dengan kebisuan itu. Cakka pun sadar saat Oik sudah tak ada di hadapannya lagi dan pergi meninggalkannya. “Oik tunggu! Biar aku antar kamu pulang ya” Oik menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Cakka. Oik hanya menggeleng dan tersenyum, kemudian ia melanjutkan jalannya kembali.
Karna penasaran dengan rumah Oik, karna kalo setiap ia menawarkan diri untuk mengantarkan gadis itu, pasti gadis itu akan menolaknya. Mungkin ini kesempatan buat dia mencari tahu tentang gadis itu.
Cakka terus mengikuti Oik dari belakang tanpa diketahui oleh Oik tentunya. Oik berbelok ke gang yang menurut Cakka cukup sempit dan terpencil. Setelah berbelok-belok, sampai juga.Terlihat Oik memasuki sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas, Cakka pikir itu adalah rumah Oik. “Jadi ini rumahmu.” Lirih Cakka dengan senyuman khasnya. Setelah ia yakin bahwa Oik benarr-benar sudah masuk ke dalam rumah itu. Ia pun pergi meninggalkan tempat itu.
***
Beberapa hari telah berlalu. Semenjak hari itu Cakka tak pernah menaiki bus lagi karna motornya sudah kembali. Cakka merasa seperti ada yang kurang dalam hari-harinya, ia rindu dengan senyuman itu, ia rindu dengan suara itu dan juga tatapan itu. Tatapan yang susah untuk diartikan.
Pulang sekolah Cakka bertekad untuk menemui Oik. Hal pertama yang dia lakukan yaitu dengan mendatangi rumah Oik. Tapi Cakka tak datang sendiri. Ia datang bersama Rio. “Kka, apa bener ini rumahnya Oik?” tanya Rio. Setelah mobilnya berhenti di halaman rumah yang terpencil itu. Walaupun jalannya sempit, tapi mobil masih bisa untuk masuk ke dalamnya. “Iya, bener kok ini rumahnya. Mending kita turun sekarang aja” Ajak Cakka. “Ok deh” mereka segera membuka pintu mobil dan berjalan mendekati rumah itu. ‘tok, tok, tok’ “permisi”. “Iya, sebentar” jawab orang dari dalam yang terdengar berat dan berjalan membuka pintu. “Kalian siapa ya?” tanya seorang wanita paruh baya dengan mata yang terlihat semab. Mungkin saja itu ibunya Oik. Pikir Cakka dan Rio. “Maaf tante, kami ini temannya Oik” Jawab Rio dengan nada sopan. “Oiknya ada tante?” kini giliran Cakka yang bertanya dengan nada yang tak kalah sopan seperti Rio. “Mau apa kalian? Oik tak pernah punya teman seperti kalian. Dan kalian kenal Oik darimana?” tanya wanita itu dengan nada yang berubah menjadi kasar. “Kami cuman mau tanya gimana keadaannya Oik tante. Emang sih kami bukan teman satu sekolahnya. Tapi teman saya yang kenal dengan Oik waktu ia naik bus.” Ujar Rio. “Iya tante. Saya bertemu dengan Oik di bus. Dan itu juga tak sengaja kami satu tempat duduk.” “Sejak kapan kalian bertemu dengan Oik.” Ujar wanita itu lagi. “Mah, ada apa sih? Kok ribut-ribut gini?” Muncullah seorang pria dari dalam rumah itu. Dia adalah papa Oik. Mama Oik masih saja menatap tajam Cakka dan Rio. “Maaf ya, kalian ini siapa? Ada keperluan apa kalian kemari?” Tanya pria itu ramah yang kini sedang merangkul wanita tadi. “Kami temannya Oik om” Jawab Rio. “oh, jadi kalian temannya Oik ya? Ya sudah masuk dulu yuk.” “Iya om.” Akhirnya mereka pun menceritakan tentang kedatangannya kemari kepada Papa dan Mama Oik.
Setelah kedua orang tua Oik terdiam cukup lama. “Sekarang Oiknya ada dimana om, tante?” tanya Cakka yang sudah penasaran. “mm... Oik.. Oik sudah meninggal nak.” Jawab papa Oik akhirnya. Setelah menghembuskan nafas berat akhirnya ia pun menceritakan hal yang sesungguhnya. “Oik meninggal karena kecelakaan. Kecelakaan tragis itu yang telah mengakibatkannya meninggal. Jadi, saat itu ..
#Flashback on
“Pak stop pak” perintah seorang gadis berbaju SMA ke seorang supir Bus yang ditumpanginya setelah sampai di dekat rumahnya. Akhirnya supir bus itu menghentikan lajunya. Gadis itu pun turun tak jauh dari bus dengan senyuman yang selalu mengembang di bibirnya. Bus itu pun segera melaju kemnbali. Tiba-tiba saja ia merasa bahwa ada yang menyeretnya. Setelah ia sadar ternyata tas selempangnya terjepit pada saat pintu bus tertutup tadi. “Pak, berhenti. Tolong!” Teriaknya dengan suara yang cukup keras dan ia terus berlari untuk mengimbangi bus itu. Namun naas sang sopir ataupun keneknya tak mendengar. “pak berhenti!!” kini gadis itu pun sudah mengeluarkan airmatanya. Dan parahnya lagi bus itu malah mencepatkan lanjunya, karna oleng dan gadis itu tak sadar apa yang ada di depannya. ‘Braakkkk’ Suara yang cukup keras, karna hantaman dari tiang listrik. ia terpental beberapa meter dari tempat itu. Kini seluruh badannya sudah berlumuran darah.
#FLASHBACK END
Waktu itu ada saksi mata yang melihat kecelakaan itu dan menceritakannya kepada om. Awalnya om tak percaya dengan kecelakaan tragis yang mengenai Oik anak om dan tante. Tapi kini om yakin, bahwa itu benar-benar Oik. Jadi kalian tak mungkin bertemu dengan Oik. Karna kejadian ini sudah setahun yang lalu. Dan kalian baru bertemunya kemarin. Rasanya tak mungkin.” Ujar Om Riko.  “Tapi om, saya beneran ketemu sama Oik di bus kemarin. Malah beberapa kali kami terlibat percakapan” Sanggah Cakka. “Mending kalian pulang saja! Kalau memang tak percaya” marah om Riko tiba-tiba dengan nada mengusir. “Baik om, kita pulang. Ayo Kka, kita pulang!” Ujar Rio seraya menarik Cakka untuk keluar dengan keadaan Cakka masih shock.
***
Di sudut sebuah kamar, terlihat seseorang sedang merenung. Ia nampak masih shock dengan berita itu, berita mengenai orang yang baru saja mengisi hatinya. ‘tok,tok,tok’ suara ketukan pintu kamarnya membuyarkan lamunannya. Dengan segera ia berdiri dan mendekati pintu untuk membukanya. “papa? Tumben pa, pulang jam segini?” Tanya Cakka bingung. “Iya sayang. Kebetulan tadi di rumah sakit banyak banget pasiennya, dan gak ada dokter ganti.”Papanya tersenyum. Papa Cakka adalah seorang Dokter bedah. “Pa, Cakka boleh tanya nggak?” Kini mereka sudah ada di dalam kamar Cakka. “Tanya apa Kka?” Papanya mengernyitkan dahi bingung. “setahun yang lalu, papa pernah nggak menangani pasien karna kasus korban kecelakaan lalu lintas gitu?” Tanya Cakka serius. “Emm,, tunggu bentar deh. Kayaknya sih pernah. Seorang gadis. Kecelakaan bus” Kata papa Cakka masih mengingat. “memangnya kenapa Kka? Tumben kamu tanya-tanya soal pasien papa?” “Ya, gak apa-apa sih pa. Cuman tanya aja. Namanya Oik bukan?” tanya Cakka antusias. “Gak tau, papa lupa. Tapi kayaknya papa masih nyimpan korannya deh. Papa ambilin dulu ya” Cakka hanya mengangguk.
            Dayat kembali memasuki kamar anaknya dengan membawa sebuah koran yang sudah lusuh di tangannya. “Ini Kka korannya” Dayat mengangsurkan koran itu Cakka. “Makasih pa”. Cakka membolak-balikan halaman demi halaman. Satu halaman yang membuatnya shock.
            ‘Kecelakaan Tragis yang mengakibatkan seorang mahasiswi SMA meninggal dunia. Gadis itu ditemukan meninggal dunia dengan keadaan yang mengenaskan. Namanya ‘Oik Amanda Putri’ Sang sopir bus di penjara selama 3 tahun.’


            Siang ini sepulang sekolah, Cakka pergi ke pemakaman Oik. Untuk sekedar berdo’a agar Oik tenang disana. Bulir-bulir airmatanya pun menetes. Di sampingnya terdapat temannya Rio yang juga masih menunduk.
            ‘Semoga kamu tenang disana ya Ik. Jangan bosan untuk menunggu aku disana ya?! J.’



END

Sabtu, 29 September 2012

Berakhir Dengan Bahagia -Cerpen CaIk-


Seorang gadis sedang bersimpuh di depan gundukan tanah. Air matanya terus mengalir. Satu persatu orang mulai meninggalkan tempat itu sambil menepuk pundak gadis itu untuk sekedar memberi ketabahan dan kekuatan. Seorang pemuda kini berada di sampingnya.
“Oik, kita pulang yuk” Ajak pemuda itu ia merangkul pundak gadis tadi. Namun gadis yang di panggil Oik itu hanya terdiam seakan tak mampu untuk melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Untuk sekedar bicarapun sulit.
“Nggak Kka. Aku masih mau disini. Kasihan bunda di dalam sana.” Ujar Oik dengan suara parau.
“Iya, aku ngerti. Tapi kamu kan masih punya Om Riko. Masih ada Acha dan Sivia sahabatmu dan. Aku” ujarnya meyakinkan.
“Kalo gitu kalian pulang dulu aja. Aku masih pingin disini nemenin bunda.” Seorang pria paruh baya datang menghampiri keduanya.
“Oik sayang kita pulang ya. Ayah nggak mau kamu gini. Tuh liat Cakka, Acha, sama Sivia. Kasihan mereka nungguin, lagian juga kalo bunda liat kamu gini, dia pasti sedih.” Ujarnya lembut.
Oik mengalihkan pandangan dari gundukan tanah yang bertuliskan ‘Zahra Dianara’.
“Baiklah Oik pulang” Ujar Oik akhirnya karna ia tak mau melihat orang yang ia sayangi sedih. Dan juga ia tak berani melawan ayahnya. Sebelumnya Oik berkata “Bunda, Oik pulang dulu ya. Hiks.. “ ujarnya masih sesenggukan. “Bunda hati-hati ya. Bunda jangan sedih, Oik bakal baik-baik kok disini. Selamat jalan bunda” Oik mengusap nisan bundanya dengan sayang, kemudian ia menciumnya singkat. “Oik pulang bunda. Ntar Oik kesini lagi kok” Sivia dan Acha ikutan sedih melihat sahabatnya, sesekali mereka meneteskan mata. Cakka hanya bisa memandang Oik dengan tatapan pilu, rasanya ia sangat ingin memeluk gadis itu. Sedangkan ayah Oik hanya bisa menangis dalam kebisuan. Beliau mulai melangkah duluan meninggalkan keempatnya, rasanya ia tak ingin hal ini terjadi. Melihat anaknya menangis menambah sesak dalam hatinya.
                Akhirnya mereka pun meninggalkan pemakaman itu dengan Oik berada dalam pelukan Cakka, di sebelah kanan mereka ada Acha dan Sivia yang ikut berjalan sambil mengusap punggung Oik.
***
                1 Bulan telah berlalu semenjak meninggalnya sang bunda. Sedikit-sedikit Oik mulai bisa menerima kenyataan. Walaupun hatinya masih belum rela dan memendam kesedihan itu. Tapi di depan teman-temannya dan Ayahnya ia berusaha untuk selalu menampilkan keceriaan yang dulu selalu ia miliki. Seolah-olah tak terjadi apa-apa.
                Setelah satu bulan disibukkan dengan pekerjaannya, tiba-tiba ayahnya mengajak Oik untuk dinner bersama Sabtu ini, seperti dulu sebelum bundanya meninggal. Katanya Ayah Riko ingin bercerita-cerita. Soalnya sudah lama mereka tak melakukan hal itu lagi.
                Saat ini Oik dan ayahnya sudah berada di salah satu restoran mewah yang ada di Kota Bandung.
“Ayah, ayah mau bicara apa? Katanya ada yang penting?”Tanya Oik membuka pembicaraan.
“Oik, bicaranya nanti dulu ya. Nunggu seseorang bentar.” Kata ayahnya dengan senyum.
Saat Oik sedang sibuk dengan minumannya, tiba-tiba saja
“Hai Riko” sapa seseorang.
‘mungkin itu yang ayah tunggu’ pikir Oik masih sibuk dengan minumannya.
“Hai Shilla, silahkan duduk” ajak ayah Oik.
“Baiklah, Udah nunggu lama ya?” tanyanya.
“Ah enggak, biasa aja.” Kemudian Ayah Riko berpaling kepada Oik. “Oh ya, Ik kenalin ini tante Shilla. Shilla ini Oik anakku”
“Oh jadi ini anakmu? Udah besar ya ternyata? Cantik lagi seperti bundanya.” Ujar Shilla.
“Hay tante, makasih.” Balas Oik senang.
Pembicaraanpun berlangsung cukup lama.
***
                Oik baru saja pulang dari sekolahnya dengan diantar Cakka menggunakan motor CBR yellownya.
“Makasih ya Kka” kata Oik setelah turun dari motor itu.
“Iya sama-sama. Em, ya udah sekarang kamu masuk gih” suruh Cakka lembut.
“Lho? Kamu nggak pulang?” tanya Oik bingung.
“Nanti aku pulang setelah mastiin kamu udah masuk rumah atau belum” cengirnya.
“Ih kamu bisa aja. Ya udah deh aku masuk dulu ya. Hati-hati di jalan”
“Sipp deh”
                Setelah Oik masuk ke rumahnya, Cakka segera melesatkan motornya pergi meninggalkan rumah Oik.
                Oik pun berjalan memasuki rumah. Seperti biasa di rumah hanya ada bibik dan dirinya. Jam segini Ayahnya pasti belum pulang. Namun saat Oik akan menaiki tangga menuju kamarnya ada orang yang menyapanya.
“Tadi di anter siapa Ik?” Tanya orang itu. Oik mengalihkan pandangannya ia mendapati ayahnya sedang duduk di ruang keluarga yang tempatnya berdekatan dengan tangga.
“Eh yah, udah pulang? Tumben banget.” Ia tak menjawab pertanyaan ayahnya malah balik bertanya.
“Iya ayah udah pulang kok, kamu ditanya malah balik tanya. Tadi Cakka ya?” tanya ayahnya jahil.
“Ih ayah, apa deh. Iya tadi emang Cakka yang anter Oik pulang. Kenapa?” Ujaar Oik cemberut mendapat ledekan dari ayahnya.
“Nggak kenapa-kenapa. Tapi kalo ayah liat, kalian cocok deh.”
“Mulai deh. ah udah ah jangan bahas itu. Oik malu tau”
“Eh nggak percaya. Kayaknya Cakka tuh suka sama kamu. Kamu juga suka kan sama dia? Hayooo”
“Ih ayah udah. Oik ngambek nih” Bibirnya udah makin maju.
“Iya deh iya, ih kamu jelek tau kayak gitu. Hahaha...” tawa ayahnya meledak. “Ik, ayah mau tanya serius nih sama kamu” Ujar ayahnya yang udah berhenti tertawa dan wajahnya berubah serius.
Oik pun duduk di sebelah ayahnya.
“Tanya apa yah?” tanyanya bingung.
“Em, kalo kamu punya bunda baru setuju nggak?” tanyanya lagi yang membuat Oik cengo.
‘Bunda baru? Ok deh, mungkin ini jalan yang baik untuk membuat ayah bahagia lagi dengan bunda baru tentunya’ bati Oik dan tersenyum.
“Emangnya bunda barunya siapa yah?” tanya Oik penasaran.
“Tante Shilla” jawabnya singkat. “Tapi ya kalo kamu nggak mau juga nggak apa-apa kok. Ayah ngerti”
“Oik sih setuju-setuju aja, asalkan ayah bahagia dengan tante Shilla. Lagian juga kalo diliat-liat dia baik baik, cantik, apa lagi ya? Tapi itu terserah ayah juga. dan pastinya harus minta ijin dulu sama bunda zahra Ok ;)”
“Makasih Oik, kamu anak ayah yang paling baik deh, paling cantik, paling segalanya. Ayah janji ayah nggak bakal ngelupain kamu sama bunda Zahra.” Sangking senengnya Ayah Riko memeluk Oik erat.
“Ayah, emangnya anak ayah siapa lagi?” tanya Oik bingung.
“E... enggak ada. Hehehe” cengirnya.
“Ya iyalah Oik paling cantik, baik, dan segalanya orang anak ayah cuman Oik doang”
***
                Beberapa bulan telah berlalu semenjak pernikahan Shilla dan Riko. Dan selama itu pula Shilla sangat baik kepada Oik. Bahkan ia mengajak Oik Shopping bareng, makan bareng. Selama itu pula ia merasa sangat senang. Bundanya seperti kembali lagi.
                Namun pada suatu hari saat Ayah Riko pergi untuk mengurus proyeknya yang berada di Kalimantan, tante Shilla yang notabennya ‘bunda baru’ Oik tiba-tiba saja sikapnya berubah total nggak seperti biasanya. Ia cepat marah, dan terkadang pekerjaan rumah Oik disuruhnya untuk membersihkan. Padahal sudah ada Bibi yang mengurusnya. Apa ini tanda-tanda peran ibu tiri untuk menyiksa anak tirinya akan segera dimulai? Entahlah.

Hari ini semua murid di SMU Antariksa tempat Oik dan kawan-kawan bersekolah dipulangkan lebih awal. Saat Oik, Acha dan Sivia sedang berjalan di koridor, tiba-tiba saja ada beberapa anak yang menghampirinya.
“Hay Ik, kita pulang bareng yuk?” ajak cowok itu yang tak lain adalah Cakka.
“Em, tapi aku sama Acha sama Sivia” ujar Oik sambil melihat Acha dan Sivia bergantian.
“Udahlah Ik kita nggak apa-apa kok.” Ujar Sivia berusaha mengerti.
“Iya, mending loe balik aja sama Cakka. Tenang aja Acha balik bareng gue kok” Kata salah satu cowok diantara kedua teman Cakka. Dia Ozy yang segera pindah tempat untuk merangkul Acha.
“Dan Via sama gue” ujar cowok satunya lagi Gabriel.
“Iya Ik, kita nggak apa-apa kok. Kasihan tuh Cakka udah nunggu lama” Ujar Acha.
“Ya udah deh. Yuk Kka pulang” Kata Oik akhirnya.
Cakka dan Oik pun meninggalkan ke empat temannya.
Saat di parkiran,
“Ik, jalan-jalan bentar yuk.” Ajak Cakka
“Tapi Kka, aku nggak bisa” Jawab Oik merasa bersalah.
“Lho kenapa? Dulu juga kita sering jalan.” Tanya Cakka bingung, merasa aneh dengan sikap Oik akhir-akhir ini. Walaupun mereka semua udah tau kalo Cakka suka sama Oik semenjak Cakka belum putus dengan Nadya beberapa bulan yang lalu. Sampai saat ini walaupun ia telah putus dengan Nadya, namun rasanya belum berani untuk ia nyatakan cinta ke Oik secara langsung.
“Iya sih. Tapi aku harus bantu-bantu bunda Shilla di rumah.”
“Bukannya di rumahmu udah ada bibi?” Tanya Cakka semakin bingun. “Ayolah Ik sekali ini saja” mohon Cakka sangat. Oik jadi tak tega sendiri melihat Cakka memelas gitu.
“Iya deh. Ya udah yuk pergi sekarang. Tapi ntar pulangnya jangan kesorean ya”
“Sipp bos. Yuk naik”
                Setelah itu mereka melesat dengan motor CBR Cakka. Oik memeluk pinggang Cakka erat, karna ia taku jatuh. Habisnya Cakka kalo naik motor kenceng banget. Jadi ngeri sendiri.
                Cakka mengajak Oik ke suatu tempat yang sengat indah. Sebuah danau yang airnya masih terlihat jernih tanpa sampah atau limbah sekalipun. Disana ada perahu, Cakka mengajak Oik menaiki perahu itu.
“Ik, kita naik perahu yuk.” Ajak Cakka sambil berlari menggandeng tangan oik.
‘Deg’
Entah perasaan apa yang kini singgah di hati Oik, seakan semua masalahnya lenyap seketika.
“Aku takut kalo jatuh Kka” Ujar Oik setelah mereka berdua telah sampai di situ. Tempat dimana perahu berada.
“Udah nggak apa-apa. Ada aku kok yang slalu ada buat kamu. Kamu nggak bakal jatuh deh.” Kata Cakka meyakinkan.
Oik hanya mengangguk dan tersenyum.
                Setelah mereka menaiki perahu, perahupun mulai didayung Cakka agar berjalan. Oik menikmati udara luar yang udah lama ia tak hirup. Sudah lama ia tak melakukan ini, Ia jadi ingat dengan bundanya.
“Oik, gimana kamu suka nggak?” Tanya Cakka yang daritadi memperhatikan Oik.
“Suka, suka banget malah. Aku jadi kangen nih sama bunda. Apa kabarnya bunda disana ya?” tanya Oik, seperti kepada dirinya sendiri. Cakka yang melihatnya pun menghibur Oik.
“Syukur deh kalo kamu suka tempatnya. Udah dong, jangan sedih lagi ya. Tante Zahra pasti bahagia kok disana asalkan kamu tersenyum.” Senyum Cakka. “Oh iya Ik, sebenernya aku mau bilang kalo aku...” Ucapnya menggantung.
“kamu mau ngomong apa kka?” tanya Oik bingung.
“Aku suka Ik sama kamu. Aku cinta sama kamu. Kamu bisakan liat itu semua dari mataku?” Ujarnya.
                Oik kini diam, tak percaya dengan pernyataan Cakka barusan. Ia deg-degan, ia grogi, ia salting di tatap Cakka seperti itu.
Cakka memegang dagu Oik dan mengangkatnya agar bisa menatap mata Oik.“Tatap mataku Ik” mohonnya. “Apakah kamu mau jadi gadisku?” tanya Cakka lembut.
Oik menolehkan wajahnya agar matanya tak bertatapan dengan Cakka.“Tapi Kka..”
“Kamu nggak percaya Ik?” tanya Cakka kecewa.
“Bukan gitu Kka, aku percaya kok. Tapi aku...”
“Kamu kenapa Ik? Apa udah ada orang lain di hatimu sekarang?” Tanyanya lesu.
“Nggak kok. Kasih aku waktu Kka buat jawab pertanyaan kamu” Kata Oik akhirnya.
“Ya udah, sampai kapan pun aku akan menunggumu Ik. Aku nggak akan memaksa kok” Cakka tersenyum. Oik pun mebalasnya senyum.
                Tak terasa langit sudah berubah warna menjadi jingga. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Oik yang baru menyadarinya akhirnya meminta Cakka untuk mengantarkannya pulang. Ia takut bila nanti sampai di rumah. Mereka pun meninggalkan danau itu dan melesat menuju rumah Oik.

                Oik turun dari motor Cakka di depan sebuah rumah megah, ia menyerahkan helm yang tadi ia pakai.
“Sekali lagi makasih ya Kka, untuk hari ini.” Ujar Oik.
“Iya sama-sama, kamu nggak usah lebay gitu deh.” Cakka mengacak rambut Oik.
“ehhehehe... ya udah deh aku masuk dulu.”
“Iya. Aku pulang dulu.” Tanpa disangka Cakka pinggang Oik mendekat ke arahnya, ternyata ia mengecup kening Oik.
                Setelahnya Cakka pergi, ia pun masuk ke dalam rumah dengan senyum-senyum sendiri.
“Enak  ya, anak SMU balik hampir Maghrib. Di antar pacar, dicium lagi” Suara pedas Bunda Shilla membuatnya berhenti dan menunduk.
“Tadi bukan pacar Oik kok bun. Tadi itu ada pelajaran tambahan” Kata Oik, ia terpaksa berbohong agar Bunda Shilla tak marah. Namun perkiraannya salah.
“Enggak usah panggil-panggil bunda deh” Ketusnya. “Sejak kapan aku ngelahirin kamu hah? Sekarang bunda tersayangmu itu udah mati. Sebentar lagi ayahmu akan jatuh ke tanganku” Mendengar itu Oik langsung mendongak kaget,
“Tan..tante mau apakan ayah? Ayah nggak salah apa-apa tante. Udah cukup Oik saja” tak terasa airmatanya jatuh membasahi pipinya.
“kamu gak perlu tahu apa yang akan saya lakukan kepada kalian. Permainan baru saja kita mulai Oik sayang” ujarnya dengan senyum sinis. “Sekarang mending kamu bersihin seluruh rumah ini! Besok kamu cuci semua baju-baju kotor, pembantu pulang kampung. Kamu kerjain semuanya sendiri! Halaman depan sama belakang juga, jangan lupa kolam renang di kuras.” Ujarnya, saat mau meninggalkan Oik, ia behenti sejenak. “Oh ya, awas aja kalo kamu sampe berani bilang sama semua orang tentang hal ini terutama sama ayah tercintamu itu”
                Oik tak bisa menolak ataupun membantahnya. Bukannya ia takut sama Ibu tirinya, tapi ia tak mau terjadi apa-apa dengan ayahnya.
                Setelah mandi Oik langsung mengerjakan pekerjaannya. Ia ingin semua selesai dengan cepat. Lagian ini juga bukan yang pertama kalinya Ibu tirinya itu menyuruhnya buat mengerjakan urusan rumah tangga ini. Oik memulainya dari menyapu rumah.
                Tak terasa hari sudah larut, bersamaan dengan itu ia telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Tak ada pikiran buat makan malam, Ia langsung merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Rasanya ia ingin kabur, atau apalah gitu agar bisa bebas dari penderitaan ini. Syukur-syukur ayahnya bisa pulang secepatnya.
                Oik mengambil Sebuah album foto berukuran besar berwarna biru tua yang terletak di atas pianonya. Ia mulai membuka satu persatu lembaran foto itu, ia mulai mengingat-ingat kejadian-demi kejadian. Disana ada foto bundanya. Bunda saat menggendongnya waktu kecil, saat bermain boneka.
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Reff
Kata, mereka diriku selalu dimanja
Kata, mereka diriku selalu ditimang

Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Back to Reef
*Oh.. bunda ada dan tiada dirimu
Kan selalu ada di dalam hidupku

                Oik mengakhiri lagu itu denga air mata yang kini sudah membentuk anak sungai di kedua pipinya. Bersamaan dengan itu pula ia sampai di halaman terakhir album foto itu.
“Bunda, Oik kangen sama bunda. Bunda apa kabarnya disana? Bunda jangan hukum bunda Shilla ya, ini semua bukan salah dia. Ini salah Oik. Salah Oik yang nggak patuh sama perintahnya, maafkan Oik Bunda, maafkan Oik Allah. Do’akan Oik bunda, biar Oik sabar dan kuat untuk menghadapi bunda Shilla. Bunda juga jangan marah ya sama ayah, ini bukan salah ayah kok.” Kata Oik dengan senyuman tulusnya, ia terus memandangi foto bundanya di sebuah figura, lalu ia menciumnya sangat lembut dan dalam. Seakan yang ada di dalam foto itu nyata.
***
                Pagi ini terlihat agak mendung, Oik bangun. Badannya terasa sakit semua. Tapi apapun yang terjadi ia harus tetep sekolah. Saat ia hendak bangun, ia mendengar seseorang sedang berbicara di bawah.

Di tempat lain,
‘tok,tok,tok’
Seseorang membuka pintu. Seorang wanita paruh baya keluar.
“Siapa?” tanyanya.
“Em, Oiknya ada tante?” tanya orang itu yang tak lain adalah Cakka.
“Oik gak tau kemana” ujarnya ketus.
“Tante tau Oik kemana?” Tanya Cakka lagi.
“Ngapain sihnyari dia? Mending sekarang juga kamu pergi! Kecil-kecil udah berani pacaran” ketusnya.
“Tapi tante..”
“Sana pergi. Sekali lahi saya katakan, Oik nggak ada disini. Udah mati bareng ibunya kali” Kata wanita itu masa bodoh.
“Tante jangan bilang gitu ya, bagaimanapun dia juga anak tante walaupun tiri.” Cakka kini malah balik marah kepadanya.-waktu di danau, Oik bercerita tentang ibu tirinya-
“Udah berani kamu sama orangtua? Pergi sana!” usirnya, kini sambil mendorong-dorong Cakka agar menjauh dari rumahnya. Tak lupa ia gembok pintu gerbang agar Cakka tak lagi bisa masuk.
                Setelah Shilla masuk ke dalam rumah, Cakka melesat pergi dengan motornya. Di dalam otaknya hanya memikirkan gimana keadaan Oik, dimana ia sekarang.

                Acha dan Sivia menunggu Oik di dalam kelas, tak biasanya Oik datang terlambat. Itu pun kalo Oik berangkat. Kedatngan Cakka ke kelasnya, Acha dan Sivia menyambutnya dengan berbagai pertanyaan.
“Lho, Oiknya mana Kka? Bukannya kamu jemput Oik ya?” Tanya Acha bingung.
“Iya Kka, kok Oiknya nggak bareng kamu sih?” kini giliran Sivia yg berkata.
“Nah itu masalahnya kenapa gue kemari. Gue mau nanya ma kalian, Oik kemana?” Tanya Cakka.
“Kok nanya ke kita. Dari tadi Oik belum berangkat, dikira kita ya Oik sama kamu gitu” jawab Acha.
“emang sih tadi gue ke rumah Oik, niatnya mau ngejemput. Tapi yang keluar mama tirinya. Gue nanya Oik kemana, eh dia malah bilang Oik nggak ada di rumah. Aku tanya kalian, mungkin saja kalian tau kemana Oik. Kalian kan sahabatnya”
“Kita gak tau Oik kemana supah deh, duh kemana ya Oik?” Jawab plus tanya Sivia khawatir.
“Ya udah mending ntar pulang sekolah kita cari bareng-bareng.
***
2 hari telah berlalu
                Dengan keadaannya yang kurang enak badan, Oik masih harus mengerjakan tugasnya. Otomatis ia terpaksa membolos.  Tadi sebelum Shilla pergi, ia telah mewanti-wanti Oik agar tidak menerima sembarang tamu, terutama teman-temannya dan juga Cakka.
                Hari sudah mulai siang, Oik sedang menyirami tanaman di halaman depan. Terdengar suara deru motor berhenti di depan gerbang. Oik mendekatinya, ia kaget ternyata yang datang adalah Cakka. Ia bingung harus ngomong apa. Oik berusaha menghindar dari Cakka. Ia meninggalkan selang yang masih memancarkan air,
“Oik tunggu” teriak Cakka.
Oik hanya bisa menghentikan langkahnya, dan ia hanya diam mematung.
“Selama ini kamu kemana sih Ik? Kita tuh khawatir nyariin kamu, kamu gak berangkat tanpa ketearangan lagi. Seenggaknya kamu telfon Via atau Acha kek. Mereka tuh kelimpungan nyari kamu.” Nadanya seperti menandakan bahwa ia marah, khawatir, dengan keadaan Oik. Cakka berusaha membuka gerbang, dan berhasil. Ternyata gerbangnya tidak di gembok. Cakka berlari menuju ke arah Oik. Ia memeluknya sangat erat.
“Oik, kamu tau gak sih? Selama ini aku gak konsen belajar, gara-gara aku khawatir dengan keadaanmu. Kamu janji kan nggak kayak gini lagi?” Tanyanya meyakinkan Oik.
“Kka, lepasin. Aku mohon Kka.” Oik masih tetep nggak berbalik, ia pun berusaha untuk melepaskan tangan Cakka dari pinggangnya.
“Aku nggak mau lepasin kamu lagi. Sebelum kamu janji nggak kayak gini lagi, nggak ngehindar lagi dari aku.”
Kini Oik berhasil melepaskan tangan Cakka dari pinggangnya. Dan berbalik menatap Cakka tajam, “Aku nggak bisa janji sama kamu. Oh ya, yang buat di danau itu aku udah mutusin”
“Bener Ik? Jadi kamu mau jadi pacarku” Tanya Cakka berbinar.
“Maaf, aku nggak bisa terima kamu. Aku nggak cinta sama kamu. Lebih baik sekarang kamu pulang dan jangan peduliin aku lagi. Aku mohon Kka” Ujar Oik, semua itu salah besar. Padahal ia sangat berharap untuk mengatakan ‘aku mau jadi pacar kamu Kka, aku cinta sama kamu’. Namun rasanya susah, apalagi Ada tante Shilla yang jelas-jelas mewanti-wanti agar tidak berhubungan dengan Cakka.
“Oik tatap mataku Ik, kamu nggak serius kan buat ngomong gitu? Aku yakin kamu pasti punya rasa yang sama denganku. Benerkan Ik?” Tanya Cakka berusaha meyakinkan Oik lagi.
“hhhh... itu semua salah. Yang aku omongin tadi benar.”
‘itu semua benar Kka, yang kamu omongin itu benar. aku sangat cinta sama kamu’ batinnya.
“Tapi Ik,..”
“mending kamu pulang deh Kka, sebelum bunda datang” kata Oik datar. Ia melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun Cakka lebih dulu mencekal tangannya. Cakka heran dengan warna biru ke hijau-hijauan yang ada di lengan Oik. Dan juga warna merah di pipi sebelah kirinya.
“Ik, ini tangan kamu kenapa? Pipi kamu juga. Cerita ke aku Ik, siapa yang ngelakuin ini semua?” tanya Cakka khawatir sambil memegang luka yang ada di tangan Oik dan juga pipi Oik.
“Oh itu nggak kenapa-kenapa kok. Tenang aja, ini di pipi gara-gara di gigit nyamuk terus aku kukur deh. nah, kalo yang di tangan gara-gara aku kurang berhati-hati, natap pintu deh. bener kok” Ujar Oik, kini ia mulai tersenyum.
“Serius? Tapi ini kayak bekas tamparan tangan deh.” Tanya Cakka menyelidik.
“Bener. Ya udah mending kamu pulang sekarang aja deh, bentar lagi bunda pulang”
“Ya udah aku pulang. Kamu hati-hati ya, kalo ada apa-apa bilang ke aku.”
“Sipp”
Cakka pun meninggalkan rumah Oik.
“Fiuh.. hampir aja” Kata Oik sambil melihat lengannya yang terasa nyeri kena pukulan dari ibu tirinya.
***
                Hari-hari dilalui Oik seperti biasa, ayahnya belum pulang juga.  Shilla mengajaknya pergi entah kemana.
                Kata Shilla untuk beberapa bulan mereka akan tinggal di rumah yang udah di beli Shilla mungkin. Apa rencananya udah berhasil?
“Ini rumah siapa tante?” Tanya Oik bingung.
“Udah deh kamu diem aja! Masih mending aku ajak tinggal kamu disini. Bentar lagi Ayahmu itu akan bangkrut. Jadi mulai sekarang berterima kasihlah kepadaku” Jawabnya enteng.
“Nggak mungkin. Ayah nggak pernah korupsi, terus sekarang Ayah kemana?” tanya Oik.
“Tau” jawabnya singkat.

Di tempat lain,
                Sebuah mobil berhenti di depan rumah mewah. Kaca mobil mulai diturunkan. Ia melihat tulisan yang tertulis di depan gerbang. ‘DI JUAL. HARAP HUBUNGI NO. 081987xxxxx’. Orang yang ada di dalam mobil itu menggeram kesal.
“Apa-apaan ini? Sion, antar saya ke Kantor cepetan”
“Baik pak Riko.”
                Mobil itu pun meninggalkan rumah besar itu.menuju ke kantor yang Riko maksud. Sesampainya di kantor ia pun langsung marah-marah kepada semua karyawannya yang kini terlihat sedang duduk-duduk santai tanpa melakukan aktivitas.
“Apa-apaan ini? Keanapa kalian nggak kerja? Cepetan kerja!” marah Riko.
Seseorang datang menghampirinya. “Maaf Pak Riko, perusahaan kita terancam bangkrut. Kami semua bingung apabila nanti kami semua akan di PHK.”
“Kok bisa?” marahnya ke orang tadi.
“Pak, mari kita keruangan saya. Saya mau ngasih laporan keuangan selama bapak tidak ada.” Riko pun mengikuti pegawai tadi menuju ke sebuah ruangan.
“Pak ini laporan keuangan selama beberapa bulan lalu dan sekarang.” Orang tadi menunjukkanlaporan keuangan perusahaan itu.
“Shit, gila ini gila Alvin!” makinya. “Ini kenapa keluaran lebih banyak daripada pemasukan? Ini apa lagi, bulan Juni keluaran samapi mencapai 1 M itu giamana? Kalian apakan aja uang itu.”
“Maaf pak, ini semua atas permintaan Bu Shilla. Itu semua juga atas izin bapak”
“Alvinnn, kamu saya percayai untuk mengurus keuangan, tadinya kamu jangan terima permintaan Shilla gitu aja dong sebelum saya bilang sendiri ke kamu.”
“Tapi disini ada tanda tangan bapak” Alvin mengeluarkan semua cek..
“Ya sudah, kita urus bareng-bareng masalah ini. Saya yakin ini bisa di atasi. Tolong bantu saya Alvin. Sekarang kamu tahu keberadaan Shilla dimana?” tanya Riko.
“saya tidak tahu Pak. Tapi kayaknya Bu Shilla ke daerah Yogya.”
“Terus dia bawa Oik anakku?” Riko Shock mendengarnya.
***
                Seluruh polisi telah berpatroli ke kota Yogya untuk mencari keberadaan Shilla dan Oik berada.
Riko dari tadi berkutat dengan hp’a. Seperti sibuk menelpon seseorang namun tak kunjung ada jawaban dari seberang.
“Halo Cakka, kamu bisa bantu om buat cari Oik?” tanya Riko.
“Iya om, Cakka bisa. Sudah dari kemarin Cakka mencari Oik. Sekarang om dimana?” tanya Cakka.
“Saya di daerah kota Yogakarta.”
“Baik om, Cakka sama temen-temen segera kesana”
Tutt, sambungan putus.


                Cakka yang baru saja mematikan sambungan telpone dari om Riko, ia segera menghubungi Ozy, Gabriel, Sivia juga Acha buat nyari Oik bareng-bareng.
Cakka dan rombongan pun telah meluncur menuju ke Kota Yogyakarta. Ia sangat khawatir sekali dengan keadaan Oik.
“Kka, mending loe diem dulu deh. ini aku masih nyetir, Ntar kalo nabrak gimana” ujar Gabriel yang ada di samping Cakka.
“Gimana gue bisa diem?”
“Sabar Kka” Ujar Ozy.

***
                Shilla kaget dengan mobil-mobil yang kini berjejer di depan rumahnya. Ia menyuruh Oik untuk tetap berada di dalam kamarnya.
“SHILLA... KELUAR KAMU!” Teriak orang dari luar sambil gedor-gedor pintu. Namun Shilla tak juga keluar,
                ‘BRAKKKK’ pintu di dobrak secara paksa. Semua polisi segera memeriksa semua ruangan yang ada di situ.
                Sedangkan Riko mengetuk pintu kamar. “Oik, Oik sayang kamu di dalam nak?” tanyanya khawatir. Namun tak ada suara.
‘BRAKK’ lagi-lagi ia mendobrak pintu secara paksa. Ia bener-bener kaget dengan pemandangan yang ada dalam.
“SHILLA LEPASIN OIK!”
“Aku nggak akan lepasin dia sebelum kamu menyerahkan semua aset kekayaan yang kamu punya.” Tantangnya kini tangan kirinya memegang tangan Oik ke belakang, dan tangan kanannya memegang pisau ke arah leher Oik.
“Ayah, tolong yah kasih aset itu.”
“Enggak Oik, kamu bisa selamat tanpa ayah melepaskan aset ayah.”
“Oh jadi kamu lebih memilih anakmu mati? Manusia bodoh!” umpat Shilla kesal. Ia juga sebenarnya tak tega memperlakukan Oik gini.
“Ayah tolong oik yah, kasih aset itu”
Karna Riko masih kekeh juga, tiba-tiba saja Saat ia mau menusuk Riko,
‘JLEBBB’
Keadaan hening. Mereka semua shock Shilla juga.
“CAKKKKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” teriak Oik.
“Cakka?” Riko kaget ternyata yang kena pisau Shilla bukan Oik juga bukan dirinya namun Cakka. Cakka telah menolongnya.
“Cakka kamu nggak apa-apa?” Oik langsung menghambur ke arah Cakka.
“Aku.. nggak.. ke..napa..ke..napa Ik” ucapnya terbata-bata. Masih sempatnya ia tersenyum.
“Angkat tangan saudari Shilla” Sang polisi baru datang dan segera menangkap Shilla.
“Sekarang juga bawa Cakka ke rumah sakit” Ujar Riko.ayah Oik.
Gabriel dan Ozy pun segera membopong Cakka, sebelum ia kehabisan darah.

***
                Di sebuah ruangan di salah satu rumah sakit. Seseorang duduk di kursi samping Tempat tidur.
“Cakka, bangun Kka. Aku mohon bangun. Kamu gak kasihan apa sama aku? Aku sangat mencintaimu Kka. Aku mau kok jadi pacar kamu” kata sang gadis, yang tak lain Oik.
“Oik, kamu nggak tidur sayang.” Sapa seseorang.
“belum ngantuk” jawabnya datar.
“Oik maafkan Ayah, ayah tau ayah salah. Seandainya saja ayah mau ngasih aset itu, pasti sekarang kita nggak akan ada yang terluka.” Sesal Riko.
“Udah terlambat Yah” Jawabnya dingin. Sedangkan Sivia, Acha, Ozy dan Gabriel sudah terlelap di sofa yang ada di ruangan itu.
“Maafkan Ayah”
                Tiba-tiba saja ada yang bergerak di genggaman Oik. Ternyata itu yang bergerak tangan Cakka.
“Kka, kamu sadar?” tanyanya setengah nggak percaya namu ia mulai bahagia.
Perlahan mata Cakka terbuka. “Aku dimana Ik?” tanyanya dengan suara lirih.
“Kamu di rumah sakit, aku panggilin dokter ya”
“Enggak usah Ik.” Cakka kini beralih ke samping oik. “Om Riko? Om nggak kenapa-kenapa kan?” Tanyanya khawatir.
“Om nggak apa-apa Kok kka, seharusnya om yang nanya ke kamu. Gimana kamu?” beliau tersenyum. “Maafkan om ya Kka, ini gara-gara om.”
“Ini bukan salah om Riko kok, anggap saja ini kecelakaan. Oik, kamu marah dengan om Riko?” tanya Cakka. Namun Oik hanya diam. “Ik, tolong ya kamu jangan marah sama om Riko, beliau berusaha mati-matian buat nyari kamu. Kamu nggak kasihan?” tanya Cakka.
“Iya, Oik juga minta maaf yah” sesal Oik.
“Nggak apa-apa kok Ik, ayah juga minta maaf nggak bisa kasih ibu yang baik buat kamu. Ayah merasa bersalah sama bunda kamu”
“Oik sayang ayah, ayah jangan tinggalin Oik lagi ya” Kini Oik memeluk ayahnya.
“Iya, ayah janji nggak akan ninggalin kamu” Riko mengusap dengan lembut punggung Oik.
“Ekhm, ya sudah ayah tidur dulu ya. Kalian ngobrol dulu aja. Hehehe” ujarnya jahil.
Setelah Ayahnya pergi, kini hanya kebisuan yang menemani mereka.
“Oik, apa kamu masih mau untuk merubah pendirian kamu?” tanya Cakka hati-hati. Oik menunduk malu. Ia mengangguk pelan. “Beneran Ik? Thanks banget ya” Ujar Cakka kegirangan “Auh...” rintihnya.
“Aduh Kka kamu kenapa? Sakit ya? Makanya jangan keterusan, masih sakit juga” omel Oik khawatir.
“Habisnya kelewat seneng sih, jadi kamu mau kan jadi pacarku?”
“Iya Cakka Nuraga. Harus berapa kali aku bilang hmm” geram Oik gemas.
“Hehehe... Love you Ik”
“Love you to Kka”

_TAMAT_

Tampilkan postingan dengan label CAIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CAIK. Tampilkan semua postingan

Cinta Maraton Part 2


Pulang sekolah Oik langsung menuju ke ruang OSIS. Saat Oik datang semua anggota OSIS dan panitia juga sudah kumpul.
“Maaf ya telat.” Ujar Oik.
“Karena Oik sudah datang, rapat kita mulai dari sekarang aja.”
Cakka membuka rapat siang ini.
“Menurut kamu, gimana? Kalo kita adain lomba olah raga juga. daripada cuman seni.” tanya Cakka ke Oik.
“Bagus. Lomba maraton cukup menarik kayaknya.”
“Lari maraton?” Cakka cukup kaget saat mendengar lomba lari.
“Iya. Kenapa? Kamu takut nggak kuat.”
Cakka menatap Oik tak percaya. Pasalnya Cakka itu dari kecil nggak bisa lari cepat. Tengsin dong sama Oik.
“hahaha.. nggak, siapa juga yang takut. Oke,”
“Gimana teman-teman? Setuju nggak?” Tanya Cakka.
“Setuju.”
“Baik, Cakka gue percaya sama lo ya. Maaf, gue mau pamit pulang dulu.”
Lagi-lagi Cakka yang harus menutup rapat. Yang jadi Ketua OSIS sebenarnya siapa sih? Oik apa Cakka? Kenapa Cakka yang ribet sendiri. Dan anak-anak cewek yang ada di situ saling berbisik mengantar kepergian Oik. Namun Cakka tak ambil pusing.

“kak Cakka!” panggil seorang cewek, saat Cakka sedang membereskan ruang OSIS.
“Eh, Nadia. Ada apa?” tanyanya bingung.
“Nggak kok, mau aku bantuin?” tanya Nadia.
“boleh.” Cakka tersenyum ramah.
“Kak Cakka, kakak pacarnya kak Oik ya?”
“hah? Oik? Bukan kok. Emangnya kenapa?”
“nggak apa-apa sih. Tapi kok kakak sama kak Oik akrab banget. Sampe kakak mau bantuin kak Oik segitunya, kemana-mana juga bareng.”
“Gue sama Oik udah temenan dari kecil. Jadi wajar dong gue sama dia deket.” Cakka mengacak rambut Nadia.
Nadia yang digituin tersipu malu. ‘kak Cakka baik banget sih.’
Nadia dan Cakka saling bertukar cerita selama mereka membersihkan ruang OSIS.
***
Di lain tempat.
“Rumah lo masih yang dulu kan, Ik?” tanya Alvin saat Oik sudah masuk ke dalam mobilnya.
“Iya, Vin. Sampai aku bosen sendiri, tetanggaan sama Cakka lagi.” Oik tertawa tiap kali dia menceritakan tentang dia dan cakka. Merasa geli aja. “Tapi untungnya ada Cakka, jadi gue nggak kesepian deh di rumah.”
“Oh. Jadi kalian berdua masih tetanggaan?”
“Iya dong. Sayang banget dulu lo pindah.” Oik menoleh ke Alvin sambil tersenyum nakal.
‘yes, Oik masih ngeharapin aku.’
“Ya udah kita jalan sekarang nih? Mau langsung balik atau jalan-jalan dulu?” tanya Alvin.
“Balik aja deh, capek banget Vin.”
“Siap tuan putri.” Alvin pun melajukan mobilnya menuju ke kediaman Oik.
Selama di perjalanan Alvin dan Oik tak henti-hentinya bercerita tentang masa kecil mereka sambil sesekali mereka tertawa kalau mengingat hal-hal lucu yang dulu mereka lakuin. Walaupun dari kecil Oik lebih sering bermain boneka-bonekaan sama Cakka daripada main mobil-mobilan bareng Alvin.

“Oik, ini ya rumah lo?” tanya Alvin setelah mereka sampai di rumah Oik.
“Iya, Vin. Makasih ya udah di anterin. Lo mau masuk dulu apa langsung pulang?” Tanya Oik menawarkan.
“Mainnya lain kali aja ya, gue udah ditunggu mama nih.”
“Iya deh. sekali lagi makasih ya.” Oik keluar dari mobil Alvin dan menutupnya.
Setelah mobil Alvin pergi, Oik segera membuka gerbangnya dengan perasaan lebih bahagia. Namun gerakannya dihentikan oleh sebuah suara.
“Ekhem... Seneng banget deh kayaknya.”
Oik membalikkan tubuhnya dan tersenyum lebar. “eh Cakka. Iya dong seneng. Lo tau nggak...”
“nggak.” Jawab Cakka singkat.
“yee.. gue belum selesai kali ngomongnya.” Oik cemberut tapi ekspresinya langsung berubah senang kembali. “Coba deh tebak. Tadi aku pulang sama siapa.” Oik menatap Cakka dengan misterius.
“Cowok baru lo? Gebetan baru yang tadi ngajakin kencan? Tunangan lo yang baru pulang dari Amrik..”
“Ih bukan, Cakka. Masak nggak tau sih. Barusan aku dianterin pulang sama Alvin.”
“Alvin? Alvin siapa?”
“Alvin cowok basket sekolah. Dan lo tau apa? Ternyata dia itu teman kita waktu kecil. Aaaaaa...” Oik menjerit histeris. Namun Cakka hanya cengok menatapnya.
“Oh”
“kok cuman ‘oh’ doang sih?” Oik cemberut.
“Iya deh Oik. Turut senang gue.” Cakka tersenyum sinis.
‘Ngapain tuh anak balik lagi sih? Tapi Oik, apa Alvin bakalan jadi cowok dia selanjutnya? Giliran gue kapan dong?’
“Cakka. Lo denger gue ngomong nggak sih?” Oik mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Cakka.
“Denger kok.”
“Ya udah, nunggu apa lagi? sono balik! Gue mau tidur.” Oik mengusir Cakka dengan mendorong tubuh Cakka menuju rumahnya.
“Siang ini lo nggak usah tidur deh. mending kita main aja.”
“nggak Cakka. Gue capek.”
“Ik...”
Oik cuman memelototi Cakka tajam, yang membuat Cakka mau tidak mau masuk ke rumahnya.
***
            Istirahat pertama Oik menghabiskan waktunya di ruang OSIS. Waktu Oik masuk di dalam ada Cakka dan Nadia sedang tertawa-tawa di depan komputer.
“Ekhem..” Oik berdehem yang membuat Cakka dan Nadia menoleh, namun Cakka masih menyunggingkan senyum lebarnya.
“Eh ada Oik. Udah lama?” Tanya Cakka.
“Nggak barusan.” Jawab Oik cuek. Oik enghampiri komputer yang ada di mejanya. “Kayaknya kalian asyik banget, sampai ketawa segitunya.”
“Iya nih, kak. Tadi kak Cakka cerita lucu banget.” Sambut Nadia dengan senang.
“Ik, Nad. Gue ke toilet dulu ya kebelet nih. Ntar sekalian gue beliin minum deh.” Cakka cepat-cepat keluar.
            Setelah Cakka keluar dari ruang OSIS. Suasana menjadi hening seketika. Tidak ada suara tawa lagi. Oik maupun Nadia sama-sama diam.
“Kak Oik, aku mau ngomong sama kakak.” Suara Nadia memecahkan keheningan.
“Ya udah ngomong aja.” Jawab Oik tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari komputer.
“Maaf kalau aku nggak sopan. Tapi aku cuman mau bilang, apa kakak nggak kasihan apa sama kak Cakka? Kak Oik tuh sebenernya nganggap kak Cakka teman atau pembantu sih?”
“Maksud lo apa?” tanya Oik belum ngeh.
“Tadi aku ngomong udah jelas kan kak?”
“Nggak ada urusannya sama lo juga kan?” kata Oik cuek. “Lagian Cakka-nya sendiri yang mau gitu. Gue nggak nyuruh dia ya.”
“Oh, gue paham. Lo tenang aja Nadia, gue sama Cakka itu cuman teman. Nggak lebih! Jadi lo nggak usah khawatir kalau gue bakal rebut Cakka dari lo. Lo suka kan sama dia?” Oik memutar matanya malas.
“Beneran kak Oik cuman temannya Kak Cakka doang?”
“Iya lah. Gue sama dia udah dari lahir temenan. Kalau lo suka ya ambil aja dia.”
Mendengar jawaban Oik, Nadia bisa tersenyum lega.
_
_
_
“Pak Somat, jus mangga 2!” Ujar seseorang.
“Iya, Mas Cakka.” Ujar Pak Somat sambil tersenyum.
Cakka menoleh ke samping. Didapatinya Alvin sedang berdiri cuek, namun ia pun menoleh ke arah Cakka.
“Akhirnya gue bisa ketemu lo lagi.” Ujar Alvin tersenyum sinis. “Udah bisa lari cepat belum?”
            Cakka yang digituin merasa harga dirinya terinjak, namun Cakka masih tetap tenang. Ia malas kalau udah urusan kayak gini, dari dulu Alvin yang bakalan menang.
“Ya udahlah.” Cakka membanggakan dirinya, walaupun tadi itu jawaban asal ceplos doang.
“Oh bagus dong kalau gitu. Tadinya gue emang berniat ngajakin lo balap lari, tapi gue takut lo kalah. Tapi karna sekarang lo udah kuat, mau nggak ntar kita adu di turnamen lari maraton satu sekolah kita. Tenang aja, ini hadiahnya kok.”
“Hadiah apa’an. Gue mau-mau aja tanding sama lo,” Tantang Cakka dengan suara khasnya yang selengek’an. “kecil itu.”
“Mas Cakka, ini jus-nya.” Suara pak Somat menghentikan pembicaraan Cakka dan Alvin.
“Makasih Pak. Ini uangnya.” Cakka mengangsurkan uangnya.
Cakka tersenyum ramah ke Pak Somat, sambil meraih jus mangganya.
“Itu jus buat Oik ya?” Tanya Alvin.
“Iya.”
“Kayaknya lo perhatian banget sama dia. kalian pacaran?”
“Iyalah gue perhatian. Orang gue temennya. Kita nggak pacaran.”
“Tapi lo suka kan? Secara dia itu temen masa kecil lo. Kalian bareng terus gitu.”
“mana ada cowok yang nggak suka sama cewek secantik Oik.” Ujar Cakka dengan jawaban ambigunya.
“Gimana kalau hadiahnya Oik. Siapa yang bisa ngelewatin garis finish duluan itu pemenangnya. Dan boleh ngedapetin Oik. Tapi yang kalah, dia harus rela ngelepas Oik dan nggak boleh berhubungan sama dia.”
“Ya nggak bisa gitu dong! Eh, asal lo tahu aja ya! Oik itu bukan barang yang bisa di permainkan. Oik itu punya perasaan. Lo gila, Vin!” emosi Cakka naik saat mendengar ucapan Alvin yang super enteng itu.
“Gue sayang sama Oik, dan gue bukan banci kayak lo! Gue bakal dapetin dia apa pun resikonya. Dan puas-puasin aja deh lo sama Oik-nya. Karna gue yakin, gue yang akan menang.” Setelah ngomong seperti itu, Alvin pergi meninggalkan Cakka dengan membawa dua gelas jus mangga ditangannya.
‘Alvin gila banget sih. Gue nggak bakal rela kalau Oik sampai jadian sama Alvin. Apa jadinya Oik nanti. Kalau pun akhirnya Oik nggak bareng gue, gue nggak masalah. Asal jangan Alvin!’ Dengan langkah berat Cakka meninggalkan kantin menuju ruang OSIS.
_
_
_
‘kring..’
‘tok..tok..tok’
“Cakka, ada telpon nih dari Oik. Katanya mau ngomong sama kamu.” panggil mamanya
“Iya, ma.” Cakka meletakkan barbelnya di meja, lalu membuka pintu kamar.
“Nih.”
“Iya halo, Ik. Ada apa?”
“...Nggak ada apa-apa kok. Cuman mau nelpon aja. Gue main ke rumah lo ya sekarang, Kka.”
“Eh, jangan Ik.” Jawab Cakka panik.
“lho kenapa? Gue kesana ya.”
“Jangan sekarang. Ini kan udah malem, lo nggak tidur gitu?”
“Apa sih lo. Gue kan udah biasa keluar masuk rumah lo malem-malem gini. ini juga masih jam 7.”
“Ya jangan pokoknya.” Tolak Cakka lagi, kelabakan.
“Ih, aneh banget deh lo. Gue nggak boleh main. Ada pacar lo ya di rumah? Janji deh gue nggak ganggu. Ayolah Kka! Males nih di rumah, lo tau kan gimana hubungan aku sama Tante Winda.”
“Ih, siapa juga yang udah punya pacar. Iya tahu gimana lo sama Tante Winda. Maka dari itu gue kasih kesempatan lo satu hari buat cerita-cerita bareng sama tente Winda. Dia juga mama lo kan? Walaupun mama tiri, tapi percaya deh sama gue. Dia itu baik.”
“Cakka!! Nggak asyik banget lo! Gue nggak tahan sama dia. ayolah Kka!”
Cakka menghembuskan napasnya. “Ya udah. Lo tidur aja. Tadi kayaknya lo kecapekan gitu deh. gue juga udah ngantuk nih. Bye Oik.” Cakka cepat-cepat memutuskan hubungan telpon.
“Tumben Oik nggak main ke sini, Kka?”
Cakka terlonjak kaget mendengar suara mamanya.
“Mama ada di situ sejak kapan?”
“Ya dari tadi lah. Kamu-nya aja yang serius gitu ngomong sama Oik, sampai ada mama di sini dari tadi kamu nggak liat.” Uci, mama Cakka hanya bisa menggeleng-geleng sambil tersenyum. “Mama tanya, Oik tumben nggak main?”
“Iya, nih ma. Tadi Cakka yang gak bolehin dia main. Mama mau Cakka malu di depan Oik.”Cakka cemberut.
“Ya habisnya kamu aneh-aneh banget sih. Pake mendadak gila olahraga lagi, bukannya dari kecil kamu nggak suka?”
“Itu juga kan gara-gara mama yang nggak nge-bolehin Cakka ikut gitu-gituan. Ntar Capeklah, keringetan lah, ini lah, itu lah.” Cakka menirukan ucapan mamanya dulu yang sering melarang Cakka untuk ikut gitu-gituan. Apalagi olahraga yang terlalu berat-berat. Katanya sih ‘mama takut kehilangan kamu. kalo kamu cidera.’ Alay banget gak tuh.
“Iya ding. Mama lupa. Hehehe..” Uci hanya nyengir.
Sedangkan Cakka makin cemberut.
“Ya udah, anak mama jangan cemberut gini dong. Nih jusnya.” Uci memberikan segelas jus mangga kesukaan Cakka yang sejak tadi dipegangnya.
Cakka emang dari kecil sering dimanjakan sama mamanya. Makan aja kadang disuapin. Akhirnya Cakka menolak semua manjaan yang dilakukan mamanya. “Malu diliatin Oik, udah gede masih aja disuapin makannya.” Akhirnya sejak SD Cakka tidak lagi disuapin.
Cakka cuman punya satu kakak perempuan. Namanya kak Zahra. Dia itu anaknya tomboy. Mamanya sering mengeluh, karna itu juga mama Cakka memperlakukan-nya manja. Soalnya Zahra paling anti kalau digituin. Cakka deh jadi korbannya.
“Ya udah deh ma, Cakka mau ngelanjutin Olahraganya.”
“Iya deh. mama tahu, yang lagi kasmaran. Cinta itu perlu diperjuangkan, Cakka! Oik pasti suka kok sama kamu, anak mama gitu. udah ganteng.”
“Ihh.. mama! Ntar kalau orangnya denger gimana. Ini rahasia.”
“Iya deh. selamat berjuang!” Uci hanya cekikikan, keluar dari kamar anak cowoknya itu.
***
Hari Minggu yang cerah,
Cakka sudah bangun dari subuh. Setelah sholat, dia langsung olahraga di depan gerbang rumah Oik. Sebelum jogging, Cakka melakukan pemanasan terlebih dahulu. Meregangkan otot-ototnya yang kaku. Dari kepala, tangan, hingga kaki.
Saat pemanasan sesekali Cakka memandang rumah mewah yang berada tepat di depannya. Walaupun rumah itu besar, namun rumah itu terlihat sepi. Lebih tepatnya Cakka memandang ke jendela kamar Oik. *sebenarnya Cakka niat olahraga apa mau pamer :p*
“Aku bakal melakukan apa pun demi kamu Oik. Aku bakal rela kamu disakiti. Aku memang nggak akan menerima taruhan itu, tapi aku akan terus berjuang.” Kata Cakka dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal karena lari di tempat.
-
-
-
‘Kringggg... kriiinggg...’
“Ah.. ganggu aja sih.” Gumam Oik nggak jelas.
Masih dengan mata tertutup Oik meraih jam wekker doraemon-nya yang ada di meja sebelah tempat tidurnya. Dengan malas Oik membuka matanya melihat jam berapa sekarang.
“Masih jam enam juga.” saat Oik ingin melanjutkan tidurnya kembali, samar-samar ia mendengar suara orang menghitung dari arah depan rumahnya.
“Tu... Wa.. Ga.. Pat.. tangan kaki depan belakang. Eh, salah ya?”*korbanIklan*
“Satu... Dua.. Tiga.. Empat.. Lima.. Enam... Tujuh... Delapan.. dan seterusnya” berkali-kali orang itu berteriak.
“Aduh, siapa sih tu orang. Ganggu aja. Tapi penasaran juga sih, mending liat aja.” Gumam Oik beranjak dari tempat tidurnya mendekati jendela kamarnya yang menghadap langsung ke halaman depan.
Oik menyingkap gordennya. “Itu bukannya Cakka ya? Ngapain tuh orang di depan rumah?” Oik melongo saat melihat Cakka tak ada kerjaan di depan rumahnya. “Hah.. serius dia olahraga? Gokil banget dia, bukannya dia anti banget ya sama yang gitu-gituan.” Oik menahan tawanya, cepat-cepat ia membuka jendelanya.
“Woy Kka!! Ngapain lo di depan rumah gue?” kali ini tawa Oik sudah meledak.
Di bawah sana Cakka terlihat celingak-celinguk mencari suara, sebelum akhirnya dia mendongak ke atas. Sudah ada Oik di balkon kamarnya.
“Gu.. gue lagi olahraga dong. Liat nih!” Cakka menggerak-gerakkan tangannya,
“Gue tau, gak biasanya lo.”
“Gue udah biasa olahraga kok, lo nya aja yang nggak peka.” Cakka gugup,
“Guk.. guk guk.. guk” Cakka mencari asal suara. Saat menoleh ke belakang dilihatnya Sebuah anjing.
“Anjing manis, jangan nakal yah.” Cakka nyengir ke arah anjing.
Dengan gugup Cakka pamit ke oik. “Ya udah deh Ik, gue mau jogging dulu. Dah!”
“Eh lo mau kemana...” Ucapan Oik terputus karena  Cakka sudah kabur. Padahal dia mau ikutan. “Dasar aneh.” Oik masih saja terkikik geli ternyata di belakang Cakka seekor anjing menyusul.
-
-
-
Cakka masih saja berlari di sepanjang komplek. Ia tak mau mati konyol gara-gara anjing satu itu. Nafas Cakka sudah satu-satu.
“Ya Allah, jauhkanlah aku dari anjing itu.” doanya.
Akhirnya Cakka berhenti di sebuah pohon beringin yang ada di tepi jalan. Cakka masih membungkuk mengatur napasnya.
“Ambil napas buang. Ambil napas buang.” Instruksinya sendiri seperti bidan yang sedang menangani ibu-ibu mau melahirkan.

“Kak Cakka.”





Bersambung___


#hayo, siapa lo yg manggil :p tambah kesini perasaan alurnya makin ancur -_- =D makasih udah baca.

Gadis SMA di Bus 13 ( Cerpen CAIK )



Seorang cowok berseragam dengan tas di punggungnya keluar dari gerbang bertuliskan SMA Persada. Tak lama kemudian ada sebuah motor berhenti di sampingnya, ia kemudian menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah motor di sampingnya. Ia tersenyum kepada cowok yang mengendarai motor tadi, kemudian turun dan melepas helm full facenya. “ Hai bro. Motor loe kemana?” tanya cowok itu yang bernama Rio. “Hai juga Io, motor gue masih di bengkel. Tumben loe gak bareng Ify?” tanya cowok sebelumnya yang bernama Cakka. “Oh Ify? Dia masih ada tambahan. Oh yabareng gue aja yuk Kka!” Ajak Rio. “Gak usah deh Yo,” Tolak Cakka. “Jiah, loe gitu sekarang? Ma sobat sendiri juga. Terus loe pulang naik apa dong?” “Naik bus. Yaudahkalo gitu antar gue ke halte bus aja!” Sambil menunjuk ke arah halte bus di seberang sana. “Ok deh sob.” Mereka pun melaju dengan menggunakan motor Rio.
***
Lima menit yang lalu Cakka telah sampai di halte bus ini. Tak lama kemudian akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. sebuah bus berhenti tepat di hadapannya. Cakka menyunggingkan senyumnya lega. “Akhirnya datang juga” Ia pun segera menaiki bus itu. Semua tempat duduk di bus itu ternyata sudah penuh. Hanya ada satu tempat duduk dan disampingnya sudah ada seseorang. Ia segera duduk di tempat itu. Cakka menoleh ke sebelah tempat duduknya dan tersenyum. “Bolehkah aku duduk di sampingmu?” Tanyanya ramah. Gadis itu, gadis berseragam SMA menoleh ke arah Cakka. ‘Degg’ hati Cakka berdesir ketika melihat gadis tadi. Dengan wajahnya yang cantik dan menurutnya imut. Tak ada senyuman yang muncul dari bibirnya. Dengan wajah datarnya, dan kembali ke aktivitasnya semula yaitu memandang ke arah luar jendela. Tapi sayangnya gadis tadi terlihat dingin dan cuek. Pikir Cakka.
Selama di jalan mereka hanya diam. Cakka dan gadis itu. Karena Cakka terlalu bosan akhirnya ia pun bertanya kepada gadis itu. “Emm, boleh kenalan gak? Nama kamu siapa dan kamu dari SMA mana?” tanya Cakka ramah. Lagi-lagi gadis itu menoleh ke arahnya dengan wajah yang datar. Karna takut dia marah akhirnya Cakka meminta maaf. “Maaf. Oh ya, kenalin namaku Cakka dari SMA Persada.” Kini ia memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya ke arah gadis tadi. Sekali lagi gadis itu hanya menoleh kemudian memandang tangan Cakka. Tanpa sedikitpun membalas uluran tangan tadi. “Ya udah deh kalo gak mau.” Cakka pun menarik tangannya kembali dan hanya tersenyum memandang gadis di sebelahnya. Banyak pasang mata kini melihat ke arah Cakka. Tapi yang dilihat malah nggak nyadar dan menatap mata gadis di sebelahnya.
Lama berpandangan seperti itu akhirnya gadis tadi membuka suaranya juga yang terkesan dingin dan kaku. “Namaku O...” ‘Ckittttt’ suara decitan rem bus membuat kalimat gadis itu terputus. Dan ternyata kini mereka telah sampai di tempat tujuan.  Dalam hati Cakka merutuki bus itu ‘kenapa ganggu aja sih’. Tanpa sadar gadis itu telah turun mendahuluinya. Tanpa membuang waktu lagi Cakka pun mengejarnya. Setelah dekat, Cakka langsung mencekal tangan gadis itu. Karna reflek gadis itu pun berbalik dengan pandangan yang masih sama. “Tunggu! Aku belum tau siapa namamu.” Ujar Cakka akhirnya. “Maaf, tapi aku harus pulang sekarang” Tak sekaku tadi, walaupun ia terlihat masih kaku dan dingin tapi seenggaknya ia membalas ucapan Cakka. “Ok, kamu bilang dulu siapa namamu, nanti kamu aku lepas deh. Janji” “Hhh... namaku Oik. Yaudah permisi aku mau pulang” Setelah menyebutkan namanya yang ternyata gadis itu bernama Oik ia pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Cakka. “Tunggu” teriak Cakka lagi. Gadis itu pun meoleh dengan pandangan bingung. “Terima kasih Oik” lanjut Cakka kemudian. Oik hanya membalasnya dengan seulas senyum dan berbalik untuk melanjutkan langkahnya kembali. “Terimakasih, karna kamu telah merebut hatiku Oik” lanjut Cakka dalam hati dan membalas senyuman Oik.
***
Keesokan harinya saat istirahat di kantin, Cakka pun membicarakan hal ini kepada sahabatnya Rio. Ia menceritakan semuanya dari awal bertemu yang membuat hatinya dag-dig-dug melulu sampai akhirnya ia mengetahui nama gadis itu. “Cewek yang aneh” begitulah ujar Rio. “Itu yang membuat aku berfikir kalo dia itu beda dari yang lain.Tapi aku masih penasaran deh yo, sama tuh cewek. Kayaknya sih dia bukan anak SMA sini. Tapi dimana ya? Kok jadi lupa gini gue” Yang tadinya tersenyum lebar dan kini ia mengerutkan keningnya bingung dan masih berfikir. “Ya udahlah Kka. Gue kasih saran aja ya, kalo cinta itu dikejar jangan di diemin gitu ntar nyesel baru tau loe” Kata Rio bijak. “Thanks bangets ya Yo, loe emang sahabat paling baik deh sedunia. Gak salah Ify pilih loe” Kata Cakka bangga dengan sahabatnya ini. “Yey, loe baru nyadar ya. Iya-iya gue ngaku kalo gue itu emang lebih baik dari loe, gue emang lebih keren, cakep dan semuanya deh dari loe” Ucap Rio lebay dan mendapat satu toyoran dari Cakka. “Kalo soal cakep,keren, baik, itu lebih kerenan, cakepan, baikan gue kali” setelah ngomong begitu Cakka langsung lari karna takut kena balasan dari Rio. “Eh awas ya Loe Kka” Teriak Rio dari kantin.
***
Semenjak saat itu Cakka dan Oik sering bertemu di bus. Hari ini Cakka tidak menaiki motornya kembali dengan alasan yang sama seperti tempo hari. Cakka kembali lagi naik bus. Ia kembali bertemu dengan Oik di dalam bus dengan urutan tempat duduk yang masih sama seperti kemarin. Yaitu urutan ke 13. Tapi kali ini sepertinya Cakka sudah akrab dengan Oik. Jadilah mereka bercerita-cerita dan tak jarang juga keduanya tertawa bersama. Sungguh perkembangan yang baik.
“Oik, kamu tau gak?” tanya Cakka. “Nggak tuh” jawa Oik menahan tawanya. “Ya ialah kamu gak tau dan gak bakal pernah tau. Orang aku aja belum ngomong. Makanya dengerin dulu” ujar Cakka geregetan karna gemas. “Emangnya apa Kka?” tanya Oik sok serius. “aku mau ngomong tapi kamu jangan marah! Janji!” Cakka mengulurkan kelingkingnya. “Ok janji. Cepetan dong bicaranya” Setelah Oik melingkarkan kelingkingnya pada Cakka. “Sebenarnya, sejak awal aku bertemu dengan kamu aku tuh sudah suka sama kamu. Kamu tuh cantik, imut, manis dan ternyata kamu tuh baik ya?” Oik hanya tersipu malu. “Kamu mau nggak jadi pacarku?” Lanjut Cakka. Sesaat kemudian Oik jadi diam dan pandangannya menerawang jauh ke arah jendela. “Oik, kamu kenapa? Kok ngalamun?” Ujar Cakka mengagetkan Oik. “Nggak apa-apa kok Kka. Maaf tapi aku nggak bisa jadi pacar kamu” Jawab Oik akhirnya dengan senyuman pahit. “Kenapa? Jujur, kamu juga suka kan sama aku?” Tanya Cakka berusaha meyakinkan Oik bahwa ia serius dengan perasaannya. “Emm, aku juga gak bisa bohong sama perasaanku.” Oik menghela nafas sejenak. “Kamu bakal tau ntar, kenapa aku nggak bisa jadi pacar kamu” “Ya tapi kenapa Ik? Beri aku alasan kenapa kamu ngomong gitu? Lebih baik kamu bilang sekarang alasan itu.” “Maaf, aku gak bisa kasih tau kamu.” Tiba-tiba saja bus itu berhenti. Oik pun turun dari bus itu dan kemudian disusul Cakka di belakangnya.
Setelahnya mereka turun dari bus, Bus itu pun segera melaju pergi meninggalkan keduanya yang masih betah dengan kebisuan itu. Cakka pun sadar saat Oik sudah tak ada di hadapannya lagi dan pergi meninggalkannya. “Oik tunggu! Biar aku antar kamu pulang ya” Oik menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Cakka. Oik hanya menggeleng dan tersenyum, kemudian ia melanjutkan jalannya kembali.
Karna penasaran dengan rumah Oik, karna kalo setiap ia menawarkan diri untuk mengantarkan gadis itu, pasti gadis itu akan menolaknya. Mungkin ini kesempatan buat dia mencari tahu tentang gadis itu.
Cakka terus mengikuti Oik dari belakang tanpa diketahui oleh Oik tentunya. Oik berbelok ke gang yang menurut Cakka cukup sempit dan terpencil. Setelah berbelok-belok, sampai juga.Terlihat Oik memasuki sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas, Cakka pikir itu adalah rumah Oik. “Jadi ini rumahmu.” Lirih Cakka dengan senyuman khasnya. Setelah ia yakin bahwa Oik benarr-benar sudah masuk ke dalam rumah itu. Ia pun pergi meninggalkan tempat itu.
***
Beberapa hari telah berlalu. Semenjak hari itu Cakka tak pernah menaiki bus lagi karna motornya sudah kembali. Cakka merasa seperti ada yang kurang dalam hari-harinya, ia rindu dengan senyuman itu, ia rindu dengan suara itu dan juga tatapan itu. Tatapan yang susah untuk diartikan.
Pulang sekolah Cakka bertekad untuk menemui Oik. Hal pertama yang dia lakukan yaitu dengan mendatangi rumah Oik. Tapi Cakka tak datang sendiri. Ia datang bersama Rio. “Kka, apa bener ini rumahnya Oik?” tanya Rio. Setelah mobilnya berhenti di halaman rumah yang terpencil itu. Walaupun jalannya sempit, tapi mobil masih bisa untuk masuk ke dalamnya. “Iya, bener kok ini rumahnya. Mending kita turun sekarang aja” Ajak Cakka. “Ok deh” mereka segera membuka pintu mobil dan berjalan mendekati rumah itu. ‘tok, tok, tok’ “permisi”. “Iya, sebentar” jawab orang dari dalam yang terdengar berat dan berjalan membuka pintu. “Kalian siapa ya?” tanya seorang wanita paruh baya dengan mata yang terlihat semab. Mungkin saja itu ibunya Oik. Pikir Cakka dan Rio. “Maaf tante, kami ini temannya Oik” Jawab Rio dengan nada sopan. “Oiknya ada tante?” kini giliran Cakka yang bertanya dengan nada yang tak kalah sopan seperti Rio. “Mau apa kalian? Oik tak pernah punya teman seperti kalian. Dan kalian kenal Oik darimana?” tanya wanita itu dengan nada yang berubah menjadi kasar. “Kami cuman mau tanya gimana keadaannya Oik tante. Emang sih kami bukan teman satu sekolahnya. Tapi teman saya yang kenal dengan Oik waktu ia naik bus.” Ujar Rio. “Iya tante. Saya bertemu dengan Oik di bus. Dan itu juga tak sengaja kami satu tempat duduk.” “Sejak kapan kalian bertemu dengan Oik.” Ujar wanita itu lagi. “Mah, ada apa sih? Kok ribut-ribut gini?” Muncullah seorang pria dari dalam rumah itu. Dia adalah papa Oik. Mama Oik masih saja menatap tajam Cakka dan Rio. “Maaf ya, kalian ini siapa? Ada keperluan apa kalian kemari?” Tanya pria itu ramah yang kini sedang merangkul wanita tadi. “Kami temannya Oik om” Jawab Rio. “oh, jadi kalian temannya Oik ya? Ya sudah masuk dulu yuk.” “Iya om.” Akhirnya mereka pun menceritakan tentang kedatangannya kemari kepada Papa dan Mama Oik.
Setelah kedua orang tua Oik terdiam cukup lama. “Sekarang Oiknya ada dimana om, tante?” tanya Cakka yang sudah penasaran. “mm... Oik.. Oik sudah meninggal nak.” Jawab papa Oik akhirnya. Setelah menghembuskan nafas berat akhirnya ia pun menceritakan hal yang sesungguhnya. “Oik meninggal karena kecelakaan. Kecelakaan tragis itu yang telah mengakibatkannya meninggal. Jadi, saat itu ..
#Flashback on
“Pak stop pak” perintah seorang gadis berbaju SMA ke seorang supir Bus yang ditumpanginya setelah sampai di dekat rumahnya. Akhirnya supir bus itu menghentikan lajunya. Gadis itu pun turun tak jauh dari bus dengan senyuman yang selalu mengembang di bibirnya. Bus itu pun segera melaju kemnbali. Tiba-tiba saja ia merasa bahwa ada yang menyeretnya. Setelah ia sadar ternyata tas selempangnya terjepit pada saat pintu bus tertutup tadi. “Pak, berhenti. Tolong!” Teriaknya dengan suara yang cukup keras dan ia terus berlari untuk mengimbangi bus itu. Namun naas sang sopir ataupun keneknya tak mendengar. “pak berhenti!!” kini gadis itu pun sudah mengeluarkan airmatanya. Dan parahnya lagi bus itu malah mencepatkan lanjunya, karna oleng dan gadis itu tak sadar apa yang ada di depannya. ‘Braakkkk’ Suara yang cukup keras, karna hantaman dari tiang listrik. ia terpental beberapa meter dari tempat itu. Kini seluruh badannya sudah berlumuran darah.
#FLASHBACK END
Waktu itu ada saksi mata yang melihat kecelakaan itu dan menceritakannya kepada om. Awalnya om tak percaya dengan kecelakaan tragis yang mengenai Oik anak om dan tante. Tapi kini om yakin, bahwa itu benar-benar Oik. Jadi kalian tak mungkin bertemu dengan Oik. Karna kejadian ini sudah setahun yang lalu. Dan kalian baru bertemunya kemarin. Rasanya tak mungkin.” Ujar Om Riko.  “Tapi om, saya beneran ketemu sama Oik di bus kemarin. Malah beberapa kali kami terlibat percakapan” Sanggah Cakka. “Mending kalian pulang saja! Kalau memang tak percaya” marah om Riko tiba-tiba dengan nada mengusir. “Baik om, kita pulang. Ayo Kka, kita pulang!” Ujar Rio seraya menarik Cakka untuk keluar dengan keadaan Cakka masih shock.
***
Di sudut sebuah kamar, terlihat seseorang sedang merenung. Ia nampak masih shock dengan berita itu, berita mengenai orang yang baru saja mengisi hatinya. ‘tok,tok,tok’ suara ketukan pintu kamarnya membuyarkan lamunannya. Dengan segera ia berdiri dan mendekati pintu untuk membukanya. “papa? Tumben pa, pulang jam segini?” Tanya Cakka bingung. “Iya sayang. Kebetulan tadi di rumah sakit banyak banget pasiennya, dan gak ada dokter ganti.”Papanya tersenyum. Papa Cakka adalah seorang Dokter bedah. “Pa, Cakka boleh tanya nggak?” Kini mereka sudah ada di dalam kamar Cakka. “Tanya apa Kka?” Papanya mengernyitkan dahi bingung. “setahun yang lalu, papa pernah nggak menangani pasien karna kasus korban kecelakaan lalu lintas gitu?” Tanya Cakka serius. “Emm,, tunggu bentar deh. Kayaknya sih pernah. Seorang gadis. Kecelakaan bus” Kata papa Cakka masih mengingat. “memangnya kenapa Kka? Tumben kamu tanya-tanya soal pasien papa?” “Ya, gak apa-apa sih pa. Cuman tanya aja. Namanya Oik bukan?” tanya Cakka antusias. “Gak tau, papa lupa. Tapi kayaknya papa masih nyimpan korannya deh. Papa ambilin dulu ya” Cakka hanya mengangguk.
            Dayat kembali memasuki kamar anaknya dengan membawa sebuah koran yang sudah lusuh di tangannya. “Ini Kka korannya” Dayat mengangsurkan koran itu Cakka. “Makasih pa”. Cakka membolak-balikan halaman demi halaman. Satu halaman yang membuatnya shock.
            ‘Kecelakaan Tragis yang mengakibatkan seorang mahasiswi SMA meninggal dunia. Gadis itu ditemukan meninggal dunia dengan keadaan yang mengenaskan. Namanya ‘Oik Amanda Putri’ Sang sopir bus di penjara selama 3 tahun.’


            Siang ini sepulang sekolah, Cakka pergi ke pemakaman Oik. Untuk sekedar berdo’a agar Oik tenang disana. Bulir-bulir airmatanya pun menetes. Di sampingnya terdapat temannya Rio yang juga masih menunduk.
            ‘Semoga kamu tenang disana ya Ik. Jangan bosan untuk menunggu aku disana ya?! J.’



END

Berakhir Dengan Bahagia -Cerpen CaIk-



Seorang gadis sedang bersimpuh di depan gundukan tanah. Air matanya terus mengalir. Satu persatu orang mulai meninggalkan tempat itu sambil menepuk pundak gadis itu untuk sekedar memberi ketabahan dan kekuatan. Seorang pemuda kini berada di sampingnya.
“Oik, kita pulang yuk” Ajak pemuda itu ia merangkul pundak gadis tadi. Namun gadis yang di panggil Oik itu hanya terdiam seakan tak mampu untuk melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Untuk sekedar bicarapun sulit.
“Nggak Kka. Aku masih mau disini. Kasihan bunda di dalam sana.” Ujar Oik dengan suara parau.
“Iya, aku ngerti. Tapi kamu kan masih punya Om Riko. Masih ada Acha dan Sivia sahabatmu dan. Aku” ujarnya meyakinkan.
“Kalo gitu kalian pulang dulu aja. Aku masih pingin disini nemenin bunda.” Seorang pria paruh baya datang menghampiri keduanya.
“Oik sayang kita pulang ya. Ayah nggak mau kamu gini. Tuh liat Cakka, Acha, sama Sivia. Kasihan mereka nungguin, lagian juga kalo bunda liat kamu gini, dia pasti sedih.” Ujarnya lembut.
Oik mengalihkan pandangan dari gundukan tanah yang bertuliskan ‘Zahra Dianara’.
“Baiklah Oik pulang” Ujar Oik akhirnya karna ia tak mau melihat orang yang ia sayangi sedih. Dan juga ia tak berani melawan ayahnya. Sebelumnya Oik berkata “Bunda, Oik pulang dulu ya. Hiks.. “ ujarnya masih sesenggukan. “Bunda hati-hati ya. Bunda jangan sedih, Oik bakal baik-baik kok disini. Selamat jalan bunda” Oik mengusap nisan bundanya dengan sayang, kemudian ia menciumnya singkat. “Oik pulang bunda. Ntar Oik kesini lagi kok” Sivia dan Acha ikutan sedih melihat sahabatnya, sesekali mereka meneteskan mata. Cakka hanya bisa memandang Oik dengan tatapan pilu, rasanya ia sangat ingin memeluk gadis itu. Sedangkan ayah Oik hanya bisa menangis dalam kebisuan. Beliau mulai melangkah duluan meninggalkan keempatnya, rasanya ia tak ingin hal ini terjadi. Melihat anaknya menangis menambah sesak dalam hatinya.
                Akhirnya mereka pun meninggalkan pemakaman itu dengan Oik berada dalam pelukan Cakka, di sebelah kanan mereka ada Acha dan Sivia yang ikut berjalan sambil mengusap punggung Oik.
***
                1 Bulan telah berlalu semenjak meninggalnya sang bunda. Sedikit-sedikit Oik mulai bisa menerima kenyataan. Walaupun hatinya masih belum rela dan memendam kesedihan itu. Tapi di depan teman-temannya dan Ayahnya ia berusaha untuk selalu menampilkan keceriaan yang dulu selalu ia miliki. Seolah-olah tak terjadi apa-apa.
                Setelah satu bulan disibukkan dengan pekerjaannya, tiba-tiba ayahnya mengajak Oik untuk dinner bersama Sabtu ini, seperti dulu sebelum bundanya meninggal. Katanya Ayah Riko ingin bercerita-cerita. Soalnya sudah lama mereka tak melakukan hal itu lagi.
                Saat ini Oik dan ayahnya sudah berada di salah satu restoran mewah yang ada di Kota Bandung.
“Ayah, ayah mau bicara apa? Katanya ada yang penting?”Tanya Oik membuka pembicaraan.
“Oik, bicaranya nanti dulu ya. Nunggu seseorang bentar.” Kata ayahnya dengan senyum.
Saat Oik sedang sibuk dengan minumannya, tiba-tiba saja
“Hai Riko” sapa seseorang.
‘mungkin itu yang ayah tunggu’ pikir Oik masih sibuk dengan minumannya.
“Hai Shilla, silahkan duduk” ajak ayah Oik.
“Baiklah, Udah nunggu lama ya?” tanyanya.
“Ah enggak, biasa aja.” Kemudian Ayah Riko berpaling kepada Oik. “Oh ya, Ik kenalin ini tante Shilla. Shilla ini Oik anakku”
“Oh jadi ini anakmu? Udah besar ya ternyata? Cantik lagi seperti bundanya.” Ujar Shilla.
“Hay tante, makasih.” Balas Oik senang.
Pembicaraanpun berlangsung cukup lama.
***
                Oik baru saja pulang dari sekolahnya dengan diantar Cakka menggunakan motor CBR yellownya.
“Makasih ya Kka” kata Oik setelah turun dari motor itu.
“Iya sama-sama. Em, ya udah sekarang kamu masuk gih” suruh Cakka lembut.
“Lho? Kamu nggak pulang?” tanya Oik bingung.
“Nanti aku pulang setelah mastiin kamu udah masuk rumah atau belum” cengirnya.
“Ih kamu bisa aja. Ya udah deh aku masuk dulu ya. Hati-hati di jalan”
“Sipp deh”
                Setelah Oik masuk ke rumahnya, Cakka segera melesatkan motornya pergi meninggalkan rumah Oik.
                Oik pun berjalan memasuki rumah. Seperti biasa di rumah hanya ada bibik dan dirinya. Jam segini Ayahnya pasti belum pulang. Namun saat Oik akan menaiki tangga menuju kamarnya ada orang yang menyapanya.
“Tadi di anter siapa Ik?” Tanya orang itu. Oik mengalihkan pandangannya ia mendapati ayahnya sedang duduk di ruang keluarga yang tempatnya berdekatan dengan tangga.
“Eh yah, udah pulang? Tumben banget.” Ia tak menjawab pertanyaan ayahnya malah balik bertanya.
“Iya ayah udah pulang kok, kamu ditanya malah balik tanya. Tadi Cakka ya?” tanya ayahnya jahil.
“Ih ayah, apa deh. Iya tadi emang Cakka yang anter Oik pulang. Kenapa?” Ujaar Oik cemberut mendapat ledekan dari ayahnya.
“Nggak kenapa-kenapa. Tapi kalo ayah liat, kalian cocok deh.”
“Mulai deh. ah udah ah jangan bahas itu. Oik malu tau”
“Eh nggak percaya. Kayaknya Cakka tuh suka sama kamu. Kamu juga suka kan sama dia? Hayooo”
“Ih ayah udah. Oik ngambek nih” Bibirnya udah makin maju.
“Iya deh iya, ih kamu jelek tau kayak gitu. Hahaha...” tawa ayahnya meledak. “Ik, ayah mau tanya serius nih sama kamu” Ujar ayahnya yang udah berhenti tertawa dan wajahnya berubah serius.
Oik pun duduk di sebelah ayahnya.
“Tanya apa yah?” tanyanya bingung.
“Em, kalo kamu punya bunda baru setuju nggak?” tanyanya lagi yang membuat Oik cengo.
‘Bunda baru? Ok deh, mungkin ini jalan yang baik untuk membuat ayah bahagia lagi dengan bunda baru tentunya’ bati Oik dan tersenyum.
“Emangnya bunda barunya siapa yah?” tanya Oik penasaran.
“Tante Shilla” jawabnya singkat. “Tapi ya kalo kamu nggak mau juga nggak apa-apa kok. Ayah ngerti”
“Oik sih setuju-setuju aja, asalkan ayah bahagia dengan tante Shilla. Lagian juga kalo diliat-liat dia baik baik, cantik, apa lagi ya? Tapi itu terserah ayah juga. dan pastinya harus minta ijin dulu sama bunda zahra Ok ;)”
“Makasih Oik, kamu anak ayah yang paling baik deh, paling cantik, paling segalanya. Ayah janji ayah nggak bakal ngelupain kamu sama bunda Zahra.” Sangking senengnya Ayah Riko memeluk Oik erat.
“Ayah, emangnya anak ayah siapa lagi?” tanya Oik bingung.
“E... enggak ada. Hehehe” cengirnya.
“Ya iyalah Oik paling cantik, baik, dan segalanya orang anak ayah cuman Oik doang”
***
                Beberapa bulan telah berlalu semenjak pernikahan Shilla dan Riko. Dan selama itu pula Shilla sangat baik kepada Oik. Bahkan ia mengajak Oik Shopping bareng, makan bareng. Selama itu pula ia merasa sangat senang. Bundanya seperti kembali lagi.
                Namun pada suatu hari saat Ayah Riko pergi untuk mengurus proyeknya yang berada di Kalimantan, tante Shilla yang notabennya ‘bunda baru’ Oik tiba-tiba saja sikapnya berubah total nggak seperti biasanya. Ia cepat marah, dan terkadang pekerjaan rumah Oik disuruhnya untuk membersihkan. Padahal sudah ada Bibi yang mengurusnya. Apa ini tanda-tanda peran ibu tiri untuk menyiksa anak tirinya akan segera dimulai? Entahlah.

Hari ini semua murid di SMU Antariksa tempat Oik dan kawan-kawan bersekolah dipulangkan lebih awal. Saat Oik, Acha dan Sivia sedang berjalan di koridor, tiba-tiba saja ada beberapa anak yang menghampirinya.
“Hay Ik, kita pulang bareng yuk?” ajak cowok itu yang tak lain adalah Cakka.
“Em, tapi aku sama Acha sama Sivia” ujar Oik sambil melihat Acha dan Sivia bergantian.
“Udahlah Ik kita nggak apa-apa kok.” Ujar Sivia berusaha mengerti.
“Iya, mending loe balik aja sama Cakka. Tenang aja Acha balik bareng gue kok” Kata salah satu cowok diantara kedua teman Cakka. Dia Ozy yang segera pindah tempat untuk merangkul Acha.
“Dan Via sama gue” ujar cowok satunya lagi Gabriel.
“Iya Ik, kita nggak apa-apa kok. Kasihan tuh Cakka udah nunggu lama” Ujar Acha.
“Ya udah deh. Yuk Kka pulang” Kata Oik akhirnya.
Cakka dan Oik pun meninggalkan ke empat temannya.
Saat di parkiran,
“Ik, jalan-jalan bentar yuk.” Ajak Cakka
“Tapi Kka, aku nggak bisa” Jawab Oik merasa bersalah.
“Lho kenapa? Dulu juga kita sering jalan.” Tanya Cakka bingung, merasa aneh dengan sikap Oik akhir-akhir ini. Walaupun mereka semua udah tau kalo Cakka suka sama Oik semenjak Cakka belum putus dengan Nadya beberapa bulan yang lalu. Sampai saat ini walaupun ia telah putus dengan Nadya, namun rasanya belum berani untuk ia nyatakan cinta ke Oik secara langsung.
“Iya sih. Tapi aku harus bantu-bantu bunda Shilla di rumah.”
“Bukannya di rumahmu udah ada bibi?” Tanya Cakka semakin bingun. “Ayolah Ik sekali ini saja” mohon Cakka sangat. Oik jadi tak tega sendiri melihat Cakka memelas gitu.
“Iya deh. Ya udah yuk pergi sekarang. Tapi ntar pulangnya jangan kesorean ya”
“Sipp bos. Yuk naik”
                Setelah itu mereka melesat dengan motor CBR Cakka. Oik memeluk pinggang Cakka erat, karna ia taku jatuh. Habisnya Cakka kalo naik motor kenceng banget. Jadi ngeri sendiri.
                Cakka mengajak Oik ke suatu tempat yang sengat indah. Sebuah danau yang airnya masih terlihat jernih tanpa sampah atau limbah sekalipun. Disana ada perahu, Cakka mengajak Oik menaiki perahu itu.
“Ik, kita naik perahu yuk.” Ajak Cakka sambil berlari menggandeng tangan oik.
‘Deg’
Entah perasaan apa yang kini singgah di hati Oik, seakan semua masalahnya lenyap seketika.
“Aku takut kalo jatuh Kka” Ujar Oik setelah mereka berdua telah sampai di situ. Tempat dimana perahu berada.
“Udah nggak apa-apa. Ada aku kok yang slalu ada buat kamu. Kamu nggak bakal jatuh deh.” Kata Cakka meyakinkan.
Oik hanya mengangguk dan tersenyum.
                Setelah mereka menaiki perahu, perahupun mulai didayung Cakka agar berjalan. Oik menikmati udara luar yang udah lama ia tak hirup. Sudah lama ia tak melakukan ini, Ia jadi ingat dengan bundanya.
“Oik, gimana kamu suka nggak?” Tanya Cakka yang daritadi memperhatikan Oik.
“Suka, suka banget malah. Aku jadi kangen nih sama bunda. Apa kabarnya bunda disana ya?” tanya Oik, seperti kepada dirinya sendiri. Cakka yang melihatnya pun menghibur Oik.
“Syukur deh kalo kamu suka tempatnya. Udah dong, jangan sedih lagi ya. Tante Zahra pasti bahagia kok disana asalkan kamu tersenyum.” Senyum Cakka. “Oh iya Ik, sebenernya aku mau bilang kalo aku...” Ucapnya menggantung.
“kamu mau ngomong apa kka?” tanya Oik bingung.
“Aku suka Ik sama kamu. Aku cinta sama kamu. Kamu bisakan liat itu semua dari mataku?” Ujarnya.
                Oik kini diam, tak percaya dengan pernyataan Cakka barusan. Ia deg-degan, ia grogi, ia salting di tatap Cakka seperti itu.
Cakka memegang dagu Oik dan mengangkatnya agar bisa menatap mata Oik.“Tatap mataku Ik” mohonnya. “Apakah kamu mau jadi gadisku?” tanya Cakka lembut.
Oik menolehkan wajahnya agar matanya tak bertatapan dengan Cakka.“Tapi Kka..”
“Kamu nggak percaya Ik?” tanya Cakka kecewa.
“Bukan gitu Kka, aku percaya kok. Tapi aku...”
“Kamu kenapa Ik? Apa udah ada orang lain di hatimu sekarang?” Tanyanya lesu.
“Nggak kok. Kasih aku waktu Kka buat jawab pertanyaan kamu” Kata Oik akhirnya.
“Ya udah, sampai kapan pun aku akan menunggumu Ik. Aku nggak akan memaksa kok” Cakka tersenyum. Oik pun mebalasnya senyum.
                Tak terasa langit sudah berubah warna menjadi jingga. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Oik yang baru menyadarinya akhirnya meminta Cakka untuk mengantarkannya pulang. Ia takut bila nanti sampai di rumah. Mereka pun meninggalkan danau itu dan melesat menuju rumah Oik.

                Oik turun dari motor Cakka di depan sebuah rumah megah, ia menyerahkan helm yang tadi ia pakai.
“Sekali lagi makasih ya Kka, untuk hari ini.” Ujar Oik.
“Iya sama-sama, kamu nggak usah lebay gitu deh.” Cakka mengacak rambut Oik.
“ehhehehe... ya udah deh aku masuk dulu.”
“Iya. Aku pulang dulu.” Tanpa disangka Cakka pinggang Oik mendekat ke arahnya, ternyata ia mengecup kening Oik.
                Setelahnya Cakka pergi, ia pun masuk ke dalam rumah dengan senyum-senyum sendiri.
“Enak  ya, anak SMU balik hampir Maghrib. Di antar pacar, dicium lagi” Suara pedas Bunda Shilla membuatnya berhenti dan menunduk.
“Tadi bukan pacar Oik kok bun. Tadi itu ada pelajaran tambahan” Kata Oik, ia terpaksa berbohong agar Bunda Shilla tak marah. Namun perkiraannya salah.
“Enggak usah panggil-panggil bunda deh” Ketusnya. “Sejak kapan aku ngelahirin kamu hah? Sekarang bunda tersayangmu itu udah mati. Sebentar lagi ayahmu akan jatuh ke tanganku” Mendengar itu Oik langsung mendongak kaget,
“Tan..tante mau apakan ayah? Ayah nggak salah apa-apa tante. Udah cukup Oik saja” tak terasa airmatanya jatuh membasahi pipinya.
“kamu gak perlu tahu apa yang akan saya lakukan kepada kalian. Permainan baru saja kita mulai Oik sayang” ujarnya dengan senyum sinis. “Sekarang mending kamu bersihin seluruh rumah ini! Besok kamu cuci semua baju-baju kotor, pembantu pulang kampung. Kamu kerjain semuanya sendiri! Halaman depan sama belakang juga, jangan lupa kolam renang di kuras.” Ujarnya, saat mau meninggalkan Oik, ia behenti sejenak. “Oh ya, awas aja kalo kamu sampe berani bilang sama semua orang tentang hal ini terutama sama ayah tercintamu itu”
                Oik tak bisa menolak ataupun membantahnya. Bukannya ia takut sama Ibu tirinya, tapi ia tak mau terjadi apa-apa dengan ayahnya.
                Setelah mandi Oik langsung mengerjakan pekerjaannya. Ia ingin semua selesai dengan cepat. Lagian ini juga bukan yang pertama kalinya Ibu tirinya itu menyuruhnya buat mengerjakan urusan rumah tangga ini. Oik memulainya dari menyapu rumah.
                Tak terasa hari sudah larut, bersamaan dengan itu ia telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Tak ada pikiran buat makan malam, Ia langsung merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Rasanya ia ingin kabur, atau apalah gitu agar bisa bebas dari penderitaan ini. Syukur-syukur ayahnya bisa pulang secepatnya.
                Oik mengambil Sebuah album foto berukuran besar berwarna biru tua yang terletak di atas pianonya. Ia mulai membuka satu persatu lembaran foto itu, ia mulai mengingat-ingat kejadian-demi kejadian. Disana ada foto bundanya. Bunda saat menggendongnya waktu kecil, saat bermain boneka.
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Reff
Kata, mereka diriku selalu dimanja
Kata, mereka diriku selalu ditimang

Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Back to Reef
*Oh.. bunda ada dan tiada dirimu
Kan selalu ada di dalam hidupku

                Oik mengakhiri lagu itu denga air mata yang kini sudah membentuk anak sungai di kedua pipinya. Bersamaan dengan itu pula ia sampai di halaman terakhir album foto itu.
“Bunda, Oik kangen sama bunda. Bunda apa kabarnya disana? Bunda jangan hukum bunda Shilla ya, ini semua bukan salah dia. Ini salah Oik. Salah Oik yang nggak patuh sama perintahnya, maafkan Oik Bunda, maafkan Oik Allah. Do’akan Oik bunda, biar Oik sabar dan kuat untuk menghadapi bunda Shilla. Bunda juga jangan marah ya sama ayah, ini bukan salah ayah kok.” Kata Oik dengan senyuman tulusnya, ia terus memandangi foto bundanya di sebuah figura, lalu ia menciumnya sangat lembut dan dalam. Seakan yang ada di dalam foto itu nyata.
***
                Pagi ini terlihat agak mendung, Oik bangun. Badannya terasa sakit semua. Tapi apapun yang terjadi ia harus tetep sekolah. Saat ia hendak bangun, ia mendengar seseorang sedang berbicara di bawah.

Di tempat lain,
‘tok,tok,tok’
Seseorang membuka pintu. Seorang wanita paruh baya keluar.
“Siapa?” tanyanya.
“Em, Oiknya ada tante?” tanya orang itu yang tak lain adalah Cakka.
“Oik gak tau kemana” ujarnya ketus.
“Tante tau Oik kemana?” Tanya Cakka lagi.
“Ngapain sihnyari dia? Mending sekarang juga kamu pergi! Kecil-kecil udah berani pacaran” ketusnya.
“Tapi tante..”
“Sana pergi. Sekali lahi saya katakan, Oik nggak ada disini. Udah mati bareng ibunya kali” Kata wanita itu masa bodoh.
“Tante jangan bilang gitu ya, bagaimanapun dia juga anak tante walaupun tiri.” Cakka kini malah balik marah kepadanya.-waktu di danau, Oik bercerita tentang ibu tirinya-
“Udah berani kamu sama orangtua? Pergi sana!” usirnya, kini sambil mendorong-dorong Cakka agar menjauh dari rumahnya. Tak lupa ia gembok pintu gerbang agar Cakka tak lagi bisa masuk.
                Setelah Shilla masuk ke dalam rumah, Cakka melesat pergi dengan motornya. Di dalam otaknya hanya memikirkan gimana keadaan Oik, dimana ia sekarang.

                Acha dan Sivia menunggu Oik di dalam kelas, tak biasanya Oik datang terlambat. Itu pun kalo Oik berangkat. Kedatngan Cakka ke kelasnya, Acha dan Sivia menyambutnya dengan berbagai pertanyaan.
“Lho, Oiknya mana Kka? Bukannya kamu jemput Oik ya?” Tanya Acha bingung.
“Iya Kka, kok Oiknya nggak bareng kamu sih?” kini giliran Sivia yg berkata.
“Nah itu masalahnya kenapa gue kemari. Gue mau nanya ma kalian, Oik kemana?” Tanya Cakka.
“Kok nanya ke kita. Dari tadi Oik belum berangkat, dikira kita ya Oik sama kamu gitu” jawab Acha.
“emang sih tadi gue ke rumah Oik, niatnya mau ngejemput. Tapi yang keluar mama tirinya. Gue nanya Oik kemana, eh dia malah bilang Oik nggak ada di rumah. Aku tanya kalian, mungkin saja kalian tau kemana Oik. Kalian kan sahabatnya”
“Kita gak tau Oik kemana supah deh, duh kemana ya Oik?” Jawab plus tanya Sivia khawatir.
“Ya udah mending ntar pulang sekolah kita cari bareng-bareng.
***
2 hari telah berlalu
                Dengan keadaannya yang kurang enak badan, Oik masih harus mengerjakan tugasnya. Otomatis ia terpaksa membolos.  Tadi sebelum Shilla pergi, ia telah mewanti-wanti Oik agar tidak menerima sembarang tamu, terutama teman-temannya dan juga Cakka.
                Hari sudah mulai siang, Oik sedang menyirami tanaman di halaman depan. Terdengar suara deru motor berhenti di depan gerbang. Oik mendekatinya, ia kaget ternyata yang datang adalah Cakka. Ia bingung harus ngomong apa. Oik berusaha menghindar dari Cakka. Ia meninggalkan selang yang masih memancarkan air,
“Oik tunggu” teriak Cakka.
Oik hanya bisa menghentikan langkahnya, dan ia hanya diam mematung.
“Selama ini kamu kemana sih Ik? Kita tuh khawatir nyariin kamu, kamu gak berangkat tanpa ketearangan lagi. Seenggaknya kamu telfon Via atau Acha kek. Mereka tuh kelimpungan nyari kamu.” Nadanya seperti menandakan bahwa ia marah, khawatir, dengan keadaan Oik. Cakka berusaha membuka gerbang, dan berhasil. Ternyata gerbangnya tidak di gembok. Cakka berlari menuju ke arah Oik. Ia memeluknya sangat erat.
“Oik, kamu tau gak sih? Selama ini aku gak konsen belajar, gara-gara aku khawatir dengan keadaanmu. Kamu janji kan nggak kayak gini lagi?” Tanyanya meyakinkan Oik.
“Kka, lepasin. Aku mohon Kka.” Oik masih tetep nggak berbalik, ia pun berusaha untuk melepaskan tangan Cakka dari pinggangnya.
“Aku nggak mau lepasin kamu lagi. Sebelum kamu janji nggak kayak gini lagi, nggak ngehindar lagi dari aku.”
Kini Oik berhasil melepaskan tangan Cakka dari pinggangnya. Dan berbalik menatap Cakka tajam, “Aku nggak bisa janji sama kamu. Oh ya, yang buat di danau itu aku udah mutusin”
“Bener Ik? Jadi kamu mau jadi pacarku” Tanya Cakka berbinar.
“Maaf, aku nggak bisa terima kamu. Aku nggak cinta sama kamu. Lebih baik sekarang kamu pulang dan jangan peduliin aku lagi. Aku mohon Kka” Ujar Oik, semua itu salah besar. Padahal ia sangat berharap untuk mengatakan ‘aku mau jadi pacar kamu Kka, aku cinta sama kamu’. Namun rasanya susah, apalagi Ada tante Shilla yang jelas-jelas mewanti-wanti agar tidak berhubungan dengan Cakka.
“Oik tatap mataku Ik, kamu nggak serius kan buat ngomong gitu? Aku yakin kamu pasti punya rasa yang sama denganku. Benerkan Ik?” Tanya Cakka berusaha meyakinkan Oik lagi.
“hhhh... itu semua salah. Yang aku omongin tadi benar.”
‘itu semua benar Kka, yang kamu omongin itu benar. aku sangat cinta sama kamu’ batinnya.
“Tapi Ik,..”
“mending kamu pulang deh Kka, sebelum bunda datang” kata Oik datar. Ia melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun Cakka lebih dulu mencekal tangannya. Cakka heran dengan warna biru ke hijau-hijauan yang ada di lengan Oik. Dan juga warna merah di pipi sebelah kirinya.
“Ik, ini tangan kamu kenapa? Pipi kamu juga. Cerita ke aku Ik, siapa yang ngelakuin ini semua?” tanya Cakka khawatir sambil memegang luka yang ada di tangan Oik dan juga pipi Oik.
“Oh itu nggak kenapa-kenapa kok. Tenang aja, ini di pipi gara-gara di gigit nyamuk terus aku kukur deh. nah, kalo yang di tangan gara-gara aku kurang berhati-hati, natap pintu deh. bener kok” Ujar Oik, kini ia mulai tersenyum.
“Serius? Tapi ini kayak bekas tamparan tangan deh.” Tanya Cakka menyelidik.
“Bener. Ya udah mending kamu pulang sekarang aja deh, bentar lagi bunda pulang”
“Ya udah aku pulang. Kamu hati-hati ya, kalo ada apa-apa bilang ke aku.”
“Sipp”
Cakka pun meninggalkan rumah Oik.
“Fiuh.. hampir aja” Kata Oik sambil melihat lengannya yang terasa nyeri kena pukulan dari ibu tirinya.
***
                Hari-hari dilalui Oik seperti biasa, ayahnya belum pulang juga.  Shilla mengajaknya pergi entah kemana.
                Kata Shilla untuk beberapa bulan mereka akan tinggal di rumah yang udah di beli Shilla mungkin. Apa rencananya udah berhasil?
“Ini rumah siapa tante?” Tanya Oik bingung.
“Udah deh kamu diem aja! Masih mending aku ajak tinggal kamu disini. Bentar lagi Ayahmu itu akan bangkrut. Jadi mulai sekarang berterima kasihlah kepadaku” Jawabnya enteng.
“Nggak mungkin. Ayah nggak pernah korupsi, terus sekarang Ayah kemana?” tanya Oik.
“Tau” jawabnya singkat.

Di tempat lain,
                Sebuah mobil berhenti di depan rumah mewah. Kaca mobil mulai diturunkan. Ia melihat tulisan yang tertulis di depan gerbang. ‘DI JUAL. HARAP HUBUNGI NO. 081987xxxxx’. Orang yang ada di dalam mobil itu menggeram kesal.
“Apa-apaan ini? Sion, antar saya ke Kantor cepetan”
“Baik pak Riko.”
                Mobil itu pun meninggalkan rumah besar itu.menuju ke kantor yang Riko maksud. Sesampainya di kantor ia pun langsung marah-marah kepada semua karyawannya yang kini terlihat sedang duduk-duduk santai tanpa melakukan aktivitas.
“Apa-apaan ini? Keanapa kalian nggak kerja? Cepetan kerja!” marah Riko.
Seseorang datang menghampirinya. “Maaf Pak Riko, perusahaan kita terancam bangkrut. Kami semua bingung apabila nanti kami semua akan di PHK.”
“Kok bisa?” marahnya ke orang tadi.
“Pak, mari kita keruangan saya. Saya mau ngasih laporan keuangan selama bapak tidak ada.” Riko pun mengikuti pegawai tadi menuju ke sebuah ruangan.
“Pak ini laporan keuangan selama beberapa bulan lalu dan sekarang.” Orang tadi menunjukkanlaporan keuangan perusahaan itu.
“Shit, gila ini gila Alvin!” makinya. “Ini kenapa keluaran lebih banyak daripada pemasukan? Ini apa lagi, bulan Juni keluaran samapi mencapai 1 M itu giamana? Kalian apakan aja uang itu.”
“Maaf pak, ini semua atas permintaan Bu Shilla. Itu semua juga atas izin bapak”
“Alvinnn, kamu saya percayai untuk mengurus keuangan, tadinya kamu jangan terima permintaan Shilla gitu aja dong sebelum saya bilang sendiri ke kamu.”
“Tapi disini ada tanda tangan bapak” Alvin mengeluarkan semua cek..
“Ya sudah, kita urus bareng-bareng masalah ini. Saya yakin ini bisa di atasi. Tolong bantu saya Alvin. Sekarang kamu tahu keberadaan Shilla dimana?” tanya Riko.
“saya tidak tahu Pak. Tapi kayaknya Bu Shilla ke daerah Yogya.”
“Terus dia bawa Oik anakku?” Riko Shock mendengarnya.
***
                Seluruh polisi telah berpatroli ke kota Yogya untuk mencari keberadaan Shilla dan Oik berada.
Riko dari tadi berkutat dengan hp’a. Seperti sibuk menelpon seseorang namun tak kunjung ada jawaban dari seberang.
“Halo Cakka, kamu bisa bantu om buat cari Oik?” tanya Riko.
“Iya om, Cakka bisa. Sudah dari kemarin Cakka mencari Oik. Sekarang om dimana?” tanya Cakka.
“Saya di daerah kota Yogakarta.”
“Baik om, Cakka sama temen-temen segera kesana”
Tutt, sambungan putus.


                Cakka yang baru saja mematikan sambungan telpone dari om Riko, ia segera menghubungi Ozy, Gabriel, Sivia juga Acha buat nyari Oik bareng-bareng.
Cakka dan rombongan pun telah meluncur menuju ke Kota Yogyakarta. Ia sangat khawatir sekali dengan keadaan Oik.
“Kka, mending loe diem dulu deh. ini aku masih nyetir, Ntar kalo nabrak gimana” ujar Gabriel yang ada di samping Cakka.
“Gimana gue bisa diem?”
“Sabar Kka” Ujar Ozy.

***
                Shilla kaget dengan mobil-mobil yang kini berjejer di depan rumahnya. Ia menyuruh Oik untuk tetap berada di dalam kamarnya.
“SHILLA... KELUAR KAMU!” Teriak orang dari luar sambil gedor-gedor pintu. Namun Shilla tak juga keluar,
                ‘BRAKKKK’ pintu di dobrak secara paksa. Semua polisi segera memeriksa semua ruangan yang ada di situ.
                Sedangkan Riko mengetuk pintu kamar. “Oik, Oik sayang kamu di dalam nak?” tanyanya khawatir. Namun tak ada suara.
‘BRAKK’ lagi-lagi ia mendobrak pintu secara paksa. Ia bener-bener kaget dengan pemandangan yang ada dalam.
“SHILLA LEPASIN OIK!”
“Aku nggak akan lepasin dia sebelum kamu menyerahkan semua aset kekayaan yang kamu punya.” Tantangnya kini tangan kirinya memegang tangan Oik ke belakang, dan tangan kanannya memegang pisau ke arah leher Oik.
“Ayah, tolong yah kasih aset itu.”
“Enggak Oik, kamu bisa selamat tanpa ayah melepaskan aset ayah.”
“Oh jadi kamu lebih memilih anakmu mati? Manusia bodoh!” umpat Shilla kesal. Ia juga sebenarnya tak tega memperlakukan Oik gini.
“Ayah tolong oik yah, kasih aset itu”
Karna Riko masih kekeh juga, tiba-tiba saja Saat ia mau menusuk Riko,
‘JLEBBB’
Keadaan hening. Mereka semua shock Shilla juga.
“CAKKKKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” teriak Oik.
“Cakka?” Riko kaget ternyata yang kena pisau Shilla bukan Oik juga bukan dirinya namun Cakka. Cakka telah menolongnya.
“Cakka kamu nggak apa-apa?” Oik langsung menghambur ke arah Cakka.
“Aku.. nggak.. ke..napa..ke..napa Ik” ucapnya terbata-bata. Masih sempatnya ia tersenyum.
“Angkat tangan saudari Shilla” Sang polisi baru datang dan segera menangkap Shilla.
“Sekarang juga bawa Cakka ke rumah sakit” Ujar Riko.ayah Oik.
Gabriel dan Ozy pun segera membopong Cakka, sebelum ia kehabisan darah.

***
                Di sebuah ruangan di salah satu rumah sakit. Seseorang duduk di kursi samping Tempat tidur.
“Cakka, bangun Kka. Aku mohon bangun. Kamu gak kasihan apa sama aku? Aku sangat mencintaimu Kka. Aku mau kok jadi pacar kamu” kata sang gadis, yang tak lain Oik.
“Oik, kamu nggak tidur sayang.” Sapa seseorang.
“belum ngantuk” jawabnya datar.
“Oik maafkan Ayah, ayah tau ayah salah. Seandainya saja ayah mau ngasih aset itu, pasti sekarang kita nggak akan ada yang terluka.” Sesal Riko.
“Udah terlambat Yah” Jawabnya dingin. Sedangkan Sivia, Acha, Ozy dan Gabriel sudah terlelap di sofa yang ada di ruangan itu.
“Maafkan Ayah”
                Tiba-tiba saja ada yang bergerak di genggaman Oik. Ternyata itu yang bergerak tangan Cakka.
“Kka, kamu sadar?” tanyanya setengah nggak percaya namu ia mulai bahagia.
Perlahan mata Cakka terbuka. “Aku dimana Ik?” tanyanya dengan suara lirih.
“Kamu di rumah sakit, aku panggilin dokter ya”
“Enggak usah Ik.” Cakka kini beralih ke samping oik. “Om Riko? Om nggak kenapa-kenapa kan?” Tanyanya khawatir.
“Om nggak apa-apa Kok kka, seharusnya om yang nanya ke kamu. Gimana kamu?” beliau tersenyum. “Maafkan om ya Kka, ini gara-gara om.”
“Ini bukan salah om Riko kok, anggap saja ini kecelakaan. Oik, kamu marah dengan om Riko?” tanya Cakka. Namun Oik hanya diam. “Ik, tolong ya kamu jangan marah sama om Riko, beliau berusaha mati-matian buat nyari kamu. Kamu nggak kasihan?” tanya Cakka.
“Iya, Oik juga minta maaf yah” sesal Oik.
“Nggak apa-apa kok Ik, ayah juga minta maaf nggak bisa kasih ibu yang baik buat kamu. Ayah merasa bersalah sama bunda kamu”
“Oik sayang ayah, ayah jangan tinggalin Oik lagi ya” Kini Oik memeluk ayahnya.
“Iya, ayah janji nggak akan ninggalin kamu” Riko mengusap dengan lembut punggung Oik.
“Ekhm, ya sudah ayah tidur dulu ya. Kalian ngobrol dulu aja. Hehehe” ujarnya jahil.
Setelah Ayahnya pergi, kini hanya kebisuan yang menemani mereka.
“Oik, apa kamu masih mau untuk merubah pendirian kamu?” tanya Cakka hati-hati. Oik menunduk malu. Ia mengangguk pelan. “Beneran Ik? Thanks banget ya” Ujar Cakka kegirangan “Auh...” rintihnya.
“Aduh Kka kamu kenapa? Sakit ya? Makanya jangan keterusan, masih sakit juga” omel Oik khawatir.
“Habisnya kelewat seneng sih, jadi kamu mau kan jadi pacarku?”
“Iya Cakka Nuraga. Harus berapa kali aku bilang hmm” geram Oik gemas.
“Hehehe... Love you Ik”
“Love you to Kka”

_TAMAT_

Template by:
Free Blog Templates